Panas bumi merupakan anugerah Ilahi yang berhasil dimanfaatkan secara maksimal oleh Islandia. Dengan cadangan mencapai 5.800 Megawatt (MW) atau 5,8 Giga Watt (GW), Pemerintah Islandia berhasil membawa banyak investasi besar masuk ke negara tersebut.
Komparatif.ID, Reykjavík— Negara Islandia merupakan salah satu negara di Eropa Utara yang merupakan bagian dari negara-negara kawasan Nordik yang dikenal makmur. Tapi kemakmuran itu tidak lahir serta-merta. Butuh waktu, rencana, serta upaya yang panjang mencapainya.
11 persen wilayah Islandia ditutupi lapisan es. Nyaris tidak ada tanah subur di sana. jangan bermimpi membuka lahan pertanian konvensional. Hanya 1 hingga 2 persen lahan di Pulau Iceland yang subur. Tanah Islandia didominasi andosol yang mudah disapu angin. Bila lumut dan rumput rusak, lapisan di bawahnya begitu mudah disapu angin.
Suhu di Islandia -1°C hingga 4°C pada musim dingin dan sekitar 10°C hingga 15°C pada musim panas. Meskipun berada di bawah lingkar Kutub Utara, suhu udara di Islandia jauh lebih hangat dan ramah karena mendapat pengaruh dari Arus Teluk (Gulf Stream) yang membawa aliran air laut hangat dari Meksiko.
Jauh sebelum panas bumi dikelola secara serius, ekonomi Islandia ditopang oleh sektor perikanan. Setelah merdeka dari Denmark pada 1944, Pemerintah Islandia mendapatkan dana bantuan pembangunan ekonomi pasca-perang (Marshall Plan) dari Amerika Serikar. Bantuan itu dikucurkan tahun 1948.
Dengan bantuan modal tersebut, mereka membangun industri perikanan modern dan membangun pembangkit listrik tenaga air. Itulah dua tonggak pertama kebangkitan Islandia. Hingga akhir abad-20, sektor perikanan merupakan tulang punggung ekonomi negara tersebut. Sektor perikanan menyumbang sekitar 40 persen dari total ekspor barang, serta 12 persen PDB negara.
Sektor pariwisata lebih dahsyat lagi. Menjadi penyumbang terbesar bagi pendapatan negara. melebihi sektor perikanan dan industri aluminium. Setiap tahun, sekitar dua juta wisatawan berkunjung ke sana, jauh melampaui jumlah penduduk lokal yang hanya 390 ribu jiwa.
Wisatawan tak peduli, meskipun biaya hidup di Islandia sangat tinggi. Mereka tidak segan-segan membawa uang banyak dan menghabiskannya di sana demi menikmati pengalaman menjelajahi Golden Circle, meliputi Air Terjun Gullfoss, area geothermal Geysir, dan Taman Nasional Þingvellir, serta kawasan pesisir selatan.
Selain itu, wisatawan juga mendapatkan pengalaman unik berburu Aurora Borealis (Cahaya Utara) dan penjelajahan gua es pada musim dingin, serta fenomena Midnight Sun (matahari tengah malam) pada musim panas. Serta pengalaman-pengalaman menarik lainnya, yang hanya didapatkan di negara itu.
Panas Bumi dan Energi Tanpa Batas
Perihal wisata dan industri perikanan, kita akan bahasa pada artikel lainnya. Kali ini kita fokus mengulik pemanfaatan energi panas bumi yang dilakukan oleh Pemerintah Islandia.
Zona retakan tektonik aktif lempeng Benua Amerika dan Eurasia saling menjauh, merupakan kekayaan yang menyimpan potensi besar. Energi panas bumi (geothermal) Islandia terkonsentrasi di sepanjang Mid-Atlantic Ridge (Punggung Bukit Tengah Atlantik). Akan tetapi, kekuatan ekonomi tersebut baru benar-benar menjadi perhatian setelah Islandia mengalami krisis minyak 1970-an.
