Home News Nasional Membangun Masa Depan The Invisible People Melalui Sekolah Rakyat

Membangun Masa Depan The Invisible People Melalui Sekolah Rakyat

Membangun Masa Depan The Invisible People Melalui Sekolah Rakyat
Sekolah Rakyat Terintegrasi 25 Bireuen yang berada di Gampong Beunyot, Kecamatan Juli, Senin (12/1/2026). Foto: Komparatif.ID.

Kemiskinan sering kali tidak berhenti pada satu generasi. Keterbatasan ekonomi yang dialami orang tua dapat berlanjut kepada anak-anak ketika akses terhadap pendidikan, keterampilan, dan kesempatan hidup yang lebih baik juga terbatas.

Dalam kondisi serba terbatas seperti itu, pendidikan tidak hanya berfungsi sebagai proses belajar mengajar, tetapi juga menjadi salah satu instrumen penting untuk membuka peluang perubahan sosial dan ekonomi.

Gagasan itulah yang menjadi dasar lahirnya Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT), program pendidikan formal berasrama gratis yang berada di bawah Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia.

Program ini ditujukan bagi anak-anak dari kelompok miskin ekstrem atau desil 1 dan 2, kelompok masyarakat yang kerap disebut sebagai The Invisible People karena sering berada di luar jangkauan berbagai layanan dasar, termasuk pendidikan yang berkualitas.

Di Kabupaten Bireuen, program tersebut dijalankan melalui SRT 25 Bireuen yang saat ini menampung 74 siswa, terdiri dari 50 siswa tingkat sekolah dasar dan 24 siswa tingkat sekolah menengah atas.

Kepala Sekolah SRT 25 Bireuen, Nidia Fitri, S.Pd., mengatakan tujuan utama Sekolah Rakyat adalah memutus rantai kemiskinan yang selama ini terjadi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Yang pertama tetap sesuai dengan keinginan Bapak Presiden, itu adalah untuk memutus rantai kemiskinan. Karena banyak dikatakan masyarakat yang miskin kadang-kadang tidak bisa bersekolah sesuai seperti yang mereka harapkan,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).

Nidia menjelaskan siswa yang diterima di Sekolah Rakyat telah melalui proses pendataan dan penyaringan (screening) ketat. Seluruh siswa berasal dari keluarga yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi dan kondisi latar belakang keluarga yang kompleks.

Karena itulah SRT hadir dengan konsep yang berbeda. Tidak hanya menggratiskan biaya pendidikan, tetapi juga memastikan seluruh kebutuhan belajar siswa terpenuhi.

Meski begitu, Nidia mengatakan fasilitas bukanlah tujuan akhir, yang ingin dibangun Sekolah Rakyat adalah kemampuan siswa untuk keluar dari lingkaran keterbatasan yang selama ini membentuk kehidupan mereka.

Nidia menilai tantangan terbesar bukan hanya soal akses pendidikan, tetapi juga cara pandang sebagian anak terhadap masa depan mereka.

Banyak yang tumbuh dalam lingkungan yang membuat kemiskinan terlihat sebagai sesuatu yang tidak dapat diubah. “Sampai di sekolah, kami tugasnya membangun mindset mereka lagi,” katanya.

Upaya membangun pola pikir tersebut dilakukan melalui pendidikan yang berlangsung sepanjang hari. Di ruang kelas, siswa mengikuti pembelajaran akademik dengan pendekatan kurikulum Deep Learning.

Pendekatan ini menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi, tetapi membantu siswa memahami hubungan antara pelajaran dan kehidupan nyata.

Pembelajaran diarahkan agar siswa mampu berpikir, memahami, dan menerapkan pengetahuan dalam berbagai situasi. “Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga menjadi fasilitator. Siswa diajarkan pada pembelajaran yang langsung berkaitan dengan kehidupan nyata,” ujar Nidia.

Kurikulum tersebut diterapkan oleh 18 tenaga pendidik yang mengajar siswa dalam sistem multi grade. Dengan tingkatan siswa yang beragam, guru dituntut mampu menyesuaikan metode pembelajaran sesuai kebutuhan peserta didik.

Bagi Sekolah Rakyat, pendidikan akademik hanyalah satu bagian dari proses yang lebih besar. Setelah kegiatan belajar selesai, pembinaan dilanjutkan di lingkungan asrama. Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Empat wali asrama dan satu wali asuh mendampingi siswa selama 24 jam. Setiap wali asuh bertanggung jawab membimbing sekitar sembilan anak. Mereka tidak hanya mengawasi aktivitas harian, tetapi juga membantu perkembangan karakter dan perilaku siswa.

