Home Entertainment Film Pangku, Sinema Bahan Perenungan, 4 Penghargaan BIFF

Film Pangku, Sinema Bahan Perenungan, 4 Penghargaan BIFF

film pangku
Salah satu poster Film Pangku.

Film Pangku garapan Reza Rahadian resmi pamit dari bioskop pada Jumat, 19 Desember 2025. Film tersebut mampu menggaet 562.332 penonton selama 41 hari tayang di bioskop Indonesia.

Film tersebut dibintangi oleh Claresta Taufan (Sartika), Fedi Nuril (Hadi), Cristine Hakim (Bu Maya), Shakeel Fauzi (Bayu Kesuma), Jose Rizal Manua (Pak Jaya), dan beberapa bintang pendukung lainnya.

Film Pangku diproduksi oleh rumah produksi Gambar Gerak yang dirilis 20 September 2025 di Festival Film Internasional Busan (BIFF) ke-30, dan tayang di bioskop Indonesia mulai 6 November 2025.

Film Pangku berhasil meraih empat penghargaan di BIFF, dan meraih empat penghargaan pada Festival Film Indonesia 2025. Salah satunya sebagai Film Terbaik.

Film Pangku lahir dari pengalaman Reza Rahadian melakukan pengambilan gambar di daerah Pantura saat ikut terlibat proyek serial mini Sementara, Selamanya (2020).

Di Pantura, ia melihat sangat banyak warung kopi pangku. Para sopir truk yang beristirahat di sana, dilayani oleh wanita-wanita pelayan warkop, yang duduk di pangkuan para sopir, sembari menemani sopir menyeruput kopi.

Film Pangku tersebut langsung menjadi film paling banyak ditonton di Netflix Indonesia, sejak dirilis di platform digital tersebut pada 23 April 2026.

Rukimawan, seorang penggemar sinema, menulis pengalamannya menonton film Pangku. Di linimasa @threads, Rukimawan mengatakan ada film yang ditonton untuk hiburan. Ada film yang ditonton, dan diam beberapa menit setelah selesai menonton, karena tidak tahu harus bilang apa.

“Film Pangku masuk kategori kedua, dan sekarang ada di Netflix,” sebut Rukimawan.

Menurutnya, Reza Rahadian mendapatkan ide membuat film tersebut, karena menyaksikan secara langsung warung kopi pangku yang sangat banyak di Pantura. Bisnis warkop tersebut merupakan salah satu fenomena yang masih jarang diangkat ke dalam sinema-sinema di Indonesia, apalagi dari sudut pandang perempuan.

Film tersebut juga sebuah tribute Reza Rahadian kepada ibunya yang membesarkannya sebagai orang tua tunggal.

“Film ini bukan dibuat dari riset semata, tapi dari rasa yang sudah lama disimpan,” tulis Rukimawan.

Ia memuji Claresta Taufan, yang dalam sinema tersebut berhasil memerankan tiga sosok sekaligus dalam satu karakter. Wanita, ibu, dan istri. Claresta melakukannya tanpa berlebihan sedikitpun.

Rukimawan juga memuji acting Shakeel Fauzi. Sebagai Bayu, ia benar-benar mampu berlakon sebagai anak Sartika, pelayan warkop pangku di tepi lintas nasional Pantura.

Cristine Hakim sebagai Bu Maya menampilkan lakon luar biasa sebagai dua kepribadian dalam satu karakter. Seorang ibu—ibu sebut—yang lemah lembut dan gemar menolong, serta seorang manipulator yang mampu memainkan keadaan.

Salah satu kekuatan paling besar dalam film Pangku, tidak ada karakter yang hitam putih. Semuanya punya alasan, semuanya punya luka. Itulah yang menyebabkan Pangku bukan seperti film, tapi seperti hidup [yang sesungguhnya].

Dari awal hingga akhir film, Sartika selalu menjalani hidup dengan berbagai persoalan. Tidak ada titik di mana dia bisa bilang,” Oke, sekarang aman.”

Sepanjang film Reza Rahadian menyuguhkan Sartika yang lelah, terluka, yang sampai akhir film kita disuguhkan cerita yang bukan hanya membuat kita sedih, tapi juga sadar bahwa banyak perempuan di luar sana yang hidup [seperti di dalam film] setiap hari, tanpa kamera.

Baca: Anjing Itu Bernama Bandit

Jadi, berbagai penghargaan baik di tingkat regional, internasional, dan lokal yang diraih Film Pangku, dengan durasinya 1 jam 44 menit, merupakan penghargaan yang bukan hanya pantas, tapi penting.

Bila kamu sekarang memiliki hubungan dengan ibu—apa pun kondisinya—sekarang mungkin, setelah kamu menonton film tersebut, kamu akan menemukan alasan untuk menghubunginya.

Film Pangku Kisah Perjuang Wanita Kelas Bawah

Banyak penonton di Netflix menyampaikan setelah mereka menonton Film Pangku, ada rasa yang memenuhi rongga dada. Bahkan banyak yang harus mandi sampai tiga kali selama menontonnya. Suasana gerah akibat sinematographinya yang menjalar hingga ke rongga jiwa, membuat mereka gerah.

“Kumuh banget tempatnya, kita yang nonton berasa ada di situ,” tulis seorang penonton.

Zikrul Safwan menulis sebuah testimoni setelah menonton. Film berlatar belakang pada era reformasi 1998 tersebut mengetengahkan kehidupan Sartika, seorang ibu muda dengan banyak impian, akhirnya berakhir sebagai seorang pelayan kopi pangku di Pantura, melayani para sopir hidung belang yang manipulatif.

Kemiskinan membuat Sartika dan putranya terdampar ke Pantura, sebagai perempuan yang tidak memiliki pilihan, sebagai seorang ibu yang harus berjuang membesarkan anaknya, dan sebagai seorang wanita dengan harapan-harapan yang tetap tumbuh meski dipaksa terbentur realita.

“Film ini jangan Cuma ditonton, tapi dirasain. Kalo perasaan kalian sama kaya aku (terganggu) berarti film ini keren dan bagus. Ini yang mau disampaikan sama Reza Rahadian di kehidupan Tika bener-bener nyampe ke kita,” tulis Meldha Bernas.

Previous articleIjazah Akademik Bukan Jaminan, Menaker: Sarjana Harus Miliki 3 Kesiapan
Next articleDihantam Arus Saat Menyeberang, 1 Warga Pidie Hilang di Sungai Mane

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here