Komparatif.ID, Banda Aceh— Kementerian Agama melalui Kantor Wilayah Kemenag Aceh akan melakukan pemantauan hilal Zulhijah 1447 Hijriah pada Minggu, 17 Mei 2026, sebagai bagian dari proses penentuan Hari Raya Iduladha.
Pemantauan rukyatul hilal dijadwalkan berlangsung menjelang waktu Magrib dengan melibatkan tim falakiyah dan penggunaan perangkat astronomi.
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, mengatakan hasil pengamatan nantinya akan dikirim sebagai bagian dari laporan nasional dalam Sidang Isbat penetapan 1 Zulhijah 1447 Hijriah yang digelar pemerintah pusat.
“Pemantauan hilal dilakukan dengan menggunakan instrumen astronomi dan melibatkan tim falakiyah. Hasil pengamatan nantinya akan dilaporkan sebagai bahan dalam Sidang Isbat yang digelar pemerintah,” kata Azhari, Rabu (13/5/2026).
Di Aceh, pemantauan hilal dilakukan di empat titik pengamatan yang tersebar di sejumlah daerah. Pengamatan dipusatkan di Observatorium Tgk Chiek Kuta Karang.
Selain itu, rukyatul hilal juga dilaksanakan di kawasan Kilometer 0 Sabang, Bukit Blang Tiron Kompleks Perta Arun Gas di Kota Lhokseumawe, serta Pantai Lhok Geulumpang di Kecamatan Setia Bakti, Aceh Jaya.
Baca juga: Kemenag dan BMKG Siagakan 133 Titik Pantau Hilal
Berdasarkan data hisab di Observatorium Tgk Chik Kuta Karang, konjungsi terjadi pada 17 Mei 2026 pukul 03.01.03 WIB. Matahari diperkirakan terbenam pukul 18.46.41 WIB, sedangkan bulan terbenam pada 19.22.19 WIB.
Dengan posisi tersebut, hilal diperkirakan dapat diamati selama sekitar 36 menit setelah matahari terbenam. Saat Magrib, tinggi bulan mencapai 6,78 derajat dengan elongasi geosentrik bulan-matahari sebesar 10,62 derajat dan iluminasi bulan sekitar 0,73 persen.
Ketua Tim Falakiyah Aceh, Alfirdaus Putra, menyebut posisi hilal di Aceh telah memenuhi syarat visibilitas hilal berdasarkan kriteria MABIMS.
“Hilang awal Zulhijah 1447 H di Lhoknga berpotensi terlihat karena telah berada pada ketinggian 6,78 derajat dengan elongasi 10,62 derajat. Secara kriteria MABIMS, posisi ini sudah memenuhi syarat imkanur rukyat,” ujar Alfirdaus.
Ia menjelaskan posisi bulan berada sekitar 6,22 derajat di sebelah kanan atas matahari dan sekitar 5,79 derajat ke arah utara dari titik barat. Menurutnya, peluang terlihatnya hilal cukup besar apabila kondisi ufuk barat cerah dan tidak tertutup awan.
“Hilal memungkinkan untuk dirukyat karena ketinggian, elongasi, dan luas permukaan terang bulan sudah cukup. Kendala utama biasanya berasal dari kondisi cuaca, seperti mendung, awan tebal, atau gangguan di ufuk barat,” katanya.