“Wali asuh bukan sekadar mengasuh. Yang paling utama membimbing karakter siswa,” kata Nidia.

Pendampingan tersebut dilakukan secara sistematis. Selain rapor akademik, siswa juga memiliki rapor karakter yang memuat 62 rincian penilaian. Penilaian tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari kedisiplinan, kemampuan berinteraksi dengan orang lain, tanggung jawab, kepedulian sosial, hingga empati.

Model pembinaan seperti ini lahir dari kesadaran bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik. Kemampuan bekerja sama, disiplin, percaya diri, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan juga menjadi bekal penting dalam kehidupan.

Karena itu, berbagai kegiatan pendukung turut menjadi bagian dari pendidikan di SRT 25 Bireuen. Seluruh siswa diwajibkan mengikuti ekskul Taekwondo. Selain itu tersedia berbagai ekskul pilihan seperti sepak bola, bulutangkis, paduan suara, menari, dan Paskibraka.

Sekolah juga menjalankan program Elite Student yang dirancang bersama pihak TNI sebagai patner untuk melatih disiplin siswa dalam kehidupan sehari-hari.

Pembinaan spiritual juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Siswa mengikuti kegiatan mengaji, pendalaman agama, serta salat berjamaah setiap hari. Seluruh kegiatan tersebut dirancang untuk mendukung perkembangan siswa secara akademik, sosial, emosional, dan spiritual.

Nidia mengatakan dalam perspektif Sekolah Rakyat, memutus rantai kemiskinan tidak cukup dilakukan dengan memberikan bantuan sesaat. Upaya tersebut membutuhkan investasi jangka panjang melalui pendidikan yang menyeluruh. Pendidikan yang tidak hanya menghasilkan nilai rapor, tetapi juga membangun keterampilan, karakter, dan keyakinan bahwa masa depan dapat diperjuangkan.

“Kalau generasi itu bisa diubah, putus kemiskinan itu cukup di generasi mereka. Nanti generasi di bawah mereka harus berubah. Itu yang mau kami bangun sekarang pada anak-anak itu,” ungkap Nidia.

Dukungan Penuh Pemerintah

Keberadaan SRT 25 Bireuen mendapat perhatian dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bireuen. Bupati Bireuen, Mukhlis, S.T., menilai program tersebut telah menunjukkan perkembangan yang positif sejak mulai berjalan.

“Para siswa dari kelompok masyarakat sasaran telah terdaftar dan mengisi ruang-ruang kelas yang tersedia. Kegiatan belajar-mengajar juga sudah berjalan secara rutin. Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari para siswa maupun guru-guru pendamping di lapangan,” kata Mukhlis.

Menurut Bupati Mukhlis, antusiasme para siswa menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan yang selama ini sulit dijangkau ternyata sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Ia menilai program ini bukan hanya memberikan layanan pendidikan, tetapi juga membuka harapan baru bagi keluarga miskin untuk meningkatkan kualitas hidup mereka melalui pendidikan.

Ia berharap pemerintah pusat terus memberikan dukungan berkelanjutan, baik dalam bentuk penguatan program, peningkatan kapasitas tenaga pendidik, maupun pemenuhan sarana dan prasarana pendidikan.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bireuen, keberadaan Sekolah Rakyat merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia. Melalui pendidikan yang menyeluruh, anak-anak dari keluarga kurang mampu diharapkan memiliki kesempatan yang sama untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Pandangan serupa disampaikan Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Menurutnya, Sekolah Rakyat merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam menghadirkan pendidikan gratis dan berkualitas bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di lapisan paling bawah.

Menurutnya, Indonesia tidak akan mampu mencapai cita-cita Indonesia Emas apabila anak-anak dari keluarga miskin terus tertinggal.

Menurutnya, gagasan Sekolah Rakyat lahir dari semangat untuk mengangkat harkat dan martabat kelompok masyarakat marginal. Ia menegaskan pembangunan Indonesia tidak boleh hanya dinikmati oleh kelompok tertentu, tetapi harus mampu menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

“Indonesia Emas tidak akan tercapai tanpa kebangkitan wong cilik,” tegasnya.

Komitmen tersebut juga ditegaskan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Presiden mengatakan Sekolah Rakyat merupakan bentuk kehadiran negara bagi masyarakat yang paling membutuhkan dukungan.

Menurut Presiden, tujuan utama pembangunan nasional adalah memastikan seluruh rakyat Indonesia dapat hidup dengan layak dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

“Memang Sekolah Rakyat kita wujudkan untuk membantu mereka yang paling susah, mereka yang paling kurang berdaya,” ujar Prabowo.

Previous articleKubu VC Tumbangkan Ranjau Darat VC Tiga Set Langsung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here