Home Ekonomi IHSG Anjlok 34 Persen Sepanjang Tahun, OJK Pastikan Keuangan RI Masih Aman

IHSG Anjlok 34 Persen Sepanjang Tahun, OJK Pastikan Keuangan RI Masih Aman

IHSG Anjlok 34 Persen Sepanjang Tahun, OJK Pastikan Keuangan RI Masih Aman Komparatif.ID, Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga meski dunia sedang dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi yang meningkat. Penilaian ini disampaikan dalam siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang digelar pada Selasa (7/7/2026). Menurut OJK, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat tekanan di pasar energi global berkurang, terlihat dari harga minyak dunia yang kembali mendekati level sebelum konflik terjadi. Meski begitu, OJK mengingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang karena situasi kawasan tersebut masih rentan terhadap potensi eskalasi baru sewaktu-waktu.
Dewan Komisioner OJK menyampaikan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Juni 2026 dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Selasa (7/7/2026). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Jakarta– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa stabilitas sektor jasa keuangan Indonesia masih terjaga meski dunia sedang dibayangi ketidakpastian geopolitik dan tekanan inflasi yang meningkat. Penilaian ini disampaikan dalam siaran pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) yang digelar pada Selasa (7/7/2026).

Menurut OJK, meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah membuat tekanan di pasar energi global berkurang, terlihat dari harga minyak dunia yang kembali mendekati level sebelum konflik terjadi. Meski begitu, OJK mengingatkan bahwa risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang karena situasi kawasan tersebut masih rentan terhadap potensi eskalasi baru sewaktu-waktu.

Di tingkat global, kondisi ekonomi antarnegara juga berjalan tidak merata. Amerika Serikat masih relatif kuat dengan pasar tenaga kerja yang solid, meski inflasi ikut naik. Sementara itu, Tiongkok masih bergulat dengan lemahnya konsumsi masyarakat dan investasi swasta, dan Eropa masih tertahan oleh permintaan yang lesu walau sektor manufakturnya mulai membaik. Melihat kondisi tersebut, OECD dan World Bank pada Juni 2026 sama-sama merevisi ke bawah perkiraan pertumbuhan ekonomi dunia tahun 2026, masing-masing menjadi 2,8 persen dan 2,5 persen.

Di dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi ikut melambat seiring naiknya tekanan inflasi. Aktivitas manufaktur melemah, surplus perdagangan menyempit, dan cadangan devisa menurun. Namun OJK menyebut stabilitas tetap terjaga berkat kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang memadai dari pemerintah dan bank sentral.

Gambaran paling mencolok terlihat di pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup pada level 5.643,19 di akhir Juni 2026, turun 7,90 persen dibanding bulan sebelumnya dan anjlok 34,74 persen sejak awal tahun.

Baca juga: Aset Tembus Rp236 Triliun, OJK Dorong BPR dan BPRS Makin Agresif Layani UMKM

Investor asing pun mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp19,63 triliun di pasar saham, jauh lebih besar dibanding bulan sebelumnya. Meski demikian, kabar baiknya jumlah investor pasar modal di dalam negeri justru terus bertambah. Ada tambahan 1,21 juta investor baru sepanjang Juni 2026, sehingga total investor pasar modal kini mencapai 28,96 juta orang, tumbuh 42,22 persen dibanding awal tahun.

Berbeda dengan pasar saham, sektor perbankan justru menunjukkan tren yang lebih positif. Penyaluran kredit perbankan tumbuh 11,51 persen dibanding tahun lalu pada Mei 2026, menjadi Rp8.918 triliun. Kredit untuk investasi tumbuh paling tinggi, diikuti kredit modal kerja dan kredit konsumsi.

Kualitas kredit juga tetap terjaga, dengan rasio kredit bermasalah atau NPL gross sebesar 2,17 persen, angka yang masih dianggap sehat. Terkait maraknya judi online yang merugikan masyarakat, OJK meminta perbankan memperketat pengawasan dan memblokir sekitar 36.191 rekening yang terindikasi terlibat aktivitas perjudian daring tersebut.

Di sektor asuransi dan dana pensiun, total aset industri asuransi tercatat Rp1.197,04 triliun per Mei 2026, tumbuh 2,87 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara itu, total aset dana pensiun mencapai Rp1.693,37 triliun, tumbuh 7,71 persen secara tahunan, menunjukkan masyarakat masih mempercayakan dananya untuk kebutuhan masa depan meski kondisi pasar sedang bergejolak.

Soal perlindungan konsumen, OJK mencatat sejak awal tahun hingga 30 Juni 2026 telah menerima 22.206 pengaduan terkait entitas ilegal, dengan mayoritas atau sekitar 19.169 pengaduan berkaitan dengan pinjaman online ilegal. Untuk menangani maraknya penipuan transaksi keuangan, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang beroperasi sejak November 2024 telah menerima 608.167 laporan hingga akhir Juni 2026. Dari jumlah itu, sebanyak 557.751 rekening telah diblokir dan dana korban yang berhasil dikembalikan mencapai Rp196,93 miliar.

OJK turut menindaklanjuti sejumlah kasus konkret yang menyita perhatian publik, di antaranya dugaan tindak kekerasan dalam proses penarikan kendaraan yang melibatkan mitra PT Toyota Astra Financial Services di Serang, Banten, serta dugaan kasus penipuan berkedok investasi di Purwokerto yang diduga melibatkan mantan pegawai Bank Mandiri Taspen.

Terkait kasus-kasus tersebut, OJK menegaskan proses hukumnya diserahkan kepada aparat penegak hukum, sembari mengimbau masyarakat untuk selalu menerapkan prinsip 2L yaitu Legal dan Logis sebelum memutuskan berinvestasi agar tidak menjadi korban penipuan serupa.

Sebagai bagian dari penguatan aturan di sektor jasa keuangan, OJK juga menerbitkan sejumlah regulasi baru sepanjang tahun ini, termasuk aturan mengenai perilaku penyampai informasi sektor jasa keuangan atau yang dikenal dengan istilah financial influencer, serta ketentuan baru soal modal minimum bagi Bank Perekonomian Rakyat, sebagai upaya memperkuat daya saing dan ketahanan industri keuangan ke depan.

Previous articleSatgas PRR Siapkan Pemulihan Permanen dengan Penataan Ruang yang Lebih Aman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here