Komparatif.ID, Kualasimpang— Disdik Aceh bersama seluruh pihak terkait terus mempercepat proses pembersihan dan pemulihan sekolah-sekolah yang terdampak bencana banjir dan longsor, termasuk SLB Negeri Pembina Kualasimpang, agar kegiatan belajar mengajar dapat kembali berjalan secara maksimal.
Plt Kadisdik Aceh, Murthalamuddin, mengatakan kondisi SLB Negeri Pembina Kualasimpang hingga saat ini masih berlumpur dan tergenang air. Hal itu disebabkan posisi sekolah yang lebih rendah dibandingkan badan jalan di sekitarnya.
“Saat ini kondisi di SLB Negeri Pembina Kualasimpang masih berlumpur dan tergenang air karena posisinya berada lebih rendah dari jalan,” ungkapnya di Banda Aceh, Minggu (10/1/2026).
Ia menjelaskan proses pembersihan terus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak. Alat berat telah dikerahkan untuk mengangkat dan membersihkan lumpur sisa banjir bandang yang menimbun halaman depan sekolah serta sejumlah ruang kelas.
Selain itu, tim relawan juga akan dilibatkan untuk membantu mempercepat proses pembersihan di lingkungan sekolah.
Menurut Murthalamuddin, percepatan pemulihan SLB Negeri Pembina Kualasimpang menjadi perhatian khusus karena sekolah tersebut melayani anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan kenyamanan dan perlakuan berbeda dibandingkan sekolah umum lainnya.
Baca juga: Tito: Dana TKD Aceh Tidak Dipotong
Ia menambahkan, alat berat juga dikerahkan ke sekolah-sekolah lain yang membutuhkan penanganan ekstra akibat lumpur tebal yang menutup perkarangan sekolah serta akses jalan menuju sekolah. Upaya ini dilakukan agar mobilitas siswa dan guru tidak lagi terganggu.
Murthalamuddin menyebutkan posko penanganan banjir Aceh telah membuat kolam penampung untuk mengalirkan air yang masih mengenangi area SLB Negeri Pembina Kualasimpang.
Namun, saat hujan turun, air masih kembali menggenangi sekolah karena kondisi lingkungan sekitar yang masih tertimbun material banjir. Untuk itu, pihaknya berencana menambah kolam penampung dan terus mencari solusi agar genangan tidak kembali terjadi.
“Saat hujan air kembali mengenangi sekolah karena sekeliling sekolah masih tertimbun. Kita juga akan menambah kolam dan terus mencarikan solusi agar saat hujan sekolah tak lagi tergenang,” katanya.
Di lokasi lain, dua unit alat berat juga dikerahkan untuk membersihkan SMA Negeri 1 Kejuruan Muda di Gampong Durian, Kecamatan Rantau, Kabupaten Aceh Tamiang.
Saat ini, pembersihan ruang kelas di sekolah tersebut telah mencapai sekitar 80 persen, sementara pekerjaan masih difokuskan pada halaman dan jalan masuk sekolah yang masih berlumpur.
Berdasarkan laporan pantauan data Penanggulangan Bencana Alam Hidrometeorologi di Posko Terpadu Pemerintah Aceh per 10 Januari 2026 pukul 20.00 WIB, tercatat sebanyak 1.025 unit sekolah mengalami kerusakan, yang terdiri dari 315 sekolah rusak ringan, 418 rusak sedang, dan 292 rusak berat.
Bencana banjir dan longsor tersebut berdampak pada 18 kabupaten dan kota yang tersebar di 200 kecamatan serta 3.038 gampong di seluruh Aceh.













