
Komparatif.ID, Monaco-Sirkuit Grand Prix Monaco tidak ramah untuk sasis mobil Formula One (F1) modern. Setiap kali menyalip di tikungan Grand Prix Monaco, jet-jet darat modern—seperti di Grand Hotel Hairpin—hampir mustahil tanpa adanya kontak fisik.
Meskipun semua orang tahu permasalahan Grand Prix Monaco, bahwa track di sana jelek untuk mobil modern, tapi mengapa Federasi Internationale de l’Automobile (FIA) tetap menyelenggarakan pertandingan di sirkuit itu?
Ibrahim Aditya, seorang pengamat perkembangan Formula 1 memberikan analisis bisnis yang melatarbelakangi FIA tetap mempertahankan Grand Prix Monaco. Menurut Ibrahim, Grand Prix tersebut bukan sekadar balapan. Tapi sebuah ekosistem bisnis yang menghasilkan ratusan juta Euro.
Baca: Volkswagen ID.Buzz, Minivan Listrik Unggulan Jerman
Secara umum semua penikmat olahraga balapan mobil—khususnya Formula 1—pasti tahu bahwa Grand Prix Monako yang digelar setiap tahun di sirkuit Monako, merupakan sebuah ajang lomba yang dihelat di sebuah track sempit dan pendek, dan satu-satunya grand prix yang tidak mematuhi mandat FIA yaitu 305-kilometer (190-mil), yang merupakan jarak balapan minimum untuk sebuah balapan F1.
Adapun yang membuat grand prix ini memiliki nilai tawar tinggi di mata FIA, yaitu karena pundi-pundi euro yang dihasilkan. Bisnis F1 tidak mengukur kesuksesan Monaco dari jumlah overtake-nya, melainkan dari high-net-worth individuals (HNWI) per meter persegi.
Penontonnya menyaksikan lomba sembari duduk di yacht.Penonton yang menonton sembari bersantai di yacht merupakan para miliuner. Nilai total yang dikumpulkan dari balapan Formula 1 di Monako mencapai 100 juta Euro–2 triliun rupiah/kurs hari ini, Kamis, 4 Juni 2026, menjadikannya olahraga paling mewah di dunia.
Nah, tahun ini GP Monaco 2026 secara resmi dijadwalkan berlangsung dari Jumat, 5 Juni hingga Minggu, 7 Juni 2026.












