Nirwana bangkit dari dalam kubur karena kesumat sang ibu. Ia ingin sang putri menuntaskan dendam atas kekejaman yang berujung kematian.
Alue Gajah, tahun 1980-an, sebuah desa di pedalaman Aceh. sebuah desa di pinggang Bukit Barisan, berhawa sejuk, dengan rimba lebat yang mengelilinginya.
Desa Alue Gajah yang dalam tiap kenangan warganya sebagai sebuah kampung yang indah, kini berubah. Semua itu bermula ketika Nirwana, sanga kembang desa, ditemukan menjadi mayat di tepi sungai, tempat di mana ia biasanya mencuci pakaian bersama teman-temannya sesama dara gampong.
Kini, begitu azan Magrib lamat-lamat hilang dari pengeras suara meunasah, desa langsung senyap. Jangankan orang, anjing kampung saja malas menggonggong. Cuma ada suara pelepah rumbia bergesekan ditiup angin gunung, sama kerlap-kerlip minyak tanah dari lampu teplok di sana-sini.
Di ujung kampung, persis di dekat Paya Rimung, rumah panggung Mak Ramlah masih berasap. Bau kemenyan sungsang menyengat sampai ke jalan setapak. Di dalam rumoh Aceh yang jendelanya tertutup rapat itu, Mak Ramlah duduk bersila. Napasnya berat, matanya bengkak.
Di depannya ada Dukon Lah, seorang tukang teluh tua yang jalannya sudah bungkuk tapi tatapannya bikin kuduk merinding.Di lantai bambu, mereka menggelar kain putih. Isinya gumpalan tanah merah yang masih basah, bau anyir tanah kuburan.
Itu tanah dari makam Nirwana.Baru tujuh hari anak gadis Mak Ramlah itu dikubur. Mati lehernya patah di pinggir krueng (sungai). kematian yang dibalut misteri, meskipun beberapa orang bisa menerka-nerka dengan cara menyambung-kaitkan hubungan diam-diam antara Nirwana dengan Maimun, seorang putra hartawan kikir di desa itu yang memiliki pengaruh hingga ke kecamatan.
Kematian Nirwana yang tragis tidak ada saksi mata. Dan bilapun ada yang bercerita menyambung-kaitkan, sekadar celoteh sembari bisik-bisik di dapur-dapur rumah, atau di sudut-sudut jambo kupi di tepi sungai.
Polisi sempat datang pada saat jenazah ditemukan. Setelah olah TKP dilakukan, taka da kabar lebih lanjut. Ramlah yang berusia 50 tahun hanya bisa meratapi kematian sang putri.Ia benar-benar sendiri, sejak sang suami telah kembali ke kampung barzah.
Hati Ramlah bertambah luka, sejak kematian Nirwana, Maimun yang ia ketahui memiliki hubungan dengan putrinya, terlihat anteng saja di kampung itu. Tak sedikitpun dia menunjukkan rasa berduka.
Ramlah pernah berupaya bertanya kepadanya, tentang hubungan mereka, Maimun menjawab ketus, “Mak Ramlah kan tahu bahwa aku sedang tidak ada di kampung saat kejadian itu. Aku takt ahu menahu soal itu.”
Jawaban ketus, tanpa aura kehilangan, disimpulkan oleh Ramlah bahwa Maimun merupakan sosok yang punya hubungan erat dengan kematian putrinya. Kini, satu-satunya yang bisa menjawab itu hanyalah Nirwana sendiri. Bagaimana caranya?
“Arwahnya harus dibangkitkan dari dalam kubur,” kata Dukun Lah, ketika Ramlah datang ke rumahnya tengah malam, secara diam-diam.
“Besok malam, tepat setelah purnama penuh selesai, aku akan datang ke rumahmu. Siapkan kembang tujuh rupa, hidangan ayam kampung berbulu abu dapur satu ekor, yang betina dan baru bertelur sekali.Itu saja yang perlu kamu persiapkan. Selebihnya biar aku bawa dari sini,” kata Dukun Lah, yang merupakan teman sepermainan Ramlah ketika mereka kecil.
***
Ketika hukum mati, alam gaib akan mencari jalannya sendiri.
Rumah Ramlah di ujung kampung, memudahkan Dukun Lah bertandang ke sana, tanpa dilihat oleh orang lain. Setelah Insya, dia datang dari arah belakang rumah.
“Lah, anakku mati biru-biru lehernya. Aku mau darah dibayar darah,” suara Ramlah serak, habis air matanya buat menangis.
Dukun Lah menatap wajah teman masa kecilnya itu. Dia sangat kenal Ramlah. Perempuan baik hati yang sempat membuatnya jatuh cinta di masa muda. Perempuan itu tidak akan nekat bila tidak sedang benar-benar sekarat.
Sejenak kemudian Dukun Lah membuka eumpang geunipho yang ditaruh di samping kanan. Dia mengambil sebilah rencong tua. Dia meminta telapak tangan Ramlah dibuka. Kemudian menujuk ujung renjong ke telapak tangan sang wanita. Sesuatu berwana merah mengalir, tusukan rencong lumayan dalam menembus kulit dan daging.
Cairan merah itu ditampung di dalam piring kecil. Dukun Lah menaruh rencongnya, menyerahkan kain kasa kepada Ramlah supaya lekas membalut lukanya.
Segenggam tanah kuburan dituangkan ke dalam piring yang berisi cairan merah.
Dukun Lah membaca mantra perlahan. Sebuah mantra tua yang sulit dipahami. Percampuran bahasa Arab, Parsi, India, Tiongkok, dan Aceh.
Sembari merapal mantra, dia membakar kemenjan, selanjutnya tanah kuburan yang sudah dicampur cairan merah, dibacakan mantra. Sesekali dia meniup tanah itu.
“Nirwana…. Beudoh, Aneuk, beudoh. Tueng bila wahe aneuk, beudoh sigra tueng bila. Mata bayeu mata, nyawong bayeu nyawong. Kiban phet gata dipeujra, meunan tabalah ateuh si durjana,” kata Dukun Lah.
Dari luar jendela yang terbuka paksa karena diterjang angin, pelan-pelan muncul bayangan hitam yang makin lama makin padat.Itu Nirwana. Tapi bukan Nirwana yang dulu suka senyum. Badannya dibungkus kain kafan kotor penuh lumpur. Lehernya terkulai miring, patah total.
Matanya cuma warna hitam, tidak ada putihnya sama sekali. Penampakan itu berlangsung dalam tempo sangat cepat. kemudian menghilang.
Dukun Lah pamit. Dia pergi dengan rasa penasaran. Besok malam pembalasan itu akan dimulai.
***
Hujan turun rintik-rintik. Dua pemuda yang dikenal sebagai tukang hisap ganja, duduk di balai-balai di dekat sungai. mereka sedang menikmati isapan demi isapan ganja yang dicampur dengan rokok filter berbungkus hijau.
Malam telah begitu larut, udara dingin menusuk tulang. Lolongan angjing kampung dan anjing hutan bersahut-sahutan, seolah memberi kabar kepada para manusia,bahwa sebentar lagi petaka akan terjadi.
Ketika mereka sedang menghangatkan badan di dekat perapian, tiba-tiba sosok perempuan basah kuyup duduk di samping.
Keduanya terkejut. Kemudian saling berpelukan.
“Nirwana!” teriak mereka.
Sosok yang disebut Nirwana menatap mereka tajam. Wajahnya pucat, tanpa ekspresi.
“Mengapa kalian melakukan itu?” tanya arwah Nirwana. Pertanyaan tanpa irama.
Baca: Misteri Rumah Bekas Banjir
Kedua lelaki itu gemetaran. Masih saling berpelukan.
“Kami hanya disuruh oleh…” kalimat itu belum selesai, dua bongkah batu menghantam leher keduanya. Kedua pria mud aitu tergeletak di tanah. Mati.
***
Paginya, warga kampung heboh dengan penemuan mayat Raman Kameng dan Deuhar Darohaka. Dua begundal des aitu ditemukan kaku di tempat jenazah Nirwana ditemukan.
Warga berbisik sesamanya. Ramlah dan Dukun Lah ikut hadir. Satu jam kemudian polisi datang. Mereka melakukan olah TKP, dan kemudian pulang. Jenazah tidak dibawa ke rumah sakit, karena keluarga menolak.
Setelah prosesi pemakaman selesai, dan warga pulang ke rumah masing-masing, kematian Raman Kameng dan Deuhar Darohaka menjadi trending topik hingga ke kampung tetangga yang berjarak lima kilometer.
Mereka kembali membahasa, menyambung-kaitkan kematian dua preman gampong itu dengan misteri kematian Nirwana.
Oarng yang dilanda rasa takut luar biasa adalah Maimun. Dia gelisah sepanjang hari. Lima jam lagi malam akan kembali berkuasa. Ia membungkus pakaian hendak meninggalkan desa itu.
Begitu dia keluar dari pekarangan, Pak Keuchik Mansur yang sedang mengayuh sepeda, berhenti, menyapa Maimun sembari memberitahu bahwa nanti malam diadakan doa bersama di meunasah.
“Kamu harus datang. Karena kedua almarhum sangat dekat denganmu,” kata Keuchik, kemudian dia pamit.
Maimun yang tidak sempat menjawab, tertegun di dekat pagar.sejenak kemudian dia menatap kea rah jalan. Pak Keuchik tak terlihat lagi. Begitu cepatnya dia mengayuh sepeda, seperti pembalap.
Maimun tidak peduli. Dia melangkah cepat meninggalkan rumahnya. Dia harus berkejaran dengan waktu, tak boleh gelap mendahului dirinya, sebelum ia tiba e kota kecamatan.
Tapi hingga jelang Ashar, tak satupun bus melintas. Maimun menyapu keringat di dahi. Biasanya selalu saja ada bus sore tujuan Medan yang melintas. Tapi mengapa hari ini tak ada satupun.
“Kamu jangan lari. Urusan kita belum selesai,” kata seseorang yang tiba-tiba berdiri di samping Maimun. Pria itu terkejut. Dia segera menoleh ke arah suara. Tak ada siapapun.
Maimun yang telah dikuasai oleh rasa takut, bergegas lari kembali ke desa. Ia seperti terjebak dalam labirin tak berujung. Sepanjang jalan tak seorang pun dia temui. Biasanya selalu saja ada warga yang berjalan kaki, atau mengayuh sepeda di jalanan berbatu itu.
Malam pun tiba. Dengan perasaan gelisah dia melangkah ke meunasah. Bergabung dengan warga yang sedang membaca samadiah untuk kedua temannya yang telah mati. Setelah samadiah setelah, warga mencicipi hidangan kue dan minum kopi yang disediakan oleh kaum ibu-ibu.
Ketika hendak menyeruput kopi, tiba-tiba mata Maimun melihat seorang perempuan di pintu meunasah, sedang mengumpulkan gelas kosong. Perempuan itu tersenyum ke arah dia. Dia mengenali perempuan itu. itu kan Nir…. Ah, sosok itu menghilang.
Malam itu Maimun diliput gundah luar biasa. sepanjang malam dia tidak bisa tidur. Tapi hingga pagi menjelang, tak ada peristiwa apa pun. Demikian juga malam-malam seterusnya, hingga seunujoh kedua temannya selesai digelar.
Pria itu mulai tenang. ia mulai merasa aman. Mungkin selama ini dirinya dikejar rasa bersalah, dan dilanda rasa takut setelah kedua temannya mati secara menggenaskan.
Hari-hari pun berlalu. Suasana desa kembali tenang.
Malam itu, dinihari,Maimun baru pulang dari jambo kupi. Dia jalan kaki sendirian sambil pegang senter seng. Pas lewat di bawah rumpun bambu dekat jembatan, mendadak hawa jadi dingin sekali. Dinginnya beda, sampai menusuk ke tulang. Suara jangkrik yang tadinya bising langsung hilang. Sunyi senyap.
“Maimun…”Ada suara manggil. Halus sekali, mirip suara angin tapi jelas itu sebutan namanya. Maimun berhenti. Jantungnya mulai dhap-dhup (berdegup kencang). Dia mengarakan sinar senter ke kiri-kanan, cuma ada pohon sagu.
Tiba-tiba, sosok yang ia kenal keluar dari rumpun sagu.
“Kenapa kau patahkan leherku, Mun…?”
Maimun langsung pucat. Senter di tangannya gemetar. Dari balik rumpun bambu, sesosok wanita keluar sambil menyeret kaki. Kepalanya miring ke bahu, patah. Rambutnya yang panjang sepantat basah kuyup, airnya menetes-netes ke tanah.
“N-Nirwana?! Setan! Kau sudah di dalam tanah!” Maimun teriak, suaranya pecah karena takut. Dia cabut parang di pinggang, tapi tangannya lemas.
Hantu Nirwana tidak bersuara lagi. Dia melayang maju, cepat sekali. Tangannya yang kurus dengan kuku hitam panjang langsung menjulur ke depan. Maimun balik badan, lari tunggang langgang sampai parangnya jatuh ke semak-semak.
Di belakangnya, kedengaran suara tawa melengking yang tinggi sekali, mengejar dalam jarak yang sangat dekat.Maimun berhasil sampai ke rumah panggungnya. Dia banting pintu, pasang palang kayu besar, lalu duduk mojok di lantai sambil nangis.
Malam itu dia sendirian di rumah. Ayah ibunya kebetulan lagi ke kota. Mereka menginap di kota.
Baru saja dia mau bernapas, dari bawah kolong rumah terdengar suara. Srek… srek… srek… seperti ada kuku tajam yang menggaruk papan lantai, tepat di bawah pantat Maimun duduk. Bau bangkai tikus bercampur air busuk langsung menyerbak lewat celah-celah lantai.
“Maimun… buka, Mun… dingin di luar…” Suara itu sekarang pindah ke balik pintu depan.
“Mun, Maimun, leherku sakit sekali.”
BRAK! BRAK! Pintu depan digedor kasar sekali sampai rumah panggung itu goyang. Palang kayunya mulai retak. Maimun sudah tidak bisa bermikir, dia cuma bisa kencing di celana sambil meracau minta ampun.
Sekali hantaman lagi, pintu papan itu jebol hancur. Bersamaan dengan angin malam yang masuk, hantu Nirwana sudah berdiri di ambang pintu. Mukanya sekarang kelihatan jelas di bawah sinar bulan; kulit pipinya terkelupas, rahangnya turun ke bawah waktu dia ketawa lepas.
“Ampun, Nirwana! Nggak sengaja aku, Mun! Ampun!” Maimun menyembah-nyembah di lantai.Nirwana tidak peduli. Tangan dinginnya yang seperti es tapi sekeras besi langsung mencengkeram leher Maimun.
Tubuh Maimun diangkat tinggi-tinggi. Kaki Maimun menendang-nendang udara, matanya mulai keluar, mukanya membiru. Persis seperti yang dirasakan Nirwana di pinggir kali waktu Maimun mencekiknya.
Kruk!Nirwana memutar kepala Maimun sampai menghadap ke belakang. Pemuda itu langsung lemas, jatuh berdebam di lantai kayu.Dia menjemput maut.
Besok paginya, Alue Gajah geger. Orang kampung geger. Maimun ditemukan mati di rumahnya dengan posisi kepala terbalik dan mata melotot ke atap.
Dari kejauhan, di atas rumah panggungnya, Mak Ramlah duduk sambil mengunyah sirih. Dia senyum tipis. Hutang nyawa sudah lunas. Tapi di bawah kolong rumah Mak Ramlah, di sudut paling gelap yang tidak pernah kena matahari, sepasang mata hitam pekat tetap mengawasi.
Catatan: Cerita di rubrik Misteri hanya bersifat hiburan semata. Bila ada kesamaan peristiwa dan nama di dalamnya, hanya bersifat kebetulan belaka.













