Home Olahraga Luis Enrique Ajari Mikel Arteta Cara Bermain Sepak Bola Bernilai Tinggi

Luis Enrique Ajari Mikel Arteta Cara Bermain Sepak Bola Bernilai Tinggi

Luis Enrique
Pelatih PSG Luis Enrique(AFP/INA FASSBENDER)

Komparatif.ID, Budapest—Pelatih Paris Saint-Germain (PSG) Luis Enrique, membawa timnya bermain di final Liga Champions UEFA 25/26 di Puskas Arena, Budapest, Hongaria, Sabtu, 30 Mei 2026.Luis Enrique bukan sekadar datang untuk mempertahankan gelar juara Liga Champions Eropa, tapi juga memberikan pelajaran penting bahwa sepak bola bukan sekadar memenangkan pertandingan.

Luis Enrique dan Mikel Arteta telah lama kenalan. Bahkan pernah bekerjasama dengan Pep Guardiola. Perbedaannya, Enrique telah lebih lama mengenal Pep, karena pernah satu tim ketika keduanya pernah sama-sama berstatus pemain Barcelona. Enrique juga menjadi sebagai pelatih pengganti setelah Pep hengkang pada 2008.

Sementara Arteta, setelah pensiun sebagai pemain langsung ikut Pep menjadi asisten pelatih selama 3,5 tahun.

Keduanya tahu gaya permainan Pep seperti apa. Keduanya tahu cara Pep melakukan man management tim, tapi output yang dihasilkan benar-benar beda.

Audi Rahmantio, yang merupakan penggemar sepak bola sekaligus penyiar radio, dan memiliki seabrek aktivitas lainnya, menulis secara khusus antara Luis Enrique dan Arteta setelah final Liga Champions UEFA 2025/2026 yang dimenangkan oleh PSG melalui babak adu penalti.

Secara pengalaman, tulis Rahmantio di Threads, Senin, 1 Juni 2026, Luis Enrique lebih berpengalaman sebagai pelatih. Ia pernah gagal di AS Roma dan tidak berhasil mengangkat prestasi Timnas Spanyol. Sementara itu, pengalaman Arteta sebagai pelatih  baru saja, sejak menggantikan Unai Emery akhir 2019 sampai saat ini.

Baca: Arsenal Setelah 20 Tahun

Luis Enrique berhasil menyatukan ruang ganti Barcelona yang isinya bintang besar seperti Messi, Neymar, Suarez, Iniesta, Pique. Ia berhasil mengubah wajah PSG yang Mbappe-centris, menjadi kekuatan kolektif yang luar biasa.

Di tangannya, PSG yang sering disebut sebagai badut UCL, berubah menjadi juara yang proper.

“Dari uraian di atas, kalian yang fans Arsenal mulai paham kan, mengapa gua bilang Arsenal juara terburuk EPL?” tulis Rahmantio.

Ketika unggul 1-0, Arsenal bukannya main mengepress lawan demi mengincar gol kedua. Mereka malah parkir pesawat. Kenapa?

120 menit bermain, empat attempt, 1 on target, seriuskah Arsenal juara EPL itu bermain di final UCL?oh my God! Padahal baru enam menit laga berjalan, masih banyak wkatu untuk mengejar gol kedua dan terus-menerus menekan PSG. Tapi itu tidak dilakukan Arsenal.

Strategi bertahan Arsenal harus diakui sangat brilian. Lini tengah PSG dikurung total, dan tim asal Prancis itu hanya bisa memanfaatkan lebar lapangan dan mencoba menusuk melalui sayap, tapi gagal.

Pertahanan Arsenal memang oke, tapi soal menyerang, wah kacau ini.

Pemain benar-benar tidak bisa memegang bola. Tidak mendominasi lini tengah, tidak mencoba melakukan pressing, tidak mencoba menciptakan peluang sendiri. Selama 120 menit, Cuma mampu membuat empat peluang, dan satu tembakan on target. Passing accuraty bahkan di bawah 85 persen. Statistik itu sudah menjelaskan semuanya.

Pasti akan banyak yang mengkambinghitamkan Christian Mosquera karena melakukan pelanggaran tidak perlu.Pemain muda yang yang minim pengalaman, apalagi bermain di final UCL. Demikian juga Gabriel Magalhaes, siapa yang bilang dia bek terbaik di dunia? Orang ini akan dihujat selama beberapa minggu ke depan.

At the end of the day, Arsenal gagal juara UCL karena kesalahan mereka sendiri. Pemain dan pelatih, sama-sama bertanggung jawab, cukupkan bukti Arsenal juara terburuk EPL?

Previous articlePolisi Ungkap Motif Pembakaran Fakultas Pertanian USK
Next articleBireuen Masuk 3 Besar Pengelolaan KDMP Terbaik se-Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here