Home Opini Kita Disetting untuk Gagal Sejak Awal

Kita Disetting untuk Gagal Sejak Awal

Segala kekalahan yang kita alami selama ini, memang telah disetting untuk gagal sejak awal, kita hanya menjalaninya saja. 

28 tahun bekerja, gaji habis untuk membayar kost dan membayar gojek. Saldo nol, dan orang tua memberikan saran,”kurangi jajan, nabung aja.”

Entah di mana persoalan cara orang tua berpikir. Kita dipaksa melakukan gaslighting dengan standar ekonomi 30 tahun lalu.

Inilah yang sedang dihadapi oleh 74 juta orang di Indonesia, yang sedang sedang berjuang bertahan hidup di tengah matematika yang mustahil.

Baca: Pengangguran Merupakan Kebutuhan Struktural Kapitalisme

Kondisi ini bukan menyebabkan kelelahan fisik. Sekaligus lelah batin. Ini merupakan persoalan memikirkan uang setiap detik. Membandingkan harga telur, menghitung ongkos kirim, takut tagihan pinjol datang, dan lain-lain.

Kita berada pada tahap quarter life crisis yang bukan pada tataran kita mau melakukan apa mengisi hidup. Tapi telah terjebak pada situasi bahwa hidup memang akan begini terus sampai tua.

Akhirnya banyak yang melakukan doom spending pada jam dua pagi, bukan untuk impulsif, tapi bentuk survival instinct supaya tidak gila.

Teman-teman, dulu gaji Rp300 ribu bisa beli rumah. Sekarang UMP Rp5,7 juta, tapi biaya hidup layak butuh 14 juta rupiah.

Harga barang naik 43 persen, sementara upah stagnan. Di sinilah kita harus menyadari bahwa kita sebenarnya telah disetting untuk gagal sejak hari pertama kerja.

Ketika kamu merasa worthless tiap kali gaji habis pada minggu kedua, itu bukan kesalahan kamu, itu hasil dari sistem yang memang tidak didesain untuk membuat kita menang.

Bila kita sudah pada tahapan menyadari ini, teriakan influencer,” Jangan jadi owned, jadilah owner.” Terdengar seperti sesuatu yang tidak berarti. Karena kita sudah pada tahapan sadar bahwa 80 persen gaji cuma untuk cukup untuk memenuhi kebutuhan biologis survival.

Sementara side hustle yang kita kerjakan setengah mampus, hanya menjadi second job yang membuat burnout parah.

Teman-teman, kebanyakan konten inspirasi cuma untuk membuat orang miskin merasa bersalah karena tidak punya modal warisan dari orang tua. Mereka menciptakan sesuatu supaya kita tidak tahu bahwa telah disetting untuk gagal sejak awal.

Stop membandingkan progress kamu dengan mereka yang start line-nya beda 20 tahun.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 56 persen Gen Z memakai pinjol untuk beli nasi dan bayar listrik. Bukan untuk Iphone, bukan untuk hedon.

Tumbuh suburnya pinjol—dengan berbagai risikonya- merupakan hal lumrah, ini rasional decision di bawah tekanan sistemik. Kalau kamu masih “makan tabungan” setiap bulan, stop shame diri sendiri. Loud budgeting, bilang bahwa kamu tidak punya duit. Tak perlu merasa malu.

Kondisi seperti kita mampu membangun emergency buffer selama tiga bulan saja sudah merupakan kemenangan besar.

Tentu kita harus memikirkan jalan keluar, atau setidaknya pengatur ritme supaya budget tidak bertambah parah kondisinya.

Ganti kebiasaan hangout dengan lari sore. Alokasikan pleasure budget kecil supaya tidak gila, tapi stop mimpi men-DP rumah buat sementara waktu.

Kamu, aku, dan kita, merupakan bagian dari 74 juta penduduk Indonesia yang facing the same math.

Sistemnya yang sakit, bukan kita yang lemah. Sistemnya yang rusak, bukan kita yang tidak pintar menabung. Sistemnya yang tidak benar, bukan kita yang tak becus bekerja.

Kita telah disetting untuk gagal sejak hari pertama kerja.

Penulis: Arsy, pengguna akun @joursy_@threads.net. Tulisan ini diposkan sebagai threads, disitat Komparatif.id, dan disesuikan dengan gaya tulisan media massa.

Previous articleKetua Fraksi PA Anwar Ramli Kecelakaan di Tol, Istri Meninggal Dunia
Next articleJazz & Tepuk Tangan yang Paling Aceh

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here