Meme “High Cortisol” dan “Low Cortisol” sempat menjadi salah satu tren yang ramai di media sosial. Ungkapan tersebut kerap digunakan warganet untuk menggambarkan kondisi saat sedang banyak pikiran, mudah panik, sulit tidur, atau merasa sangat lelah.
Sebaliknya, istilah “Low Cortisol” biasanya dipakai untuk menggambarkan suasana hati yang tenang, santai, dan bebas dari tekanan.
Meski dikemas dalam bentuk candaan, istilah tersebut ternyata mengacu pada hormon kortisol yang memang diproduksi tubuh. Kortisol sering disebut sebagai hormon stres karena dilepaskan saat tubuh menghadapi tekanan.
Namun, hormon ini sebenarnya memiliki fungsi penting, mulai dari membantu mengatur metabolisme, menjaga tekanan darah, menyediakan energi, hingga mengatur siklus tidur dan bangun.
Di tengah ramainya tren tersebut, akun Threads @dindagayatriw membagikan beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu menjaga keseimbangan kortisol.
Dalam unggahannya yang dikutip Sabtu (4/7/2026), ia menyebutkan sejumlah keluhan seperti sulit tidur, penumpukan lemak di area perut, suasana hati yang mudah menurun, hingga tubuh terasa lelah meski pikiran masih terus aktif bisa menjadi tanda tubuh tidak mendapatkan waktu yang cukup untuk beristirahat.
“Ini yang bisa bantu menyeimbangkan kortisol,” tulis @dindagayatriw.
Salah satu kebiasaan yang disarankan adalah menghentikan konsumsi kopi setelah pukul 12.00 siang. Menurutnya, kafein dapat bertahan di dalam tubuh selama tiga hingga delapan jam, bahkan lebih lama pada sebagian orang. Kondisi tersebut dapat membuat seseorang tetap terjaga hingga malam dan memengaruhi ritme alami tubuh.
Baca juga: Penanganan Tulang Rusuk Patah
“Kafein bisa bertahan di tubuh selama 3–8 jam, bahkan lebih lama buat sebagian orang. Selain bikin susah tidur, kafein juga bisa meningkatkan hormon kortisol, sehingga tubuh tetap dalam mode stres sampai malam. Berhenti minum kafein setelah jam 12 siang membantu tubuh lebih mudah rileks dan tidur lebih nyenyak,” tulisnya.
Selain mengatur konsumsi kopi, ia juga menyarankan untuk mendapatkan paparan sinar matahari pagi sekitar 15 hingga 30 menit setelah bangun tidur. Paparan cahaya alami membantu mengatur ritme sirkadian atau jam biologis tubuh sehingga lonjakan kortisol terjadi pada waktu yang memang dibutuhkan.
“Paparan sinar matahari pagi membantu mengatur jam biologis tubuh dan membuat lonjakan kortisol terjadi di waktu yang tepat. Kortisol memang seharusnya tinggi di pagi hari, lalu turun saat malam. Kalau ritme pagi sudah benar, biasanya kualitas tidur di malam hari juga ikut membaik,” tulisnya.
Kebiasaan sederhana lainnya adalah melakukan latihan pernapasan melalui hidung selama empat hingga lima menit sebelum tidur. Latihan ini dilakukan dengan menarik dan mengembuskan napas secara perlahan melalui hidung sekitar lima hingga enam kali setiap menit.
“Tarik dan buang napas perlahan lewat hidung selama 4–5 menit. Cara sederhana ini membantu mengaktifkan sistem saraf yang bikin tubuh lebih rileks, sehingga kadar kortisol ikut menurun dan kamu lebih mudah tidur. Cukup sekitar 5–6 napas per menit untuk membantu tubuh masuk ke mode istirahat,” tulisnya.
Menurut unggahan tersebut, kortisol bukanlah hormon yang harus dihindari. Sebaliknya, hormon ini memiliki peran penting dalam membantu tubuh merespons berbagai aktivitas dan tantangan sehari-hari. Yang perlu diperhatikan adalah ketika tubuh terus-menerus berada dalam kondisi stres tanpa memiliki waktu yang cukup untuk pulih.
“Kortisol bukan musuh. Yang jadi masalah adalah saat tubuh nggak pernah punya kesempatan buat tenang. Bantu tubuh kembali ke ritme alaminya, dan kamu bakal kaget melihat seberapa besar perubahan yang bisa terjadi,” tulis @dindagayatriw.













