Yacaratiá merupakan pohon yang bisa dimakan. Di Argentina bilah-bilah papan Yacaratiá dijual di restoran mewah sebagai hidangan makanan premium (gourmet).
Komparatif.ID— Dunia ini dipenuhi fakta ajaib yang nyaris tak masuk akal. Anda pasti kaget bila ada pohon yang bisa dikonsumsi sebagai makanan. Bilah-bilah papannya diolah menjadi manisan. Orang Argentina menyebutnya bermacam-macam sesuai dengan hasil akhir.
Untuk kategori manisan yaitu:
Yacaratiá al mibar, kuliner pohon Yacaratiá berbentuk manisan. Ini hidangan paling klakis yang dibuat dari bilah kayu Yacaratiá. Berupa manisan yang dibuat dari potongan kayu. Kayu tersebut direbus dalam sirup gula kental atau madu.
Kemudian ada pula Bombones de Madera. Berupa bombon cokelat mewah yang diisi dengan cincangan kayu yang sudah bertekstur lembut.
Ada pula Alfajores de Yacaratiá. Kue sandwich tradisional khas Argentina (alfajor) yang menggunakan selai atau lapisan serat kayu yacaratiá sebagai isiannya.
Mermelada de Yacaratiá. Selai kayu bertekstur serat halus untuk olesan roti atau galet.
Kategori menu utama (olahan gurih):
Milanesa de Madera: Steik kayu goreng tepung. Lembaran kayu tipis dibumbui, dibalur telur dan tepung roti, lalu digoreng hingga renyah menyerupai daging schnitzel.
Bife de Madera/Filete de Yacaratiá: Filat atau steik kayu panggang. Lembaran kayu dimasak dengan teknik pengasapan (ahumado) atau semur (braseado) lalu dilumuri kaldu daging hingga teksturnya mirip daging empuk.
Albóndigas de Madera: Bola-bola daging (bakso) vegetarian yang dibuat memanfaatkan serat padat dari kayu tersebut.
Escabeche de Yacaratiá: Acar kayu. Potongan kayu gurih yang diawetkan di dalam stoples berisi larutan cuka, minyak, dan rempah-rempah.
Mengapa Pohon Yacaratiá Bisa Dikonsumsi?
Pohon Yacaratiá sangat rendah selulosa. Kandungan zat tersebut hanya 10 persen. Rendahnya selulosa membuat struktur batangnya tidak mengeras seperti kayu konstruksi.
Pohon ini juga hampir tidak mengandung lignin. Lignin adalah senyawa kimia alami yang membuat kayu menjadi kokoh, kedap air, dan sangat sulit dihancurkan oleh asam lambung manusia.
Kayu Yacaratiá memiliki kadar lignin yang luar biasa sedikit, sehingga seratnya bisa melunak sepenuhnya saat dimasak.
Baca juga: Gurihnya Ketupat Jembut, Makanan Khas Semarang yang Disajikan Khusus Saat Syawal
Struktur dinding sel kayu yacaratiá memiliki ruang-ruang kosong berukuran besar. Ruang ini berfungsi layaknya spons yang menyerap dan menyimpan cadangan air serta nutrisi dalam jumlah melimpah. Hal ini memberikan tekstur alami yang empuk dan basah.
Alih-alih hanya berisi serat kosong, bagian dalam batang pohon ini menyimpan konsentrasi serat pangan, vitamin, serta mineral esensial yang tinggi, terutama magnesium, kalium, dan kalsium.
Fakta unik lainnya, Yacaratiá merupakan pohon yang dalam klasifikasi botani masuk keluarga Caricaceae. Ini adalah keluarga tanaman yang sama dengan pohon pepaya. Sifat batangnya yang cenderung lunak, basah, dan berserat halus mewarisi karakteristik biologis tanaman buah tersebut.
Sejarah Konsumsi Yacaratiá
Berdasarkan manuskrip tahun 1870 yang ditulis oleh seorang pastor Yesuit bernama Basaldúa, Suku Mbyá Guaraní adalah kelompok pertama yang memanfaatkan pohon ini.
