Komparatif.ID, Banda Aceh— Pembangunan hunian tetap (huntap) bagi masyarakat terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus dipercepat melalui kolaborasi berbagai pihak.
Memasuki fase pemulihan permanen, pembangunan huntap tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, organisasi kemanusiaan, dunia usaha, hingga kelompok masyarakat.
Berdasarkan data Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana per 30 Mei 2026, dari total rencana pembangunan 39.217 unit huntap di tiga provinsi tersebut, sebanyak 1.138 unit saat ini berada dalam tahap pembangunan dan 364 unit telah selesai dibangun.
Di Aceh, percepatan pembangunan huntap didukung oleh berbagai pihak. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menangani 6.804 unit, dengan 175 unit telah selesai dibangun dan 10 unit masih dalam proses.
Dukungan juga datang dari Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) yang menyiapkan 20.647 unit.
Selain itu, Polri sedang membangun 300 unit huntap, sementara Yayasan Buddha Tzu Chi menangani 1.000 unit dengan 283 unit telah memasuki tahap progres pembangunan. Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Kemenko Polkam) telah menyelesaikan 104 unit. Dukungan tambahan juga diberikan oleh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia serta sejumlah mitra lainnya.
Di Sumatera Utara, Yayasan Buddha Tzu Chi menjadi salah satu kontributor terbesar dalam pembangunan huntap dengan total 1.103 unit. Dari jumlah tersebut, 297 unit sedang dalam proses pembangunan dan 227 unit telah selesai dibangun.
Baca juga: 41 Huntara Korban Bencana di Aceh Utara Rusak Akibat Angin Kencang
Kementerian PKP menyiapkan 3.707 unit, sementara BNPB menangani 2.235 unit. Dukungan juga datang dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan berbagai pihak lainnya untuk memperkuat penyediaan hunian bagi penyintas.
Sementara itu, di Sumatera Barat, BNPB mencatat 21 unit huntap dalam tahap pembangunan. Yayasan Buddha Tzu Chi menangani 500 unit dengan 54 unit dalam progres pembangunan. Kadin Indonesia telah menyelesaikan lima unit dan masih melanjutkan pembangunan lima unit lainnya.
Dukungan pemerintah daerah dan lembaga swadaya masyarakat juga telah menghasilkan sejumlah unit huntap yang rampung dibangun. Kementerian PKP sendiri menyiapkan 1.252 unit untuk mendukung percepatan pemulihan hunian permanen di wilayah tersebut.
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Maruarar Sirait, mengatakan percepatan pembangunan huntap terus diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Koordinasi tersebut melibatkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP), kejaksaan, kepolisian, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna memastikan pembangunan berjalan cepat dengan tata kelola yang baik.
“Koordinasi telah dilakukan dan beberapa opsi kerja sama telah dibahas, juga mencakup LKPP, kejaksaan, dan kepolisian untuk memastikan tata kelola yang baik,” kata Maruarar di Jakarta, Senin (25/5/2026).
Ia menjelaskan saat ini 2.603 unit huntap yang sedang diproses. Selain itu, beberapa ratus unit telah diserahkan sebelumnya kepada masyarakat terdampak bencana.
Untuk pembangunan huntap komunal, Kementerian PKP terus berkoordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk ATR/BPN, Danantara, dan Kementerian Lingkungan Hidup guna memastikan kesiapan lahan yang akan digunakan.
Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan pembangunan huntap merupakan bagian penting dari tahapan menuju pemulihan permanen melalui skema rehabilitasi dan rekonstruksi berbasis Rencana Induk (Renduk) 2026–2028 yang memuat lebih dari 11 ribu kegiatan lintas sektor.
Menurut Tito, prioritas utama pada 2026 adalah pembangunan infrastruktur dasar seperti sungai, jalan, sekolah, dan fasilitas lainnya, termasuk percepatan pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana.
“Yang prioritas utama tentu di tahun 2026 yaitu infrastruktur, sungai, jalan, kemudian sekolah, dan lain-lain. Huntap, karena penyintas jangan terlalu lama di huntara saya harapkan,” ujar Tito.













