Komparatif.ID, Jakarta— PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai menyiapkan pengembangan jaringan rel kereta api yang menghubungkan ujung utara hingga selatan Pulau Sumatra, dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.
Sebagai langkah awal, KAI memprioritaskan pengembangan koridor Banda Aceh–Besitang yang akan menjadi penghubung utama antara Aceh dan Sumatra Utara. Koridor tersebut memiliki panjang sekitar 478 kilometer dan menjadi proyek prioritas dalam tahap awal pengembangan Trans Sumatra.
Ruas yang akan dikembangkan meliputi lintas Banda Aceh–Sigli sepanjang 80 kilometer, Sigli–Bireuen–Lhokseumawe sepanjang 150 kilometer, serta Lhokseumawe–Langsa–Besitang sepanjang 248 kilometer.
Rencana tersebut menjadi bagian dari agenda strategis nasional untuk memperkuat konektivitas antarwilayah serta mendukung mobilitas penumpang dan distribusi logistik di Pulau Sumatra.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan pengembangan jaringan rel lintas Sumatra merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar sistem transportasi perkeretaapian di Sumatra dapat terintegrasi secara menyeluruh.
Menurut Bobby, kondisi jaringan kereta api di Sumatra saat ini masih terpisah-pisah dan belum membentuk satu koridor yang saling terhubung. Sejumlah jalur yang telah beroperasi hanya melayani wilayah tertentu sehingga konektivitas antarkota dan antarprovinsi belum berjalan maksimal.
“Berdasarkan arahan dari Pak Presiden, itu untuk melakukan pengembangan jaringan di Pulau Sumatra, yaitu bagaimana kita menghubungkan antara Banda Aceh dengan Bandar Lampung,” ujar Bobby dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta Pusat, Rabu (3/6/2026).
Baca juga: Kereta Api Bawah Air Pertama India: Ide 1 Abad Akhirnya Terwujud
Ia menjelaskan jalur kereta api yang ada saat ini masih bersifat terfragmentasi. Beberapa lintas beroperasi di wilayah Sumatra Selatan, Lampung, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, namun belum terhubung menjadi satu jaringan yang berkesinambungan.
Saat ini, KAI tengah menyusun Detail Engineering Design (DED) sebagai dasar teknis sebelum memasuki tahap konstruksi. Penyusunan DED menjadi bagian dari tahapan awal yang masuk dalam peta jalan transformasi KAI periode 2026–2030.
Di sisi lain, pemerintah juga merancang pembangunan jalur baru sepanjang 1.110 kilometer yang telah masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS).
Pembangunan tersebut diharapkan dapat mempercepat terwujudnya jaringan Trans Sumatra yang menghubungkan wilayah utara hingga selatan pulau secara berkesinambungan.
Untuk merealisasikan proyek tersebut, kebutuhan investasi diperkirakan mencapai 20 miliar hingga 25 miliar dollar AS. Dengan kurs Rp17.900 per dollar AS per 3 Juni 2026, nilai investasi tersebut setara sekitar Rp358 triliun hingga Rp448 triliun.
“Kalau totalnya itu Sumatra bisa sekitar 20 miliar dollar AS, sampai dengan 25 miliar dollar AS,” kata Bobby.













