Pascarevolusi Islam Iran pada tahun 1979, rivalitas Iran dengan Israel mulai berdenyut tetapi bukan dalam bentuk konfrontasi militer secara langsung, namun dengan pendekatan metode perang bayangan (shadow war).
Perang ini dilakukan secara tersembunyi, namun tidak ada pengakuan resmi, akan tetapi dengan melibatkan komponen lain, seperti proksi, serangan siber, sanksi ekonomi hingga perang informasi.
Iran melakukan serangan kepada Israel dengan cara membangun gerakan bayangan berupa pembentukan aliansi milisi guna berperang dengan Israel. Contohnya Hizbullah di Lebanon. Kelompok ini berperan sebagai poros perlawanan terhadap Israel dan menjaga kepentingan Iran, yang secara geografis berbatasan langsung dengan Israel.
Iran juga melebarkan pengaruhnya terhadap Irak dan Suriah dengan mendirikan gerakan poros perlawanan untuk menyerang negara koalisi Israel dan Amerika Serikat. Di Palestina Iran mendukung poros perlawanan Jihad Islam dan Hamas.
Iran berhasil mendirikan Gerakan Houthi Ansarallah di Yaman yang mampu mengontrol perdagangan maritim global. Pada saat terjadinya perang antara gerakan perlawanan Hamas dengan Israel Oktober 2023, Houthi memblokade jalur vital laut merah sehingga memberi efek domino tekanan dengan kerugian dengan lumpuhnya fasilitas-fasilitas pelabuhan-pelabuhan di Israel.
Namun shadow war antara Iran dengan Israel resmi berakhir, ketika Israel melakukan serangan terhadap fasilitas pengayaan uranium utama nuklir di Natanz Utara, Provinsi Isfahan, serta sistem pertahanan udara dan rudal Kementerian Pertahanan Iran di Teheran.
Iran kemudian melakukan serangan balasan dengan seratusan drone dan rudal balistik ke wilayah teritorial Israel. Sebuah rudal Iran menghancurkan fasilitas militer pasukan pertahanan Israel (IDF). Perang ini menyebabkan ratusan warga sipil Iran menjadi korban dan puluhan warga Israel. Perang ini dimulai dari 13 Juni 2025- 24 Juni 2025, berakhir dengan gencatan senjata.
Perang 12 hari di tahun 2025, ternyata menyimpan bara api yang belum sepenuhnya padam, percikan api itu menyala kembali pada 28 Februari 2026, Israel bersama Amerika Serikat menyerang berbagai fasilitas strategis negara Iran, bahkan pemimpin spiritual Iran Ayatollah Ali Khamenei dibunuh bersama 40 pejabat lainnya, bahkan kabar terbaru Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani dan Menteri Intelijen Ismail Khatib juga berhasil dibunuh.
Baca juga: 3 Prajurit TNI Gugur dalam 2 Hari Akibat Serangan Israel di Lebanon Selatan
Kebijakan Israel dengan membunuh para pemimpin otoritas Iran, sebenarnya untuk melumpuhkan rezim. Namun fakta di lapangan justru terbalik, Iran tidak menyerah. Serangan Israel dan seluruh pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah semakin masif dilakukan, belum ada tanda alarm perang kapan akan berakhir.
Rivalitas Negara Superpower
Perang Iran Vs Israel bukan saja konflik antara wilayah di Timur Tengah akan tetapi pertarungan negara-negara adidaya untuk menancapkan pengaruh di wilayah yang akan sumber daya minyak. Hubungan Amerika Serikat dan Israel dapat dilihat dari buku Our American Israel karya Amy Kaplan, ibarat “Ikatan kuat Amerika Serikat dan Israel sudah dikenal luas. Ikatan ini tidak terputus.”
Narasi hubungan “ katan tidak terputus” menjelaskan janji setia dan mutlak bahwa Amerika Serikat senantiasa untuk menjaga eksistensi Israel sampai kapanpun dari berbagai ancaman.
Israel menjadi sekutu penting Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah berbagai macam bantuan diberikan mulai dari pengembangan sektor militer, keamanan dan pengembangan intelijen serta kerja sama dalam bidang perdagangan, teknologi dan lain sebagainya.
