BREAKING
Mistik

Toke Din dan Raja Itam Penguasa Lubuk

toke din dan raja itam
Ilustrasi. Dibuat oleh Banana2.

Toke Din bukan pengamal sihir. Setidaknya demikian anggapan warga. Hidupnya normal. Hubungannya dengan Raja Itam dibicarakan samar-samar,sesekali sebagai joke.

Toke Din (bukan nama sebenarnya) merupakan salah satu orang berduit di desanya. Meski demikian, ia tidak termasuk tokoh di kampung yang bersisian dengan Sungai Peusangan yang berhulu di Danau Lut Tawar.

Ia tidak pernah dimintai pendapatnya di dalam forum-forum rapat desa. Tak pernah diangkat menjadi pemimpin, bahkan tak pernah diajak sebagai pengambil keputusan terkait desa.

Ia pria biasa saja. Hal yang membuat ia terpandang hanya karena memiliki usaha yang menjadikannya sebagai toke di desanya.

Dia tidak termasuk warga bandel. Bukan juga yang sangat taat. Dia salat Jumat seperti laki-laki muslim pada umumnya. Tapi pada waktu lain, ia bisa melewatkan waktu salat fardhu lainnya begitu saja. Demikianlah dia.

Di rumah batunya –rumah full tembok—ia merupakan suami yang baik. Ayah yang asyik, dan saudara yang sopan bagi jiran-jirannya.

Satu hal yang selalu memantik tanya. Dia merupakan salah satu pria yang sukses menipu banyak ikan di Krueng Peusangan. Bila orang lain kesulitan menangkap ikan keureuling, kail Toke Din justru sering berhasil mengibus ikan mashreer ukuran tiga kilogram.

Bila orang lain hanya mampu mengail sidat ukuran satu kilogram. Dia justru sering membawa pulang yang tiga kilogram.

Banyak orang mengatakan bahwa dia memiliki mantra khusus untuk membujuk ikan supaya menelan mata pancingnya. Ia memiliki jampi-jampi supaya ikan jatuh hati dan dengan sukarela masuk ke dalam jaring jalanya.

Tiap kali ada yang bertanya langsung, Toke Din hanya tersenyum. Dia mengatakan, Rezeki sudah diatur. Saya hanya beruntung saja,” jawabnya sembari tersenyum.

Suatu hari seorang keluarga dekatnya bercerita bahwa sang toke memiliki sahabat karib dari bangsa lelembut. Menurutnya, pria bertubuh tinggi besar dan berkumis tebal itu, telah lama berteman dengan Raja Itam, lelembut penguasa lubuk di bawah jembatan.

Menurut ceritanya, Raja Itam merupakan iblis yang baik. Berteman dengannya tidak membutuhkan tumbal aneh-aneh. Bila purnama penuh, dia hanya minta disajikan rokok Gudang Garam Merah, satu ikat bunga melati, dan segenggam kemenyan. Hanya itu.

“Mengapa dia selalu bisa menangkap ikan ukuran besar? Ya karena dia dibantu Raja Itam. Jin itulah yang menangkap ikan untuk Toke,” cerita pria itu sembari menyeruput kopi di atas balai-balai di tepian sungai. Saat itu dia dan enam warga lainnya sedang piket jaga malam di tengah kondisi Aceh yang tidak kondusif.

“Ah, yang benar?” timpal Raman Katibin, pria lajang tua yang dikenal suka pada hal-hal mistis, tapi penakutnya luar biasa.

“Mana mungkin aku bohong. Kalau aku berdusta, aku rela dimakan beruang madu,” jawab saudara dekat Toke Din itu.

Sengketa Toke Din dan Raja Itam

Pada suatu ketika, purnama penuh telah lewat. Toke Din berangkat ke Banda Aceh menjenguk anaknya yang kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta. Pria berkulit sawo matang itu harus berangkat tiba-tiba karena putrinya dikabarkan sakit.

