875 Masehi di Andalusia. Ketika itu Eropa masih dalam kegelapan. Abbas bin Firnas seorang polimatik muslim yang menciptakan sejarah penerbangan yang nyaris sempurna untuk masanya.
Peristiwa itu berjarak 1000 tahun dari Wright Brothers berhasil melakukan uji terbang pertama kali di dalam sejarah yang dicatat gilang-gemilang di dalam berbagai buku.
875 Masehi, Abbas bin Firnas berdiri di atas puncak Jabal al-Arus (Mount of the Bride) di Kordoba. Disaksikan ribuan pasang mata, sang ulama bersiap melakukan uji terbang untuk pertama kalinya.
Pertunjukan terbang hari itu bukan aksi sok jago. Dengan usia yang telah mencapai 65 tahun, Abbas bin Firnas telah mempersiapkan semuanya, sayap glider, dan ucapan perpisahan.
Dari atas tebing, ia kemudian melompat sembari membentangkan sayap, meniru cara burung terbang yang menggunakan prinsip aerodinamis.
Abbas bin Firnah berhasil melayang dengan sangat apik selama 10 menit di udara. Dia meluncur di udara, sembari di bawahnya, ribuan pasang mata menyaksikan dengan penuh ketakjuban.
Petaka terjadi, ketika hendak mendarat, dengan laju yang sangat kencang, sang ilmuan gagal. tubuhnya terhempas ke tanah. Tulang punggungnya patah.
Ternyata Abbas bin Firnas melupakan satu komponen penting dari tubuh burung: ekor. Ternyata ekor merupakan komponen penentu burung saat mendarat. Itu yang tak sempat dipelajari olehnya.
Baca juga: Ketua DPRA Minta Pergub JKA Dicabut
Abbas bin Firnas meninggal dunia pada tahun 888, abad 9 Masehi. Ia tak sembuh sejak kecelakaan itu terjadi. tapi ia telah menciptakan sejarah, bahwa manusia bisa “melipat waktu” pada suatu hari.
Peristiwa ujicoba terbang pertama kali tersebut dicatat oleh sejarawan besar Al-Maqqari, berdasarkan puisi yang ditulis oleh Mumin ibn Said, yang hidup sezaman dengan Abbas.
***
Muzakir Manaf (Mualem) berhasil menerbangkan “Aceh Airways” pada Pilkada 2024. Ia bersama co-pilot Fadhlullah (Dek Fadh) saat ini sedang terbang. Di pesawat mereka terdapat 5,2 juta jiwa penumpang. Terdiri dari penduduk desil 1 hingga 10.
Satu-satunya fasilitas di dalam pesawat itu yang telah ada sejak masa Irwandi menjadi pilot yaitu Jaminan Kesehatan Aceh (JKA). Sebuah konsep Universal Health Coverage (UHC) yang memberikan –bukan semata layanan kesehatan gratis—sekaligus perlindungan menyeluruh untuk seluruh rakyat Aceh.
JKA merupakan satu-satunya fasilitas “mewah” yang dapat dirasakan oleh seluruh rakyat Aceh, tak peduli dia dari kelompok politik yang mana, dan dari latar belakang apa.
Penerbangan “Aceh Airways” tiba-tiba terguncang. Mulai 1 Mei 2026, terdapat 692.742 jiwa penumpang pesawat dari desil 8-10 dikeluarkan dari peserta JKA. Alasan manajemen maskapai tersebut, demi lebih tepat sasaran. Supaya layanan tersebut hanya dinikmati oleh masyarakat ekonomi lemah saja.
Dilihat sepintas, lahirnya Peraturan Gubernur Aceh Nomor 2 Tahun 2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang sekaligus membatalkan Pergub JKA Nomor 13 Tahun 2018 yang telah diubah Pergub JKA nomor 40 Tahun 2022, merupakan sesuatu yang keren.
Tapi, bila dilihat lebih dalam, menyimpan masalah dan pengingkaran. Bahwa lahirnya JKA untuk memberikan perlindungan untuk seluruh rakyat, tanpa melihat latar belakang ekonomi.
DPRA memberikan peringatan. Sebagai petugas pengawas tower bandara Ketua DPRA Zulfadli dan kawan-kawan mendesak Pergub Nomor 2 Tahun 2026 itu dicabut.
Bila pergub tersebut tidak dicabut, maka ekor Aceh Airways akan rusak, dan ini berbahaya bagi keselamatan penerbangan, sekaligus merusak keselamatan kepemimpinan Mualem-Dek Fadh.
Zulfadli memberikan peringatan dengan pertimbangan politik. Setelah ia menelaah dengan seksama, terdapat persoalan lebih dalam yang sejatinya dapat diperbaiki. Soal tata kelola. Perbaiki tata kelola JKA, tanpa perlu mencerabut hak seluruh rakyat yang diberikan perlindungan menyeluruh dalam bidang kesehatan, tanpa melihat desilnya.
Semua keputusan memiliki risiko, tapi JKA merupakan ekornya politik Aceh saat ini. Zulfadli paham itu, dan dia tidak ingin pesawat yang sedang dipiloti Mualem gagal mendarat ketika hendak mendarat nantinya.