Perang ini menjadi pertarungan bagi Amerika Serikat untuk menjaga eksistensinya di kawasan Timur Tengah, supaya bisa tetap mengontrol negara-negara Teluk dengan pangkalan-pangkalan militer serta kilang-kilang energi yang telah dibangun puluhan tahun.
Apabila Israel kalah akan memberikan efek domino memudarnya pengaruh Amerika Serikat di kawasan dunia Arab, akan digantikan oleh rivalnya; Tiongkok dan Rusia yang mulai menapaki pengaruhnya di kawasan kaya emas hitam itu.
Hubungan Negeri Tirai Bambu dengan Iran relatif harmonis, bahkan Iran ikut dalam skema kebijakan Inisiatif Sabuk dan Jalan serta menjadi mitra dagang terbesar dalam sektor energi, Iran memasok lebih 80% minyak ke Tiongkok, kebijakan ini menjadi solusi alternatif untuk menghindari saksi Amerika Serikat.
Namun hubungan Tiongkok tidak hanya pada tapal batas perekonomian akan tetapi mencakupi beberapa sektor mulai dari teknologi rudal, program satelit dan luar angkasa, kerjasama intelijen, keamanan siber dan peperangan elektronik.
Dukungan militer China untuk Iran juga signifikan, meskipun lebih terselubung, karena China berupaya menjaga hubungan baik dengan negara-negara Teluk lainnya. Selama dekade terakhir, Beijing telah meningkatkan kerja samanya dengan Iran dalam teknologi rudal, program satelit dan luar angkasa, pertukaran intelijen, keamanan siber, dan peperangan elektronik.
Bahkan menurut laporan The Washington Post, pada minggu pertama awal perang dua kapal kargo milik Iran meninggalkan Pelabuhan Gaolan di China membawa berbagai bahan kimia untuk memproduksi berbagai rudal dan roket. Bahkan semenjak 2021, Tiongkok telah memberikan akses militer kepada Iran berupa sistem navigasi satelit BeiDou.
Tiongkok telah menapaki pembangunan berbagai proyek infrastruktur di Iran, diantaranya; Jembatan Persia yang menghubungkan Pulau Qeshm dengan daratan Iran. Proyek kereta api yang menghubungkan provinsi Shaanxi, Tiongkok dengan Pelabuhan darat Teheran, Ibukota Iran. Sehingga bagi Tiongkok perang ini harus dimenangkan oleh Iran. Artinya perang ini sangat menentukan bagi China karena jikalau Iran kalah maka projek pembangunan Inisiatif Sabuk dan Jalan akan gagal dan kehilangan pasokan energi murah.
Bagi Rusia perang Iran Vs Israel menjadi lokomotif gerbang utama dalam mempertahankan pengaruhnya di kawasan Timur Tengah. Kebijakan Rusia harus tetap mendukung rezim Ayatullah tidak boleh berganti rezim apalagi rezim yang pro Amerika Serikat.
Untuk melawan hegemoni politik Amerika Serikat dan Israel, Rusia memberi bantuan militer kepada Iran berupa satelit Kanopus-V untuk menyerang secara akurat pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk Persia.
Dilansir dari Center For Strategic & International Studies, Rusia telah membantu Iran dengan mengoperasikan pesawat tempur Yak-130, helikopter serang jenis Mi-28, kerja sama dalam bidang pengembangan ruang angkasa dan rudal iran dan teknologi pengawasan domestik.
Secara geografis Iran berbatasan langsung dengan negara-negara Asia Tengah, dimana secara kontrol politik dibawah pengaruh Rusia, bahkan beberapa pangkalan militer Rusia berada di wilayah regional Asia Tengah; Tajikistan, Kirgistan, dan Kazakhstan. Artinya, membiarkan Iran jatuh, maka secara otomatis membiarkan rudal Amerika Serikat berada halaman depan rumahnya. Maka ini menjadi pertarungan yang sangat menentukan.
Mengutip petuah dari Niccolo Machiavelli “Perang dimulai ketika anda menginginkannya, tetapi tidak akan berakhir ketika anda menginginkannya,’’ Begitulah realitas perang Israel dengan Iran, entah sampai kapan perang itu akan berakhir.
Ditulis oleh Tibrani alumni Pascasarjana Universitas Indonesia













