Komparatif.ID, Addis Ababa—Grand Ethiopian Renaissance Dam (GERD), telah menciptakan sejarah baru bagi Ethiopia. Bendungan raksasa pembangkit listrik tenaga air (PLTA) terbesar di benua Afrika, yang beroperasi penuh mulai 9 September 2025, menjadi motor utama perekonomian negara tersebut.
GERD merupakan proyek ambisius yang didanai secara mandiri oleh Pemerintah Ethiopia. Untuk pembangunan bendungan raksasa itu, Pemerintah Ethiopia menjual obligasi untuk masyarakat di dalam negeri. mereka juga membangun hubungan sehingga diaspora bersedia berkontribusi.
Anggaran yang dihabiskan untuk megaproyek itu 5 miliar dollar AS. Sangat besar. Pembangunannya juga tidak mulus. Negara tetangga melakukan protes. Tapi berkat ketekunan, proyek itu berhasil dilakukan dengan baik.Memasuki tahun operasional penuhnya, bendungan berkapasitas 5.150 Megawatt (MW) ini mencatatkan performa di luar ekspektasi.
Berdasarkan data performa tahunan terbaru dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ethiopian Electric Power (EEP) bendungan raksasa ini langsung mendominasi bauran energi nasional dan kawasan.
Selama beberapa dekade, pemadaman listrik bergilir menjadi momok menakutkan bagi sektor manufaktur Ethiopia. Kehadiran GERD membalikkan narasi tersebut. Berdasarkan laporan kinerja tahunan EEP, GERD secara luar biasa langsung menyumbang 52 persen dari total pendapatan ekspor listrik negara tersebut.
BACA: Ethiopia Umumkan Pembangunan Bendungan Terbesar di Afrika Rampung
Pasokan masif ini menyuplai berbagai Industrial Parks (Kawasan Industri) baru di seluruh pelosok negeri. Pabrik-pabrik manufaktur kini beroperasi dengan pasokan listrik yang lebih stabil.
Ketersediaan energi murah ini memicu migrasi tenaga kerja secara bertahap dari sektor pertanian tradisional ke sektor industri dengan produktivitas tinggi, memodernisasi struktur ketenagakerjaan Ethiopia secara masif.
GERD tidak hanya dirasakan di dalam negeri. Ethiopia kini sukses mengukuhkan posisinya sebagai pusat energi utama di kawasan Tanduk Afrika. Jaringan transmisi tegangan tinggi kini mengalirkan daya bersih dari bendungan ini ke negara-negara tetangga seperti Kenya, Djibouti, Sudan, dan yang terbaru, Tanzania.
Realisasi finansial dari strategi ini sangat signifikan. Secara akumulatif, berkat dorongan produksi energi dari GERD, total pendapatan ekspor listrik Ethiopia berhasil menembus rekor tertinggi melampaui setengah miliar dolar AS (di atas USD 500 juta).
Penjualan energi ke luar negeri ini menyumbang porsi yang kian krusial bagi total pendapatan korporasi EEP. Bagi pemerintah di Addis Ababa, pasokan devisa baru ini menjadi angin segar yang sangat krusial untuk mengatasi masalah kelangkaan mata uang asing (valas) yang selama ini menghambat pertumbuhan ekonomi.
Dari perspektif makroekonomi, integrasi penuh jaringan listrik GERD ke dalam sistem nasional bertindak sebagai stimulus biaya ekonomi yang kuat. Industri dapat menekan biaya operasional dengan mengganti penggunaan generator diesel yang mahal dengan energi terbarukan dari Sungai Nil Biru.
Keberhasilan komersial domestik ini bahkan mendorong pendapatan listrik dalam negeri Ethiopia melesat hingga melampaui 124 miliar birr.Di sisi lain, lompatan kapasitas ini memicu investasi infrastruktur lanjutan.
Pemerintah Ethiopia terus memperkuat jaringan transmisinya, termasuk melalui kemitraan strategis senilai 400 juta dolar AS dengan Gridworks untuk membangun jalur transmisi baru.
Langkah ini dirancang untuk memperkuat interkoneksi ekspor listrik regional sekaligus mempercepat perluasan jaringan distribusi domestik guna menjangkau jutaan rumah tangga di pedesaan yang selama ini belum terjamah listrik.
Tantangan GERD
Kendati mencatatkan kisah sukses ekonomi yang gemilang, perjalanan GERD bukannya tanpa hambatan. Bayang-bayang sengketa diplomatik dengan negara hilir—khususnya Mesir dan Sudan—terkait hak pengelolaan air Sungai Nil Biru masih menjadi tantangan geopolitik terbesar.
Mesir mengkhawatirkan dampak aliran air terhadap ketahanan air mereka, sementara Ethiopia menegaskan hak kedaulatannya untuk memanfaatkan sumber daya alam demi mengangkat rakyatnya dari kemiskinan.
Kini, fokus pemerintah Ethiopia adalah mendorong implementasi Cooperative Framework Agreement (CFA) untuk menciptakan kepastian hukum regional yang adil bagi seluruh negara di sepanjang aliran sungai. Di tengah dinamika politik tersebut, satu hal yang pasti,dari riak air Sungai Nil Biru, Ethiopia telah berhasil menyalakan lampu-lampu industri mereka dan melangkah mantap menuju masa depan ekonomi yang lebih mandiri.
Ethiopia telah bangkit. Dari negara miskin menjadi raksasa ekonomi yang sedang bangkit di Afrika Timur. GERD merupakan megaproyek yang dikelola dengan sangat serius. Tanpa utang kepada asing, hanya mengandalakan obligasi, pajak, dan kontribusi diaspora.
Disadur dari: ENA English, MDPI, the Africa Report, The Reporter Ethiopia.
