Home News Nasional Dari Sekolah Rakyat, The Invisible People Belajar Berani Bermimpi

Dari Sekolah Rakyat, The Invisible People Belajar Berani Bermimpi

Dari Sekolah Rakyat, The Invisible People Belajar Berani Bermimpi
Siswi sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 25 Bireuen, Rehan Lutfia. Foto: Komparatif.ID/Fuad Saputra.

“Saya ingin menjadi guru!”

Jawaban itu datang cepat dari Rehan Lutfia. Tidak ada keraguan. Di usianya yang masih muda, siswi asal Gampong Cot Trieng, Kecamatan Kuala, Kabupaten Bireuen, tersebut sudah memiliki gambaran jelas tentang masa depannya.

Hari itu, Rehan duduk bersama teman-temannya di lingkungan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 25 Bireuen di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli. Sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Bireuen.

Sebagai Ketua OSIS, ia dikenal aktif mengikuti berbagai kegiatan sekolah. Namun yang membuatnya mudah dikenali bukan hanya karena jabatannya, melainkan karena caranya berinteraksi dengan orang-orang di sekitarnya.

Saat berjalan melewati halaman sekolah, salah seorang siswi kelas 2 SD menghampirinya dengan wajah ceria.

“Yang paling saya suka Kak Rehan, sering bantu-bantu saya,” ucap siswi itu sebelum kembali bermain bersama teman-temannya.

Bagi anak-anak yang lebih kecil, Rehan adalah kakak yang ramah dan mudah diajak berbicara. Bagi guru-gurunya, ia adalah siswa yang bertanggung jawab. Sementara bagi dirinya sendiri, Sekolah Rakyat adalah tempat yang memberinya kesempatan untuk kembali menata masa depan.

Sebelum berada di SRT 25 Bireuen, Rehan sempat putus sekolah. Sejak SMP, ia bekerja di industri rumah pembuatan kue. Aktivitas itu menjadi bagian dari kesehariannya dalam waktu yang cukup lama.

Kini, kehidupannya berbeda. Di lingkungan sekolah berasrama, ia dapat mengikuti pelajaran dengan lebih fokus, menghabiskan waktu bersama teman-teman seusianya, dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendukung perkembangan dirinya.

Baca juga: Pemerintah Aceh Pastikan Penuhi Seluruh Kebutuhan Sekolah Rakyat di Bireuen

Hal yang paling berkesan bagi Rehan justru datang dari para guru yang mendampinginya setiap hari.

“Saya senang melihat guru-guru di sini. Mereka selalu membantu kami belajar dan sabar mengajari kami. Karena itu saya ingin menjadi guru juga,” katanya, Kamis (18/6/2026).

Baginya, menjadi guru bukan hanya soal mengajar di depan kelas. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa membantu anak-anak lain memperoleh semangat belajar seperti yang ia rasakan sekarang.

“Kalau nanti saya jadi guru, saya ingin membantu murid-murid saya supaya mereka semangat belajar dan punya cita-cita,” ujarnya.

Kepala Sekolah SRT 25 Bireuen, Nidia Fitri, melihat Rehan sebagai sosok yang memiliki kemauan belajar yang kuat. Ia menilai Rehan mampu menjalankan perannya sebagai Ketua OSIS sekaligus menjadi kakak bagi siswa yang lebih muda.

“Rehan itu anak yang ulet, tidak gampang menyerah, sabar, dan pintar. Dia juga bisa membimbing adik-adiknya dengan baik,” kata Nidia.

Di sekolah yang sama, semangat untuk terus belajar juga terlihat pada Muhammad Yanis.

Siswa kelas 1 SMA asal Ujung Bayu, Kecamatan Gandapura, itu saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS. Jika Rehan bercita-cita menjadi guru, Yanis memiliki impian yang berbeda. Ia ingin menjadi seorang businessman.