Suku ini tidak mengonsumsi kayu tersebut secara langsung. Mereka mengonsumsi larva putih yang beranak pinak di dalam batang Yacaratiá yang telah mati dan telah mulai membusuk.
Suki tersebut menaruh perhatian lebih terdapat larva di batang Yacaratiá karena rasanya lebih manis dan lebih kaya protein. Saat itu, Yacaratiá dianggap sebagai penyedia roti larva terbaik, sehingga Yacaratiá disebut pohon roti.
Pohon tersebut pertama kali menjadi kuliner, setelah seorang insinyur kehutanan asal Santa Fe, Argentina, Roberto Pascutti, membaca catatan sejarah Jesuit pada tahun 1991. Setelah menelaah catatan itu dengan seksama, ia membuat sebuah hipotesis awal. Bila larva tumbuh dengan sangat bergizi karena memakan kayunya, maka kayu itu menyimpan nutrisi luar biasa.
Sang insinyur pun menyelenggarakan penelitian mendalam. Ia melakukan riset mikroskopis, melakukan uji laboratorium secara intensif selama lima tahun. Hasilnya, tara! Pascutti berhasil menemukan formula untuk memecah struktur molekul kayu yacaratiá melalui teknik perebusan dan pengolahan bersuhu khusus. Pada tahun 1999, ia resmi mematenkan proses tersebut dan mendirikan usaha keluarga Yacaratiá Delicatessen di wilayah Eldorado.
Menikmati Kuliner Yacaratiá Tanpa Merusak Hutan
Jumlah jacaratia spinosa di alam liar tidak dicatat secara khusus. Berdasarkan observasi jumlahnya kian menipis. Tumbuh di sela-sela pohon lain. Karena pohon ini mengandung banyak air, sehingga mudah roboh. Untuk melindungi dari kepunahan, Pemerintah Argentina membuat aturan tentang konsumsi Yacaratiá. Pohon yang bisa diolah hanya yang telah mati. Pohon yang masih hidup dilarang tebang.
Berkurangnya populasi pohon ini bukan karena konsumsi, tapi karena deforestasi umum untuk tujuan pembukaan lahan.
Sebaran Populasi
Pohon ini hanya tumbuh di zona hutan tropis dan sub tropis di wilayah dengan kanopi hutan yang rapat di atas ketinggian tertentu untuk melindunginya dari embun beku (frost). Mengapa demikian? Karena batangnya yang berair sangat sensitif terhadap perubahan suhu dingin yang ekstrem.
Pengolahan kulinernya secara eksklusif hanya terkenal di Argentina. Pun demikian, pohon ini sebenarnya memiliki sebaran habitat alami yang cukup luas di zona hutan hujan tropis dan subtropis seperti di wilayah timur laut, tepatnya di ekosistem Selva Paranaense/Selva Misionera di Provinsi Misiones dan sebagian kecil Provinsi Corrientes, Argentina.
Juga tumbuh di hutan lembap Paraguay, tepatnya di wilayah Alto Paraná dan Amambay. Selain itu juga tumbuh di wilayah selatan hingga tenggara Brasil (Paraná, Rio Grande do Sul, Santa Catarina, dan Rio de Janeiro).
Dalam skala populasi yang lebih kecil, varietas pohon ini juga ditemukan membentang dari Amerika Tengah yaitu Nikaragua, Kosta Rika, Panama, hingga ke bagian utara Amerika Selatan seperti Kolombia, Ekuador, Bolivia, Peru, dan wilayah Guyana.
Apakah bintang sepak bola Argentina pernah mengonsumsi kuliner dari pohon tersebut? Misalnya Leonel Messi? Tentu saja tidak. Kuliner tersebut merupakan regional delicacy yang tidak ditemukan di semua tempat. Kemudian juga tidak mungkin dikonsumsi oleh pemain bola profesional karena aturan diet yang sangat ketat.
Sumber: veliyat garden, ecoregistros, plant of the world, fondazione slow food, valorambiental, etc.
