Komparatif.ID, Lamno— Innalillahi wa innailaihi raji’un. Teungku Nyak Sandang, salah satu penyumbang dana pembelian pesawat pertama Republik Indonesia, Seulawah RI-001, meninggal dunia pada Selasa, 7 April 2026. Ia mengembuskan napas terakhir di kediamannya di Gampong Lhuet, Lamno, Kecamatan Jaya, dalam usia 100 tahun.
Kabar wafatnya Nyak Sandang dibenarkan oleh cucunya, Attahilah. Ia menyampaikan almarhum meninggal dunia sekitar pukul 12.00 WIB.
Teungku Nyak Sandang
Teungku Nyak Sandang dikenal luas sebagai sosok yang memiliki kontribusi penting dalam pengadaan pesawat Seulawah RI-001, pesawat pertama milik Republik Indonesia pada masa awal kemerdekaan.
Pada usia 23 tahun, ia mengambil keputusan besar dengan menjual kebun miliknya yang saat itu bernilai 20 mayam emas. Kebun tersebut dihargai sekitar 100 rupiah, dan nilainya disimpan dalam bentuk emas mengingat kondisi perekonomian Indonesia yang belum stabil akibat inflasi.
Seluruh hasil penjualan kebun itu kemudian disumbangkan kepada negara melalui seorang Wedana di Kota Calang. Dana tersebut diteruskan kepada Teuku Muhammad Daud Beureueh dan selanjutnya diserahkan kepada Presiden Soekarno.
Sebagai bukti kontribusinya, Nyak Sandang menyimpan lembaran pembelian obligasi.
Pesawat yang dibeli dari dana sumbangan rakyat Aceh tersebut kemudian diberi nama “Seulawah”, diambil dari nama gunung di wilayah Aceh Besar.
Baca juga: Mengenang Teuku Bachrum Manyak, yang Pergi di Bulan Suci
Pada 28 Desember 1949, pesawat jenis DC-3 Dakota dengan nomor registrasi RI-001 “Seulawah” digunakan untuk membawa Presiden Soekarno dari Yogyakarta ke Kemayoran dalam rangka menghadiri pelantikannya sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat.
Dalam kesempatan itu pula, Soekarno memberi nama perusahaan penerbangan pertama Republik Indonesia sebagai Garuda Indonesia Airways, yang kemudian berkembang menjadi maskapai nasional hingga saat ini.
Pengabdian Nyak Sandang baru mendapatkan pengakuan negara secara resmi pada 25 Agustus 2025. Saat itu, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan Bintang Jasa Utama dalam sebuah upacara di Istana Negara.
Nyak Sandang hadir menggunakan kursi roda. Dalam momen tersebut, Presiden Prabowo berlutut saat menyematkan tanda kehormatan, sebagai bentuk penghormatan atas jasa besar yang telah diberikan almarhum bagi negara.













