
Komparatif.ID,Bireuen—Dampak banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada Rabu, 26 November 2025, menyisakan persoalan besar di Bireuen. Bukan hanya rumah-rumah penduduk yang hancur, tapi fasilitas publik dan lapangan pekerjaan juga hancur.
Kerusakan paling parah terjadi di sepanjang aliran Krueng Peusangan. Sebanyak 8 unit jembatan rangka baja mulai dari Jembatan Rancong, Kutablang, hingga Pante Peusangan di Kecamatan Juli.
Bupati Bireuen H. Mukhlis, dalam coffee morning dengan wartawan liputan Bireuen, Rabu, 31 Desember 2025, di Pendopo, menyebutkan di sepanjang aliran Krueng Peusangan terdapat sejumlah jembatan yang menjadi urat nadi transportasi antar daerah, dengan dua yang utama merupakan lintas nasional yaitu di Tingkeum, Kutablang, dan Teupin Mane di Juli.
Mengapa hal pertama yang dilakukan oleh Bupati Bireuen H. Mukhlis, yaitu mengunjungi jalan dan jembatan yang dlaporkan rusak? Bukan karena demi proyek pembangunan. Tapi demi mendapatkan gambaran utuh bentuk penanganan darurat.
Baca: Soal Pemulihan Listrik di Aceh, Prabowo Ditipu Menterinya
Jalan dan jembatan merupakan urat nadi. Bukan hanya sebagai jalur laluan manusia, tapi juga jalur transportasi logistic kebutuhan manusia.
Setelah dia mendapatkan gambaran, yang dilakukan untuk pertama kali yaitu merintis jalur transportasi dari. Pemkab Bireuen mengirimkan alat berat ke semua lokasi yang tidak bisa diakses.
“Penanganan kemarin kita upayakan masyarakat jangan lapar. Sehingga [yang pertama kali] kita buka jalur yang menghubungkan desa dengan kecamatan, kecamatan dengan kabupaten [dan lainnya] supaya bisa kita masukkan logistic. Itulah mengapa Anda lihat alat berat saya ada di mana-mana. Itu saya lakukan untuk merintis jalur,” sebut Bupati Bireuen di hadapan puluhan wartawan.
Dalam waktu yang berbarengan, disediakan titik pengungsian, pelayanan kesehatan darurat, dan distribusi logistic pangan. Semuanya dilakukan secara bertahap dan tidak bertele-tele. Camat selaku perpanjangan tangan Bupati di kecamatan, diperintahkan membangun komunikasi dan koordinasi dengan kepala desa.
Camatlah yang bertugas di lapangan, mengirimkan logistic untuk pengungsi, membagikan dan memantau keadaan.
“Bupati tidak mungkin memanggul beras dan mi instan di lokasi bencana. Kalau Bupati sibuk antar-antar bantuan pangan untuk pengungsi, akan terbengkalai tugas lain. Jadi camat itu perwakilan Bupati,” katanya.
Mukhlis yang didampingi Wakil Bupati H. Razuardi Ibrahim, Plt Sekda Hanafiah, dan sejumlah kepala dinas, menyebutkan,saat ini Bireuen sudah selesai menuntaskan tugas tahap pertama dalam penanganan bencana alam banjir bandang dan tanah longsor.
Semua jalan antar kecamatan dan antar desa telah dibersihkan dari lumpur dan kayu, dan material lainnya. Sejak hari keempat bencana, Bupati Bireuen mengirimkan alat berat untuk membersihkan jalan.
Jumlah pengungsi juga telah berangsur-angsur berkurang. Sebagian korban mulai kembali ke rumah masing-masing. Sudah banyak yang telah membersihkan rumahnya dari sedimen, meskipun belum sempurna.
“Saat saya damping Kepala BNPB ke Peusangan Siblah Krueng, sebagian pengungsi mengatakan tidak butuh tenda. Mereka secara umum sudah bisa pulang ke rumah. meskipun hanya satu atau dua ruangan yang mampu dibersihkan,” katanya.
Mukhlis memuji tingkat kemandirian rakyat Bireuen. Meskipun menjadi korban banjir tidaklah mudah. Tapi umumnya rakyat Bireuen segera bangkit. Mereka membersihkan rumah-rumahnya, supaya bisa cepat pulang dari pengungsian.
Hasil pendataan pemerintah, saat ini terdapat 16 ribu rumah yang harus dibangun, akibat dirusak oleh banjir dan tanah longsor. Sebanyak 118 kepala keluarga terdampak akibat dari bencana tersebut.
Mukhlis menyebutkan Pemerintah Bireuen tidak akan mampu membangun daerah tersebut tanpa bantuan Pemerintah Pusat. Saat ini banyak sekali fasilitas publik yang hancur. Rumah-rumah warga tertimbun. Kebun, ladang, sawah, dan tambak hancur.
“Terus terang Pemerintah Bireuen tidak akan mampu membangunnya. Kita butuh dukungan Pemerintah Pusat dan pihak-pihak lain seperti donatur dan relawan,” katanya.
Ribuan Hektare Sawah di Bireuen Hancur
Dari sektor pertanian, irigasi Pantee Lhong yang selama ini mengairi 6.426 hektare di tujuh kecamatan, telah rusak parah.
Irigasi Lhokpudeng Batee Iliek yang mengairi 3.000 hektare sawah juga rusak diterjang banjir bandang.
Lahan sawah yang rusak total seluas 1995, 19 hektare.
Kategori rusak berat 1323,07 hektare. Lahan tersebut tertimbun lumpur dengan ketinggian di atas 50 centimeter. Pematang dan jaringan irigasinya sudah tidak terlihat.
Kemudian kategori rusak sedang seluas 672,12 hektare. Timbunan sedimen di bawah 50 cm, dengan kondisi pematang dan jaringan irigasi amsih terlihat.
Sedangkan sawah yang terimbas seluas 2.736 hektare. Umumnya sawah-sawah tersebut tergenang banjir yang menyebabkan gagal panen.
Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Bireuen sudah berkomunikasi dengan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, melaporkan kondisi yang terjadi di daerah.












