
Komparatif.ID, Bireuen— Program rehabilitasi lahan sawah pascabencana di Kabupaten Bireuen memasuki tahap lanjutan dengan dimulainya penanaman perdana padi gogo di Desa Pulo Siron, Kecamatan Kutablang, pada Sabtu (25/4/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah awal pemulihan fungsi lahan yang sebelumnya rusak akibat banjir dan tanah longsor.
Penanaman perdana tersebut dihadiri Wakil Bupati Bireuen, Ir. Razuardi, jajaran Kementerian Pertanian, unsur Forkopimda, serta masyarakat setempat. Kegiatan ini menandai kembali aktifnya lahan pertanian seluas sekitar 85 hektare yang sebelumnya tidak dapat dimanfaatkan.
Sebelum penanaman dilakukan, pemerintah lebih dahulu memperbaiki infrastruktur penahan sawah yang mengalami kerusakan cukup parah akibat bencana. Setelah perbaikan dilakukan, lahan dinilai siap untuk kembali diolah. Untuk menyesuaikan dengan kondisi lahan, varietas padi gogo dipilih sebagai komoditas yang ditanam pada tahap awal ini.
Baca juga: 677 Hektare Sawah Terdampak Bencana di Bireuen Mulai Dibersihkan
Direktur Pelindungan dan Optimasi Lahan Kementerian Pertanian, Dr. Dede Sulaeman, menyampaikan pemerintah pusat berkomitmen mendampingi petani di wilayah terdampak agar proses pemulihan dapat berjalan optimal dan tidak mengganggu masa tanam.
“Kami mendorong percepatan rehabilitasi agar produksi pangan nasional tetap terjaga. Sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, hingga kabupaten menjadi kunci agar petani di Bireuen dapat kembali berdaya secara ekonomi,” ujar Dede Sulaeman, Minggu (26/4/2026).
Wakil Bupati Razuardi dalam kesempatan yang sama menyampaikan apresiasi terhadap dukungan yang diberikan oleh Kementerian Pertanian. Ia menilai program tersebut tidak hanya membantu secara teknis, tetapi juga memberi dorongan bagi masyarakat untuk kembali mengelola lahan pertanian mereka.
Menurut Razuardi, sektor pertanian merupakan salah satu penopang utama ekonomi masyarakat di Desa Pulo Siron. Dengan dimulainya penanaman ini, diharapkan produktivitas lahan dapat kembali pulih secara bertahap.
Warga setempat menyambut positif pelaksanaan program tersebut. Setelah cukup lama lahan tidak dapat digarap karena tertutup material bencana, petani kini mulai kembali ke sawah dengan pendampingan dari petugas lapangan.












