Komparatif.ID, San Francisco— Perusahaan AI (kecerdasan buatan) disebut membeli buku fisik dalam jumlah besar untuk kemudian dipotong, dipindai, dan diubah menjadi kumpulan data pelatihan.
404 Media melaporkan perusahaan AI menggunakan perantara untuk memperoleh buku secara anonim dalam skala besar. Sejumlah perusahaan pengadaan bahkan menawarkan layanan pencarian hingga ratusan ribu judul sekaligus, disertai jaminan kerahasiaan bagi klien mereka.
Lonjakan permintaan tersebut turut dirasakan para penjual buku. Salah seorang penjual buku mengatakan penjualannya meningkat dari sekitar 20 buku per minggu menjadi beberapa ratus buku setelah pembeli yang diyakini berkaitan dengan AI masuk ke pasar.
Bagi penjual tersebut, peningkatan permintaan memang memberikan keuntungan secara finansial sekaligus membantu mengurangi stok buku yang kemungkinan sulit terjual. Namun, ia mengaku keberatan dengan tujuan akhir dari buku-buku yang dibeli, terutama karena sebagian merupakan buku langka dan sudah tidak dicetak.
Kekhawatiran serupa muncul di kalangan penjual buku langka di Belanda. Mereka dilaporkan menerima pembelian dalam jumlah besar yang diduga berasal dari perusahaan AI.
Baca juga: Digerus AI, Pemeran CEO Xu Peng Pulang Kampung Jual Sayur
Buku yang diterbitkan sebelum maraknya AI generatif menjadi incaran karena dianggap menyediakan materi tulisan manusia yang berkualitas untuk pelatihan model AI. Perusahaan penyedia data buku ISBNdb bahkan menyebut buku fisik dari era sebelum model bahasa besar sebagai sumber data pelatihan yang relatif terbebas dari teks buatan AI.
Menurut laporan 404 Media, ISBNdb yang sebelumnya membantu perpustakaan, distributor, dan toko buku mencari serta menjual buku kini juga membantu perusahaan AI melakukan pembelian dalam jumlah besar. Pesanan dapat berkisar antara 1.000 hingga satu juta buku. Perusahaan tersebut juga menawarkan kerahasiaan identitas pembeli.
Praktik pemindaian destruktif ini sebelumnya dikaitkan dengan “Proyek Panama” milik Anthropic, yang mendigitalisasi jutaan buku melalui pemindaian setelah buku fisiknya dibongkar.
Dalam perkara Bartz v. Anthropic PBC, seorang hakim federal di San Francisco memutuskan pemindaian buku fisik yang dibeli secara sah menjadi salinan digital, termasuk ketika buku aslinya kemudian dihancurkan, dapat memenuhi unsur penggunaan wajar transformatif. Putusan serupa mengenai penggunaan wajar juga muncul dalam perkara hak cipta yang melibatkan OpenAI dan Meta.
Namun, persoalan hak cipta AI masih berlanjut melalui perkara lain. Dalam kasus terpisah, hakim federal di distrik yang sama menyetujui penyelesaian senilai 1,5 miliar dolar AS yang mengharuskan Anthropic membayar ribuan penulis sekitar 3.000 dolar AS per buku setelah perusahaan tersebut menggunakan salinan bajakan karya mereka untuk melatih Claude.