Jauh sebelum krisis minyak menimpa negara itu, energi panas bumi telah dimanfaatkan secara terbatas. Sejak tahun 1907-1908 secara personal, petani-petani Islandia telah memasang pipa dari sumber air panas ke rumah-rumah mereka. inilah cara mereka bertahan dari serangan udara dingin yang melanda sepanjang tahun.
Pada tahun 1930, pemerintah setempat selesai membangun pipa-pipa pemanas bawah tanah untuk menghangatkan 60 rumah warga kota, dua sekolah, dan satu rumah sakit di ibukota Islandia. Inilah proyek pemanas lingkungan pertama di dunia. Menggunakan tiga kilometer pipa yang dipasang di bawah tanah.
Puluhan tahun kemudian, nyaris seluruh rumah di Islandia tak lagi membakar batu bara atau kayu, tapi hidup dari uap bumi. Dan di sinilah awal dari transformasi besar Islandia dimulai.
Sekitar 90% lebih rumah di Islandia saat ini dipanaskan dengan uap bumi, menjadikannya salah satu sistem pemanas paling bersih dan termurah di dunia.
Baca juga: Ingin Gaji Besar? Kamu Harus Bekerja di 10 Negara Ini
Setelah Islandia memaksimalkan pemanfaatan energi panas bumi (geothermal) secara masif sejak akhir 1970-an, terjadi transformasi total pada lanskap ekonomi, sosial, dan lingkungan negara tersebut. Islandia berubah dari negara kepulauan yang terisolasi menjadi pelopor teknologi hijau dunia.
Dan industri pun mulai tumbuh. Salah satunya peleburan aluminium. Pasokan listrik yang melimpah, diubah menjadi logam. Peleburan bauksit menjadi aluminium dilakukan di negara tersebut tanpa kendala.
Untuk mengolah bauksit menjadi satu ton aluminium membutuhkan lebih 14.000 kWh listrik. Setara dengan pemakaian listrik satu rumah tangga selama berbulan-bulan. Dan di sinilah Islandia melihat peluang. Mereka tawarkan listrik bersih dan murah ke dunia, tapi bukan dalam bentuk kabel, melainkan pabrik.
Pabrik pertama berdiri tahun 1969, didirikan oleh perusahaan Swiss Alusis, yang sekarang Rio Tinto. Lalu datang dua raksasa Amerika, Century Aluminium pada tahun 1998, dan Alcoa Fjarðaál pada tahun 2007. Ketiganya kini menyerap lebih dari 70% listrik Islandia.
Kehadiran pabrik-pabrik tersebut menyumbang devisa sangat besar. Investor berbondong-bondong ke sana, karena biaya produksi aluminium di Islandia, sekitar 30% lebih murah daripada di Amerika Serikat. Listriklah yang membuat biaya produksi menjadi lebih murah. Dikalikan dengan apa pun, Islandia tetap menang dalam hal ini.
Islandia pun semacam negara outsourcing energi. Mereka tidak ekspor barang tambang, tapi mengekspor hasil dari listriknya. Dalam bentuk logam, dan cuan yang mengalir ke kas negara.
Tapi, yang paling dirasakan rakyat di Islandia bukan sekedar ekspor logam. Harga listrik di Islandia termasuk yang termurah di dunia, bahkan setelah krisis energi global. Tagihan bulanan rumah tangga jatuh di bawah rata-rata Eropa.
Kolam renang air panas jadi fasilitas umum. Trotoar jalan bisa dicairkan salju secara otomatis di musim dingin. Bahkan, rumah-rumah biasa kini dilengkapi sistem pemanas air dan ruangan tanpa ketergantungan bahan bakar impor.
