Terdapat 1,43 miliar manusia di bumi saat ini mengalami susah buang air besar alias mengalami sembelit. Penyebab umumnya karena kurang serat, kurang minum air putih, dan kurang bergerak.
Komparatif.ID—Angkanya sangat mencengangkan. Ternyata terdapat miliar manusia di dunia mengalami susah buang air besar. Setiap tahun, 100-115 triliun rupiah dihabiskan oleh seluruh penduduk dunia, untuk membeli obat pencahar/obat mempermudah buang air besar.
Masalah susah buang air besar (BAB) atau konstipasi sering kali dianggap sebagai keluhan remeh yang tabu untuk dibicarakan. Namun, di balik keheningan tersebut, data medis menunjukkan bahwa kesulitan evakuasi feses telah menjadi krisis kesehatan global yang memengaruhi produktivitas dan kualitas hidup miliaran manusia di bumi.
Riset epidemiologi berskala global yang dipublikasikan oleh jurnal kesehatan tepercaya The Lancet Gastroenterology & Hepatology mengungkapkan fakta mengejutkan. Menggunakan kriteria klinis ketat (Rome IV), sebanyak 10,1% populasi dunia terbukti menderita konstipasi fungsional (kronis).
Ditambah dengan temuan terbaru dari The Rome Foundation Global Epidemiology Study mengenai angka konstipasi situasional/musiman (occasional constipation) yang menyerang 7,4% penduduk bumi, maka jika ditotal, ada sekitar 17,5% populasi dunia yang hidup dengan gangguan susah buang air besar.
Baca: Sejarah Cebok Manusia di Berbagai Belahan Dunia
Jika dikonversikan dengan total populasi bumi saat ini yang menyentuh angka 8,2 miliar jiwa, artinya ada sekitar 1,43 miliar orang di dunia yang sedang berjuang melawan sembelit.
Para pakar pencernaan menyebut fenomena ini sebagai “gunung es”, karena mayoritas penderita memilih menderita dalam sunyi dan melakukan pengobatan mandiri ketimbang berkonsultasi ke fasilitas kesehatan.
Susah Buang Air Besar, Kesenjangan Gender dan Faktor Usia
Data dari berbagai lembaga riset pencernaan dunia menunjukkan bahwa gangguan pencernaan ini tidak tersebar secara merata. Hasil analisis meta-analisis global di PubMed membuktikan bahwa wanita memiliki risiko hingga 2,4 kali lipat lebih tinggi mengalami sembelit dibandingkan pria.
Hal ini sangat dipengaruhi oleh fluktuasi hormon progesteron (terutama saat fase menstruasi dan kehamilan) yang memperlambat gerakan usus, serta perbedaan struktur anatomi otot panggul.
Selain gender, usia menjadi faktor penentu utama. Organisasi Gastroenterologi Dunia (World Gastroenterology Organisation) mencatat bahwa prevalensi sembelit melonjak tajam pada kelompok lanjut usia (lansia). Sekitar 18,9% hingga 33,5% lansia di dunia menderita konstipasi kronis.
Penurunan mobilitas fisik, melemahnya otot dinding usus, serta konsumsi berbagai obat-obatan kronis (seperti obat hipertensi) menjadi pemicu utama mengapa kelompok lansia sangat rentan terjangkit kondisi ini.
Peta Sembelit: Dari Eropa Timur Hingga Indonesia
Lembaga riset medis internasional The Rome Foundation dalam survei globalnya menemukan variasi angka yang sangat kontras di berbagai belahan dunia akibat perbedaan pola diet dan gaya hidup.
Wilayah Eropa Timur mencatat prevalensi konstipasi situasional tertinggi di dunia, yakni mencapai 15,8% dari total populasi setempat. Sebaliknya, kawasan Timur Tengah menjadi yang terendah dengan angka hanya 4,3%.
Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan dokumen resmi Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi di Indonesia (Revisi 2023) yang dirilis oleh Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PGI), angka prevalensi umum nasional berkisar antara 4% hingga 21,6%.
Rentang ini setara dengan 11 juta hingga 60 juta penduduk Indonesia (dari total 280 juta jiwa populasi nasional) yang mengalami susah buang air besar. Bahkan, riset lokal spesifik di wilayah Banda Aceh mencatat angka yang jauh lebih ekstrem, di mana prevalensi sembelit pada orang dewasa di sana menembus 66,7% akibat rendahnya konsumsi serat.
Dampak Psikologis dan Kualitas Hidup
Konstipasi kronis bukan sekadar urusan perut begah. Riset Rome Foundation yang dirilis oleh Clinical Gastroenterology and Hepatology menegaskan adanya kaitan erat antara kesehatan usus dan otak (gut-brain axis).
Penderita susah buang air besar memiliki risiko kesehatan mental yang jauh lebih tinggi. Tercatat, angka prevalensi gangguan kecemasan (anxiety) mencapai 12,3% dan depresi mencapai 12,0% pada kelompok penderita konstipasi.
Angka ini melonjak dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan populasi yang memiliki pencernaan normal (yang hanya berada di kisaran 5,6%).
Sebagai langkah penanggulangan global, institusi kesehatan seperti Alodokter dan para ahli gastroenterologi terus mendesak masyarakat untuk kembali ke pilar dasar kesehatan pencernaan: penuhi kuota serat harian minimal 25-30 gram, minum air putih 2 liter per hari, dan aktif bergerak demi merangsang gerak peristaltik usus. Mengabaikan sembelit sama saja membiarkan zat sisa racun tertahan lebih lama di dalam tubuh.













