Komparatif.ID, Banda Aceh– Bupati Aceh Selatan Mirwan MS merupakan pemimpin yang tidak memiliki sense of crisis. Di tengah bencana banjir Aceh yang ikut menimpa wilayahnya–meski tidak parah– ia memilih angkat bendera putih. Kemudian meninggalkan Tanah Air untuk melakukan umrah bersama keluarganya ke Tanah Suci.
Mantan anggota DPRA Safrizal alias Gamgam, dalam sebuah pertemuan tak sengaja di salah satu warkop di Banda Aceh, Minggu (7/12/2025) menilai terbitnya surat pengakuan tidak mampu menangani bencana di Aceh Selatan, telah menunjukkan bahwa Mirwan memilih lari dari tanggung jawab.
Mengapa? Dibandingkan daerah lain seperti Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, Bener Meriah, Aceh Tengah, dan lain-lain, banjir bandang di Aceh Selatan tidak begitu parah. Bahkan banjir bandang telah menjadi bencana tahunan di daerah penghasil pala tersebut.
“Ketika Mirwan memilih angkat bendera putih, saya terkejut. Pilihannya menyerah dengan menyatakan ketidakmampuan menangani krisis akibat bencana alam, menunjukkan dia hendak lari dari tanggung jawab sebagai kepala daerah,” kata Gamgam.
Usai mengatakan itu, mantan kombatan GAM tersebut menyeruput minuman jahe hangat. Ia sejenak menatap gelas yang baru ditaruhnya di atas meja granit. Deru suara mesin genset berbahan bakar pertamax, menyamarkan helaan halus nafasnya.
Ia menyulut sebatang tembakau berfilter yang dibalut kertas putih. Gamgam seperti sedang berpikir agak dalam.
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Umrah Saat Banjir, Pemerintah Aceh: Izin Ditolak Gubernur
Setelah mengembuskan asap ke udara, ia melanjutkan kalimatnya. Seharusnya Mirwan tak perlu “lari”.Di tengah krisis rakyat membutuhkan pemimpin yang kuat. Ia seharusnya memberi teladan, mengayomi, bukan lari.
“Seharusnya ia memberi teladan, mengayomi, memberi solusi. Bukannya pergi meninggalkan tugas,” katanya.
Gamgam memberi apresiasi atas keputusan DPP Partai Gerindra yang mencopot Mirwan dari jabatan Ketua DPW Partai Gerindra Aceh Selatan.
“Keputusan DPP Gerindra sudah tepat. Saya memberikan apresiasi. Keputusan yang disampaikan oleh Sekjen Gerindra,Sugiono, merupakan sikap politik satria. Mirwan memang kurang layak memimpin partai yang memiliki semangat patriotik,” kata Safrizal.
Demikian juga keputusan Mendagri yang melakukan pemeriksaan terhadap Mirwan pada hari Minggu, 7 Desember 2025 di Kantor Inspektorat Provinsi Aceh, Gamgam sangat mendukung.
Safrizal kembali menyeruput jahe hangat yang kini tak lagi hangat.
Ia melanjutkan, menurutnya, DPRK Aceh Selatan juga harus melakukan teguran keras terhadap sang Bupati.
Mirwan telah menunjukkan dirinya tidak memiliki sense of crisis. Ia tidak peduli terhadap rakyatnya. Ia lebih mementingkan kepentingan diri dan keluarga.
Angkat bendera putih mungkin bukan sebuah kesalahan. Karena bupati daerah lain juga melakukannya, meski patut dipertanyakan mengapa ia termasuk yang paling awal menyerah. Padahal banjir di Aceh Selatan tidak masuk daerah terparah.
Tapi ketika ia memilih umrah bersama keluarga ketika bencana terjadi, Mirwan telah menunjukkan dirinya tidak memiliki sensivitas kemanusiaan.
“Patut diduga mentalnya kurang kuat. Tega meninggalkan rakyat yang dihumbalang bencana. Padahal biaya umrah berapalah untuk seorang bupati dan keluarganya. Bahkan umrah bisa dilakukan kapanpun.”
Ke depan Gamgam berharap Mirwan supaya lebih bertanggung jawab melaksanakan tugas. Supaya rakyat Aceh Selatan tidak bertambah kecewa.
Rakyat pun diimbau supaya tetap tenang. Karena banjir di Aceh Selatan tidak begitu parah. “Mari sama-sama kita pulihkan daerah kita setelah diterjang banjir bandang,” imbau Gamgam.













