Komparatif.ID, Banda Aceh– Pewarta Foto Indonesia (PFI) Aceh mendorong kolaborasi antara insan pers, pemerintah, Satgas Penanganan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR), komunitas, serta masyarakat dalam edukasi kebencanaan terus berlanjut usai berakhirnya Roadshow Pameran Foto Prahara Pulau Emas di Museum Tsunami Aceh.
Hal tersebut disampaikan Ketua Panitia Pameran Foto Prahara Pulau Emas, Eko Deni Saputra, pada penutupan pameran yang secara resmi ditutup oleh Juru Bicara Satgas PRR Aceh, Dr. Amran MT, mewakili Kaposkowil Satgas PRR, Dr. Safrizal ZA, di Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Sabtu (8/8/2026).
Eko mengatakan, selama sepekan pelaksanaan, pameran tidak hanya menjadi ruang untuk menampilkan karya fotografi jurnalistik tentang bencana, tetapi juga menjadi ruang edukasi untuk mengingat kembali peristiwa bencana, melihat ketangguhan masyarakat, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“Pameran ini bagi kami bukan sekadar menampilkan foto bencana, tetapi menjadi ruang untuk mengingat kembali apa yang terjadi, melihat ketangguhan masyarakat, dan belajar agar kita lebih siap menghadapi bencana ke depan,” ujar Eko.
Menurut Sekretaris PFI Aceh itu, keterlibatan Satgas PRR Aceh dalam kegiatan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun komunikasi dan kolaborasi antara PFI Aceh dengan berbagai pihak dalam bidang dokumentasi dan edukasi kebencanaan.
Ia berharap kolaborasi tersebut dapat terus terjalin melalui berbagai kegiatan yang relevan ke depan.
Eko mengatakan, momentum satu tahun bencana yang diperkirakan berlangsung pada November mendatang juga dapat menjadi kesempatan untuk kembali memperkuat perhatian terhadap isu kebencanaan.
“Kami berharap komunikasi dan kolaborasi yang sudah terjalin ini dapat terus berlanjut. Jika ada ruang dan kesempatan, tentu kami terbuka untuk bersama-sama menghadirkan kegiatan pameran foto, diskusi, dokumentasi, maupun edukasi kebencanaan,” katanya.
Ia menegaskan, PFI Aceh ingin mendorong agar karya jurnalistik tidak berhenti sebagai dokumentasi, tetapi dapat menjadi bagian dari proses edukasi dan mendorong aksi nyata bagi masyarakat.
Baca juga: Satgas PRR Kebut Pemulihan Pertanian Terdampak Bencana
“Ketika peran itu disatukan, dokumentasi tidak hanya menjadi catatan sejarah, tetapi juga dapat menjadi bahan pembelajaran dan mendorong aksi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Jubir Satgas PRR Aceh, Amran, mengatakan fotografi memiliki peran penting dalam memberikan gambaran rill mengenai kondisi bencana sekaligus menjadi arsip sejarah bagi generasi mendatang.
Ia menilai Prahara Pulau Emas tidak hanya menjadi pameran fotografi, tetapi juga memiliki nilai edukasi dan mitigasi.
“Ini menjadi pembelajaran bagi masyarakat yang ada di Aceh, baik untuk generasi sekarang maupun generasi yang akan datang. Kalau kita tidak solid dan tidak bersatu untuk menjaga alam, serta tidak meningkatkan kepedulian, tentunya bencana-bencana yang akan datang bisa menjadi lebih berat,” ujar Amran.
Amran mengatakan dokumentasi bencana memiliki sedikitnya tiga nilai penting, yakni sebagai media edukasi dan mitigasi, penguat kesadaran menjaga lingkungan, serta sarana membangun kepedulian dan solidaritas sosial.
Menurutnya, foto juga memiliki kekuatan untuk menghadirkan kembali kondisi bencana yang mungkin tidak lagi terlihat setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi selesai.
“Sekarang kita masih fokus bagaimana rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Tetapi yang bisa menyisakan pembelajaran yang sangat berarti adalah foto-foto rekaman dari para pewarta foto Indonesia. Ini sebuah hal yang luar biasa dan nilainya sangat besar,” katanya.
Amran berharap karya-karya Prahara Pulau Emas tetap dipublikasikan melalui berbagai platform digital sehingga pesan edukasi kebencanaan yang terkandung di dalamnya dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Ini bukan akhir, tetapi awal. Saya yakin yang menyaksikan selama enam hari pameran Prahara Pulau Emas akan lebih banyak pascapameran ini, karena foto-foto yang bagus dapat dipublikasikan secara digital,” ujarnya.
Pameran Prahara Pulau Emas merupakan roadshow yang digagas PFI Pusat bersama Yayasan Riset Visual mataWaktu dan PLN, dengan PFI Aceh sebagai salah satu tuan rumah. Setelah berlangsung di Aceh, pameran foto Prahara Pulau Emas akan berlanjut ke Sumatera Utara.
