
Komparatif.ID, Bireuen— Puluhan tokoh masyarakat Kecamatan Peudada mendesak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bireuen segera menuntaskan pembersihan tumpukan kayu gelondongan yang masih berserakan di bantaran sungai Pante Raya Timu, Gampong Ara Bungo.
Desakan itu disampaikan menyusul kekhawatiran warga akan potensi banjir bandang yang bisa kembali terjadi jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut.
Salah satu tokoh masyarakat setempat, Helmi, mengatakan upaya pembersihan sebenarnya telah mulai dilakukan. Namun, prosesnya berjalan lambat karena alat berat yang tersedia lebih banyak difokuskan untuk membenahi areal perkebunan kelapa sawit, bukan mengurai kayu-kayu yang menumpuk di alur sungai.
Helmi menegaskan keberadaan kayu-kayu gelondongan di bantaran sungai tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Menurutnya, jika tidak segera dituntaskan, tumpukan kayu tersebut dapat kembali terbawa arus dan memperparah dampak banjir seperti yang terjadi sebelumnya.
Kekhawatiran itu juga disampaikan oleh Feri, seorang petani yang memiliki kebun di sekitar areal terdampak. Ia merupakan saksi mata saat musibah banjir melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025 lalu.
Baca juga: Bupati Bireuen Kerahkan Alat Berat Bersihkan Kayu Sisa Banjir di Hulu Sungai Peudada
Feri menjelaskan saat kejadian, aliran air dari arah kanan Kecamatan Peulimbang cukup lancar sehingga seluruh kayu gelondongan terbawa ke arah hilir yang dekat dengan permukiman warga.
Namun, kondisi saat itu masih tertolong oleh aliran air dari arah kiri sungai yang justru menghempaskan seluruh kayu ke areal kebun warga seluas sekitar lima hektar. Feri mengatakan, jika arah aliran air saat itu berbeda, dampaknya bisa langsung mengenai rumah-rumah penduduk.
Saat ini, Feri tinggal bersama istri dan anak-anaknya di kebun yang berjarak sekitar lima ratus meter dari muara sungai tersebut. Ia mengaku sempat tidak bisa beraktivitas karena sepeda motornya tertimbun lumpur akibat banjir. Kondisi itu kini telah membaik setelah dibersihkan, dan alat berat juga sudah membuka kembali akses jalan menuju kebun.
Meski demikian, Feri mengaku masih diliputi rasa khawatir. Ia menilai sungai saat ini sudah semakin dangkal dan tumpukan kayu yang masih berada di bantaran sungai berpotensi kembali terbawa arus jika hujan deras turun.
Menurutnya, jika hal itu terjadi, kayu-kayu tersebut bisa kembali menutup aliran sungai dan memicu banjir di wilayah sekitar.
“Sungai sudah dangkal, saya khawatir tumpukan kayu seluas lima hektare di bantaran sungai akan terbawa kembali saat hujan,” ungkap Feri, Sabtu (3/1/2026).