Yanis dikenal sebagai anak yang energik dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Ketika menemukan hal yang belum dipahaminya, ia tidak menunggu terlalu lama untuk mencari jawaban.

Sering kali ia mendatangi guru secara langsung untuk bertanya tentang pelajaran maupun hal-hal yang berkaitan dengan minatnya.

“Kalau ada yang belum saya mengerti, saya langsung bertanya. Saya ingin tahu lebih banyak supaya bisa terus belajar,” katanya.

Minatnya terhadap dunia teknologi sudah terlihat sejak awal ia bergabung di sekolah. Menurut Nidia, Yanis termasuk siswa yang memiliki kesadaran kuat tentang pentingnya pendidikan.

“Kesadaran dirinya kuat. Dia punya keinginan sekolah yang kuat juga. Dia sudah memikirkan masa depannya. Dia ingin kuliah, ingin punya usaha, dan ingin terus belajar. Karena itu lebih mudah bagi kami untuk mendampingi dan mengarahkan dia sesuai minatnya,” ujar Nidia.

Sekolah kemudian berupaya mendukung minat tersebut melalui berbagai fasilitas yang dibutuhkan agar proses belajar Yanis dapat berjalan dengan baik.

Bagi Yanis, kesempatan belajar yang ia miliki saat ini tidak ingin disia-siakan.

“Saya ingin kuliah nanti. Saya juga ingin belajar lebih banyak tentang IT dan bisnis. Saya ingin punya usaha sendiri,” ujarnya.

Apa yang terlihat pada Rehan dan Yanis hari ini bukanlah perubahan yang terjadi dalam semalam. Keduanya bertumbuh melalui proses belajar, pendampingan, dan lingkungan yang memberi ruang bagi mereka untuk mengenali kemampuan diri.

Di SRT 25 Bireuen, proses itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Sekolah Rakyat hadir untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin ekstrem atau desil 1 dan 2, kelompok yang sering disebut sebagai The Invisible People.

Saat ini, sebanyak 74 siswa menempuh pendidikan di SRT 25 Bireuen. Mereka berasal dari latar belakang yang beragam dan membawa pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Menurut Nidia, tantangan terbesar pada awalnya bukan hanya soal pembelajaran, tetapi juga membantu siswa beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Anak-anak yang datang ke sini memiliki latar belakang yang berbeda. Ada yang belum terbiasa berinteraksi dengan banyak orang atau tinggal bersama teman-teman baru. Karena itu kami mendampingi mereka secara bertahap,” katanya.

Pendampingan tersebut dilakukan melalui pendekatan deep learning yang saat ini diterapkan sekolah. Dalam pendekatan ini, guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga menjadi fasilitator yang membantu siswa belajar dari pengalaman nyata.

Tujuan akhirnya memastikan setiap anak mendapatkan kesempatan pendidikan yang sama dan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki.

Di tengah suasana sekolah yang ramai pada sore hari, Rehan masih terlihat berbincang dengan beberapa adik kelas. Tidak jauh dari sana, Yanis terlihat sedang mengikuti latihan gerakan Paskibra yang akan ditampilkan tidak lama lagi.

Mereka memiliki cita-cita yang berbeda, karakter yang berbeda, dan jalan hidup yang berbeda. Namun keduanya dipertemukan oleh satu hal yang sama, yaitu kesempatan untuk kembali belajar.

Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat memperoleh pelajaran. Sekolah adalah tempat untuk bertumbuh, mengenal kemampuan diri, dan berani membayangkan masa depan yang sebelumnya mungkin belum pernah terpikirkan.

Dan dari ruang-ruang kelas di SRT 25 Bireuen, mimpi-mimpi itu sedang tumbuh sedikit demi sedikit, melalui proses belajar yang dijalani setiap hari.

Previous articleSudahlah, Mafia MBG Mengalahlah Selama Libur Sekolah
Next articleKubu VC Tumbangkan Ranjau Darat VC Tiga Set Langsung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here