Komparatif.ID, Banda Aceh— Menteri Agama Nasaruddin Umar mendorong UIN Ar-Raniry Banda Aceh jadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus peradaban Islam modern. Menurutnya, Aceh memiliki modal historis dan posisi strategis untuk mengambil peran lebih besar dalam pengembangan ilmu dan peradaban Islam.
Hal itu disampaikan Nasaruddin saat memberikan kuliah umum dan pembinaan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Auditorium Prof Ali Hasjmy UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Selasa (11/8/2026).
Nasaruddin mengatakan UIN memiliki tanggung jawab yang berbeda dibandingkan perguruan tinggi umum. Selain menjalankan fungsi akademik, UIN juga memiliki peran sebagai institusi dakwah. “UIN itu tidak murni sebagai lembaga akademik, tapi berbeban ganda menjadi institusi dakwah,” kata Nasaruddin.
Menurut dia, lulusan UIN tidak hanya dituntut menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab keagamaan dan sosial di tengah masyarakat. Karena itu, ia meminta sivitas akademika UIN Ar-Raniry terus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan metodologi akademik.
Nasaruddin mendorong UIN Ar-Raniry berani melahirkan temuan dan pendekatan baru dalam pengembangan keilmuan. Ia menegaskan perguruan tinggi Islam tidak boleh tertinggal dalam perkembangan zaman. “UIN tidak boleh ketinggalan zaman dalam metodologi. Beranilah membuat temuan-temuan baru,” ujarnya.
Baca juga: Mujiburrahman Kembali Pimpin UIN Ar-Raniry Hingga 2030
Menurutnya, Aceh memiliki modal historis dan geografis yang kuat untuk menjadi salah satu pusat pengembangan peradaban Islam pada masa depan.
Ia menilai pengembangan ilmu dan peradaban Islam tidak selamanya harus berpusat di kawasan Timur Tengah. Indonesia, khususnya Aceh, dinilai memiliki posisi strategis untuk mengambil peran tersebut.
“Tempat yang paling aman untuk mengadopsi ilmu dan peradaban Islam adalah di Indonesia. Saya kira tempat yang paling strategis adalah di Aceh,” kata Nasaruddin.
Menurutnya, posisi Aceh di kawasan Asia Tenggara serta kedekatannya dengan Malaysia dan Brunei Darussalam menjadi salah satu modal strategis dalam pengembangan peradaban Islam.
Nasaruddin turut mengapresiasi perkembangan UINAR. Ia menyebut kampus tersebut sebagai salah satu perguruan tinggi keagamaan Islam yang mendapat perhatian besar dari Kementerian Agama.
Ia juga mengajak sivitas akademika UIN Ar-Raniry meneladani tokoh-tokoh Aceh yang dinilai memiliki keteguhan dalam keilmuan, pemikiran, dan prinsip.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut dapat menjadi bagian dari karakter akademik UIN Ar-Raniry dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh Prof. Dr. Mujiburrahman, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Menteri Agama. Menurut Mujiburrahman, kunjungan Nasaruddin memiliki nilai historis tersendiri bagi UIN Ar-Raniry.
“Kehadiran Bapak Menteri Agama selalu berkesan bagi kami, mulai dari meresmikan transformasi IAIN menjadi UIN pada tahun 2014, hingga memberikan bantuan langsung bagi mahasiswa terdampak banjir akhir tahun lalu,” kata Mujiburrahman.
