BREAKING
Kesehatan

Tahun ini 1,1 Juta Manusia Mati Karena Terinveksi HIV/AIDS

sebaran pengidap hiv di aceh mati karena terinveksi hiv
Virus HIV. fOTO: nfid-org

Komparatif.ID- Tahun ini 1,1 juta penduduk dunia mati karena terinveksi HIV/AIDS. Demikian data yang disajikan worldometers.info, yang disitat Komparatif.id, Minggu, 13 September 2026.

Secara angka, sampai hari ini, terdapat 1.174.914 orang di seluruh dunia telah mati karena terinveksi HIV/AID. Sedangkan yang belum mati tapi telah terinveksi sebanyak 47.621.905. Angka terinveksi merupakan kompilasi beberapa tahun dari seluruh dunia yang tercatat.

Sumber data yang dirujuk oleh worldometers.info berasal dari Organisasi Kesehatan Dunia/ World Health Organization (WHO) dan UNAIDS.

Tingginya angka kematian akibat terinveksi HIV/AIDS sepanjang tahun ini berdasarkan laporan yang terus diperbaharui setiap saat oleh worldmeters.info, sangat mengagetkan. Karena mengalami lonjakan sangat tinggi.

Baca: Sebaran Pengidap HIV di 23 Kabupaten di Aceh

Padahal  tahun 2025 ke belakang,jumlah mereka yang mati karena terinveksi virus tersebut 570.000 hingga 630.000 jiwa per tahun.

Pada tahun 2004, terjadi lonjakan kematian luar biasa akibat terjangkit AIDS jumlahnya mencapai 2,1 juta kematian. Demikian menurut laporan UNAIDS.

Mati Karena Terinveksi HIV/AIDS di Kalangan LGBTQ

Meskipun pelacakan menyeluruh untuk seluruh spektrum LGBTQ+ masih terbatas, data spesifik menunjukkan bahwa pria gay, pria biseksual, dan individu transgender tetap terdampak secara tidak proporsional akibat ketimpangan sistemik, stigma, dan faktor risiko biologis.

Secara global, risiko tertular HIV adalah 18 kali lebih tinggi di kalangan pria gay dan MSM lainnya dibandingkan dengan populasi orang dewasa secara umum.

Di Amerika Serikat, men who have sex with men (MSM) mencakup sekitar 67% dari seluruh diagnosis HIV baru, meskipun mereka hanya merupakan sebagian kecil dari total populasi.

Secara global, transgender menghadapi risiko tertular HIV yang 17 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa lainnya.

Meskipun secara medis HIV/AIDS tidak memilih siapa yang yang diinfeksikannya, tapi LGBTQ+ lebih mudah tertular karena hubungan seks melalui lubang burit merupakan kegiatan seksual dengan risiko penularan HIV paling tinggi.

Mengapa demikian? Karena sejak diciptakannya manusia, anus bukanlah organ reproduksi. Lubang burit diciptakan sebagai saluran pembuang kotoran padat pada semua jenis makluk hidup yang memiliki saluran pencernaan lengkap, termasuk manusia (homo sapien).

Lapisan di dalam rektrum diciptakan lebih tipis, lebih rentan, dan lebih rapuh ketimbang lapisan kemaluan betina. Rectum alias anus tidak dilengkapi dengan pelumas alami. Mengapa tidak ada pelumas alami? karena fungsinya untuk saluran pembuang.

Akibatnya, hubungan seks anal sangat mudah menyebabkan robekan kecil atau luka mikroskopis yang menjadi jalan masuk utama bagi virus HIV ke dalam aliran darah.

Catatan redaksi: Tulisan ini merupakan bagian dari edukasi publik tentang kesehatan dan pembentukan kesadaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *