Home News Nasional Bertekanan Tinggi, Ini Bahaya CNG 3 Kilogram Dipergunakan Rumah Tangga

Bertekanan Tinggi, Ini Bahaya CNG 3 Kilogram Dipergunakan Rumah Tangga

Bertekanan Tinggi, Ini Bahaya CNG 3 Kilogram Dipergunakan Rumah Tangga
Ilustrasi. Foto: detik.

Komparatif.ID—Meskipun lebih murah dari LPG, tapi kita harus mewaspadai bahaya CNG bila digunakan sehari-hari di rumah tangga. disimpan dalam tekanan sangat tinggi, tabungnya berpotensi meledak dan bisa sangat mematikan.

Rencana pemerintah mencabut gas LPG dan menggantikannya dengan gas CNG Merah Putih, kian mendekati proses eksekusi. Pemerintah mengklaim bahwa gas CNG lebih murah. Pada tahap awal, pemerintah akan mengimpor 15 tabung compressed natural gas (CNG) dari Cina sebagai prototype.

PT Hestama Indo Sertifikasi, sebuah perusahaan yang bergerak pada jasa pelatihan dan sertifikasi K3 Kemnaker/BNSP, dalam postingan di instagramnya, Selasa, 30 Juni 2026, menerangkan perbandingan antara LPG 3 kilogram (gas melon) dengan CNG Merah Putih memiliki perbedaan fundamental, terutama pada aspek teknis dan risiko keselamatan.

Dalam konteks penyimpanan di dalam tabung, LPG 3 kilogram disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan rendah. Hanya sekitar 5 bar. Sebaliknya compressed natural gas (CNG) harus dimampatkan menjadi gas bertekanan sangat tinggi, mencapai 200 hingga 250 bar, supaya dapat dimasukkan ke dalam tabung berukuran setara tiga kilogram.

Dari sisi sifat gas, LPG lebih berat dari udara, sehingga jika terjadi kebocoran, gas akan cenderung mengendap di permukaan lantai atau area rendah. Sedangkan CNG jauh lebih ringan di udara, sehingga jika bocor akan langsung terbang dan menyebar di ruang terbuka.

Bahaya CNG dipergunakan di dalam rumah tangga, yaitu potensi kegagalan struktur tabung. Tabung untuk meminimalisir bahaya CNG haruslah tabung baja tanpa sambungan (seamless) tebal.

Bahaya CNG: Aspek Risiko Keselamatan

Pertama, risiko kebocoran (ledakan kimia). LPG, karena sifatnya yang berat dan mengendap, berisiko tinggi terakumulasi di area tertutup, seperti dapur dan berpotensi meledak jika bertemu percikan api.

Sedangkan bahaya CNG, memiliki risiko akumulasi yang lebih rendah di ruangan tertutup karena gasnya cenderung naik dan menyebar di udara.

Baca juga: CNG Merah Putih Gantikan LPG 3 Kg

Kedua, risiko tekanan (ledakan fisik). Ini perbedaan paling krusial. Bahaya utama LPG adalah kebocoran yang memicu kebakaran/ledakan kimia. Sedangkan CNG, karena tekanan operasionalnya mencapai 200 bar, risiko yang dikhawatirkan adalah ledakan fisik akibat kegagalan struktur tabung.

Bila tabung CNG mengalami cacat fisik, terjadi benturan ekstrem, atau kesalahan penanganan, tekanan masif di dalamnya dapat menyebabkan tabung pecah dengan kekuatan ledakan yang mampu merusak bangun sekitar dan mengubah serpihan tabung menjadi proyektil mematikan.

Cara Mitigasi

Mitigasi untuk LPG fokus pada ventilasi ruangan yang baik. Terutama di dekat lantai, dan deteksi kebocoran dini (bau gas/detector).

Mitigasi CNG fokus pada integritas fisik tabung, hindari benturan keras –trauma fisik pada material—dan memastikan komponen valve penurunan tekanan berfungsi dengan baik. Pun demikian, potensi bahaya tersebut, telah coba diantisipasi oleh pemerintah.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah merancang tabung CNG yang dilengkapi tabung dari logam liner, casing –sebagai pengaman tabung—dan valve penurun tekanan otomatis. Tabung dan casing diproduksi di Cina Daratan, sedangkan valve diproduksi di Jerman.

Previous articleBPMA dan PT Aceh Energy Gelar Khitan Massal Gratis untuk 200 Anak di Bireuen

1 COMMENT

  1. Klo melihat program2 pemerintah sekarang, banyaknya masyarakat yang keracunan maupun kematian dan dianggap sebagai statistik. maka nggak perlu heran klo akan banyak insiden2 di masyarakat terkait CNG ini.

    bahkan, program2 aman saja bisa punya resiko kematian. bayangkan program yang memang punya resiko kematian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here