
Penguasa Kayangan menyebutkan dirinya bukan Nabi Musa. Dia tidak memiliki tongkat Nabi Musa. Penguasa Kayangan yang kaku itu, tak ingin citranya rusak, sekaligus tak mau bersusah-susah.
Di negeri yang konon paling makmur di angkasa, Penguasa Agung Kayangan akhirnya angkat bicara terkait bencana besar yang melanda tiga dari 44 wilayah jajahannya.
Dalam pernyataan yang dinilai “jujur sekaligus lepas tangan”, sang penguasa menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki tongkat Nabi Musa yang mampu membelah laut, menghentikan banjir, atau menundukkan gunung yang runtuh.
Baca: Prabowo Terlena Pujian, Abaikan Teriakan Ulama dan Profesor Aceh
“Jangan berharap keajaiban,” ujarnya tenang. “Saya bukan nabi, hanya penguasa.”
Kayangan selama ini dikenal sebagai negeri ideal dalam laporan resmi. Setiap pagi, Penguasa Agung disuguhi peta berwarna hijau, grafik ekonomi yang selalu menanjak, serta presentasi para pembantu istana yang penuh keyakinan.
Semua wilayah digambarkan patuh, stabil, dan sejahtera. Tidak ada ruang bagi kata “darurat” dalam kamus kekuasaan.
Namun takdir, seperti biasa, punya selera humor yang kejam.
Tiga wilayah di sudut Kayangan dihantam bencana besar secara bersamaan. Gunung runtuh setelah proyek pemotongan lereng, sungai meluap akibat deforestasi atas nama investasi; legal maupun ilegal, dan langit seolah murka melihat kesombongan manusia.
Ironisnya, semua bermula dari kebijakan sang penguasa sendiri: proyek penjinak alam berskala raksasa yang diklaim “aman, berkelanjutan, dan berstandar internasional”.
Ketika rakyat menjerit meminta bantuan, suara mereka kalah oleh bisikan para pembantu istana.
“Tenang Paduka, itu hanya genangan kecil.”
“Korban cuma angka statistik, tidak signifikan.”
“Media membesar-besarkan, rakyat baik-baik saja.”
Penguasa percaya. Ia selalu percaya. Karena laporan jauh lebih rapi dibanding tangisan.
Hari berganti, bencana membesar, dan rasa ditinggalkan pun memuncak. Tiga wilayah itu akhirnya mengirimkan satu pesan yang membuat istana panas: mereka ingin memisahkan diri. Bukan karena tidak cinta Kayangan, melainkan karena merasa hanya diingat saat pajak ditarik, bukan saat nyawa dipertaruhkan.
Alih-alih bercermin, Penguasa Agung murka.
Ia marah pada rakyat yang dianggap “tak sabar diuji”.
Ia marah pada alam yang tak mau diatur oleh maket dan proposal.Dan tentu saja, ia marah pada kabar buruk—bukan pada penyebabnya.
Rapat darurat pun digelar. Para pembantu kembali menyodorkan laporan baru yang lebih menenangkan.
“Wilayah itu keras kepala.”
“Mereka tidak tahu berterima kasih.”
“Kalau dilepas, Kayangan tetap kuat.”
Dalam keheningan ruang rapat, sang penguasa merasa tercerahkan. Ia merasa bijak. Ia merasa dewasa. Ia merasa tidak perlu lagi repot dengan jeritan yang mengganggu ketenangan istana.
Maka keluarlah titah agung itu, dibacakan tanpa getar empati:
“Baiklah.Kalau kalian merasa tak lagi butuh Kayangan,kalau kalian merasa mampu bertahan sendiri,maka urus saja wilayah kalian sendiri.”
Sejak hari itu, istana kembali tenang.Tidak ada lagi laporan bencana.Tidak ada lagi tangisan rakyat—karena tidak pernah lagi dicatat.
Di pusat Kayangan, sang penguasa tetap dikenang sebagai pemimpin tegas dan realistis, yang tahu batas kemampuannya.
Sementara di tiga wilayah itu, rakyat belajar satu pelajaran pahit yang tak pernah tercantum dalam laporan resmi.
Kadang, bencana paling mematikan bukan datang dari alam,melainkan dari kekuasaan yang merasa cukup berkata,“Bukan urusan saya lagi.”
Tepuk tangan puas, video palsu pengakuan merasa puas, serta pujian telah membuat sang penguasa Negeri Kayangan terlena dalam buaian. Ia semakin percaya diri sebagai pemimpin revolusioner, berkarisma, dan sanggup menanggulangi kondisi paling buruk.
Rakyat mulai menertawakan. Ya, menertawakan kepongahan sang penguasa. Menertawakan kebodohan sang penguasa. Tapi, pria yang tak memiliki tongkat Nabi Musa itu, tak tahu bahwa dirinya tidak tahu.
Ditulis oleh Mukhlis. Manusia di Aceh.