Industri Data yang Bermodal Panas Bumi dan Suhu Udara
Energi murah bukan hanya soal industri, tapi tentang hidup yang lebih nyaman, bersih, dan sehat. Di dunia yang makin digital, bukan cuma tambang emas atau minyak yang jadi rebutan. Data kini jadi aset paling berharga.
Dan disinilah Islandia kembali unjuk gigi. Bukan dengan jumlah penduduk atau kekuatan militer, tapi dengan udara dingin dan listrik murah. Saat negara-negara lain mengeluarkan miliaran dolar hanya untuk mendinginkan sarfar, Islandia tinggal buka jendela.
Suhu musim panas yang hanya 10 sampai 12 derajat membuat Islandia tak butuh aset raksasa untuk menjaga suhu ruangan server tetap stabil. Tak hanya hemat energi, tapi juga lebih ramah lingkungan. Tambahkan listrik bersih dari panas bumi dan air terjun, dan Islandia pun berubah menjadi surga bagi pusat data.
Perusahaan-perusahaan besar mulai berdatangan. BMW menggunakan fasilitas Islandia untuk melakukan simulasi uji tabrak. Beberapa startup AI dan blockchain ikut masuk, memindahkan server mereka dari Inggris dan Jerman ke utara yang beku ini.
Biaya operasional sekitar 80 persen lebih murah dibandingkan Inggris, bahkan dengan ongkos ekspor data dan tenaga kerja yang lebih tinggi. Dan bonusnya, jejak karbon nyaris 0. Saat ini ada tiga pusat data besar yang aktif di Islandia. Dengan kapasitas sekitar 200 MW, mereka menyumbang sekitar 5 persen dari total PDB negara dan 7 persen konsumsi listrik nasional.
Tapi angka itu terus bertambah. Di banyak negara, pusat data harus mengeluarkan biaya hingga 40 persen dari total operasional hanya untuk pendingin. Di Texas, suhu musim panas bisa membuat data center mengonsumsi air pendingin hingga jutaan liter per hari.
Tapi Islandia membalikkan logika itu. Mereka pakai udara dingin gratis untuk menambang data. Di saat negara lain krisis listrik, Islandia menjadikan energi yang disediakan alam secara gratis sebagai komoditas, bahkan alat tawar terhadap raksasa global.
Islandia telah bergerak maju. Mereka tidak meributkan lagi siapa yang duluan lahir di sana. mereka tidak lagi berkonflik siapa yang lebih berjasa di tanah yang dilapisi es. Mereka juga tidak lagi sibuk membuat seminar siapa yang lebih Islandia ketimbang yang lain.
Di balik “kekurangan”, negara itu bertumbuh. Panas bumi, udara dingin, laut yang menyimpan ikan melimpah, serta keindahan alam, merupakan empat pilar ekonomi utama.
Mereka menjadi raksasa ekonomi dunia berkat keberhasilan memanfaatkan sumber daya alamnya secara maksimal dan bertanggung jawab.
Kini mereka menjadi tak tergantikan. Industri pengolahan bauksit, industri data, telah memilih Iceland sebagai rumah untuk terus melayani dunia.
Adakah orang miskin di negara tersebut? Ada. 8,8 persen hingga 9 persen dari total populasi hidup miskin. Tapi kemiskinan di sana tidaklah ekstrem. Mereka disebut miskin bilamana pendapatan bulannya kurang dari Rp20 juta rupiah. Mengingat tingginya biaya hidup sana, mereka yang miskin kesulitan membayar biaya tempat tinggal atau membeli makanan segar berkualitas tinggi.
Mereka yang masuk kategori miskin merupakan lansia yang hanya bergantung pada dana pensiun, orang tua tunggal, mahasiswa, atau imigran yang baru datang. Akan tetapi pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah telah menyediakan jaminan sosial komprehensif untuk pengangguran, pendidikan dan kesehatan gratis.
Sumber rujukan: Playiceland, VoA, NGS, Inspired by Iceland, Nordics.info, economy.com, OECD, Geografyi.
