Komparatif.ID, Bireuen– Kelangkaan Biosolar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Bireuen membuat para sopir kendaraan berbahan bakar solar harus menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari hanya untuk mengantre pengisian bahan bakar.
Para sopir mengaku kondisi tersebut semakin menyulitkan karena sepanjang jalur Banda Aceh hingga Medan, ketersediaan Biosolar di SPBU lain juga sulit diandalkan. Di banyak lokasi, kendaraan telah lebih dulu mengantre menunggu giliran pengisian. Tidak jarang, saat antrean telah tiba, stok BBM justru sudah habis.
Akibatnya, sebagian sopir terpaksa membeli solar dari penjual eceran menggunakan galon sebagai cadangan agar dapat melanjutkan perjalanan hingga menemukan SPBU yang masih memiliki stok.
Faisal, warga Darul Aman, Kecamatan Peusangan Selatan, Kabupaten Bireuen, yang telah bekerja sebagai sopir pengangkut kelapa sawit selama dua tahun, mengaku waktu kerjanya kini lebih banyak dihabiskan untuk mengantre daripada mengangkut barang.
“Setelah banjir, waktu kami habis untuk mengantre solar daripada bekerja. Kalau tidak mengantre seperti sekarang, kami tidak akan kebagian BBM,” ujar Faisal, Senin (13/7/2026).
Keluhan serupa disampaikan Bambang Hermanto, warga Tanoh Anoe, Kota Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur, yang telah berprofesi sebagai sopir selama 25 tahun. Ia mengaku pernah mengantre selama sekitar enam jam di SPBU Cot Gapu Bireuen, mulai pukul 06.30 WIB hingga sekitar pukul 12.19 WIB.
Selama menunggu antrean, Bambang mengaku harus mengeluarkan biaya sekitar Rp50 ribu untuk makan dan rokok. Padahal, biaya tersebut biasanya digunakan sebagai bekal konsumsi selama perjalanan.
Baca juga: Bahlil Beberkan Alasan Naiknya Harga BBM Non Subsidi
Sementara itu, Hamdani, warga Bugak, Kecamatan Jangka, Kabupaten Bireuen, yang bekerja sebagai sopir kargo, juga mengaku kerap kesulitan mendapatkan Biosolar. Menurutnya, apabila stok BBM terbatas, ia terpaksa pulang dan kembali mengantre pada dini hari di SPBU Cot Meurak, Kecamatan Juli.
Menanggapi kondisi tersebut, Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berulang maupun penyalahgunaan BBM subsidi agar penyaluran dapat dinikmati secara merata oleh pihak yang berhak.
“Kami juga mengimbau kepada masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berulang maupun penyalahgunaan BBM subsidi. Dengan demikian, penyaluran BBM dapat dinikmati secara merata oleh masyarakat yang berhak,” kata Fahrougi, dikutip dari ANTARA, Sabtu (18/7/2026).
Menurut Fahrougi, stok BBM di Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) wilayah Aceh saat ini terdiri atas bahan bakar bensin (gasoline) sebanyak 6.756 kiloliter dan bahan bakar diesel (gasoil) sebanyak 5.127 kiloliter. Ia menyebut jumlah tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga tidak perlu terjadi pembelian secara berlebihan.
“Kami mengimbau agar pengisian BBM dapat dilakukan secara tertib sesuai antrean dan mengikuti arahan petugas SPBU. Pengelola SPBU juga dapat berkoordinasi dengan aparat setempat apabila diperlukan pengaturan lalu lintas di sekitar area SPBU. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kelancaran pelayanan sekaligus meminimalkan dampak terhadap pengguna jalan,” kata Fahrougi.













