Komparatif.ID— Babi hutan (sus scrofa) merupakan mamalia dari famili suidae dengan ciri tubuh kokoh, moncong panjang, rambut kasar, dan warna tubuh coklat hingga kehitaman.
Babi hutan merupakan hewan yang memiliki indera penciuman sangat kuat dengan kemampuan adaptasi yang sangat baik. Mereka mampu hidup di hutan, semak belukar, rawa, dan padang rumput.
Sekali beranak, babi bisa melahirkan 8 sampai 14 ekor gembluk (bahasa Jawa) atau aneuk bui (bahasa Aceh).
Meskipun tidak ada sensus khusus tentang jumlah babi hutan, tetapi di Eropa jumlahnya mencapai 13,5 hingga 19,6 juta ekor. Demikian data dari ENETWILD. Di Spanyol jumlahnya mencapai 2,4 juta ekor.
Di Benua Australia mencapai 23 juta ekor. Menyebabkan masalah besar di sana. Menyebabkan negara tersebut menghadapi problem lingkungan yang disebut feral pig.
Di Amerika Serikat jumlah binatang berkaki empat tersebut 6 hingga 9 juta ekor. Tersebar di 35 negara bagian.
Bagaimana dengan Asia? Sebagai Benua asli tempat sejumlah babi liar berasal, tidak ada data yang merangkumnya. Hanya saja sesuai dengan pemandangan visual, jumlahnya dipeekirakan sangat banyak.
Secara keseluruhan, babi hutan adalah salah satu mamalia dengan wilayah persebaran terluas di dunia. Meskipun banyak diburu, tapi jumlah babi liar tak kunjung berkurang. Sebagian orang menyebutkan bila babi itu, mati satu tumbuh seribu.
Tahukah kamu, Komparian (pembaca Komparatif.ID), ternyata terdapat lima fakta unik tentang babi hutan yang jarang kita tahu.
Baca juga: Nebukadnezar II, Raja Babilonia yang Mengira Dirinya Seekor Lembu
Pertama, moncong babi liar bukan sekadar hidung. Tapi juga sebagai alat pengorek tanah saat mencari makanan. Makanya tidak heran bila moncongnya sangat keras.
Kedua, dari hobi babi mengorek tanah saat mencari makanan, ternyata berdampak baik bagi ekologi. Dengan kebiasaan babi tersebut, telah membantu menggemburkan tanah, meningkatkan aerasi, dan membantu kesuburan hutan.
Nah, meskipun sering dianggap sebagai hama atau spesies invasif yang merusak, babi hutan (sus scrofa) sebenarnya memiliki peran yang sangat penting dalam ekosistem. Di habitat asli mereka, babi hutan bertindak sebagai “insinyur ekosistem” yang membantu menjaga keseimbangan alam.
Ketiga, penciuman babi sangat bagus. Dia mampu mendeteksi sumber makanan hanya dengan dengusan. Meskipun makanan itu berada di bawah tanah. Keren kan? Babi kan keren!
Keempat, anak-anak babi memiliki “seragam khusus” yang membantu mereka berkamuflase di alam liar.
Kelima, sebagai omnivora, makanan babi hutan tidak monoton. Dia makan buah, biji, umbi, akar, Tunas, cacing, invertebrata, hingga hewan kecil lainnya. Maka jangan heran bila sesekali babi masuk kampung dan mencuri ayam. Ayam yang dicuri oleh babi bukan untuk dijual, tapi untuk disantap.
Disitat dari berbagai referensi terverifikasi.