Dia berada di Banda Aceh selama satu minggu penuh. Mendampingi sang putri yang dirawat di rumah sakit. Ia baru pulang setelah sang putri sulung sembuh dan kembali masuk kuliah.

Ketika tiba di kampung, ia baru ingat bahwa dirinya telah melewatkan malam purnama penuh. Artinya Raja Itam tak mendapatkan sesajen rokok Gudang Garam Merah, bunga melati dan kemenyan.

Pada pukul 00.00 WIB, dia melangkah ke tepi sungai. Ia membaca mantra, kemudian memanggil Raja Itam. Tak ada sahutan. Tak ada tanda-tanda.

“Jangan ngambeklah, Kawan. Putriku sakit di Banda Aceh. Dia tidak bisa menunggu. Sedangkan kamu kan bisa menunggu,” bujuk Toke sembari menatap ke arah lubuk.

Tak ada jawaban. Tak ada tanda-tanda.

BACA: Misteri Raja Itam di Blang Santewan

“Jangan merajuk. Macam anak kecil saja kamu, Kawan. Ini aku sudah bawakan dua bungkus rokok kesukaanmu. Aku juga bawa bunga melati dan kemenyan. Lebih dari biasanya.”

Terdengar suara beriak air di dalam lubuk. Tapi tak ada tanda lain. Jangankan wujud, bayang Raja Itam pun tak Nampak.

Kira-kira satu jam membujuk dan tidak membuahkan hasil apa-apa, Toke pulang sembari merepet.

“Dasar jin goblok. Kalau memang sangat ingin merokok, kan kamu bisa ambil sendiri di rumah. Dasar raja malas,” celetuknya sembari melangkah membelakangi sungai.

Di jalan dia membuka bungkus rokok Gudang Garam Merah. Disulutnya sebatang sembari berjalan santai menuju rumah.

Akhir Sebuah Hubungan

Pagi, sekitar pukul 07.00 WIB, Fadli—sebut saja demikian—putra bungsu Toke lari tergopoh-gopoh ke rumah. Dia membatalkan mandi pagi karena melihat posko tempat Toke biasa berteduh, terlihat acak-acakan.

Toke berlari ke arah sungai. Tiba di sana dia terkejut. Dua unit perahu kayu miliknya telah tersangkut ke dahan beringin besar. Cukup tinggi. Dua jalanya tersangkut di pucuk pohon kelapa. Balai kecil tempat ia sehari-hari menghitung pemasukan dari bisnis batu kali, telah berada di lokasi tempat biasa orang buang hajat di tepi sungai.

Toke terkekeh. Dia tahu pelakunya siapa. Pelakunya merupakan teman dekatnya.

Dia pun pulang sembari melangkah santai.

Malamnya dia kembali lagi ke sungai. Dia tersenyum ketika melihat kedua perahunya sudah kembali ditambat di tempat biasanya. Satu jalanya robek. Satu lagi ditaruh di dalam badan perahu.

Balai kecil sudah ditaruh kembali ke lokasi awal.

Toke menarik perahu ke dalam air. Dia kemudian duduk di dalamnya dan mengayuh ke tengah sungai.

Ketika perahu itu tepat berada di atas lubuk, t-tiba perahunya berguncang sangat kuat. Air di lubuk berputar hebat, membentuk lubang ,dan Toke beserta perahunya terisap ke dalamnya.

Di dalam lubuk dia melihat sosok tinggi besar, hitam, dan bertanduk duduk di atas singgasana. Di sampingnya banyak rokok Gudang Garam Merah. Berjuntai-juntai bunga melati, dan berkarung-karung kemenyan.

Ia seperti hendak menunjukkan bahwa sebagai lelembut Raja Itam tidak kekurangan apa pun. Melihat itu, Toke agak kecut. Di hadapannya bukan lagi Raja Itam yang terlihat lucu. Tapi sesosok jin dengan wajah tidak bersahabat.

“Kamu siapa? Mengapa berani datang ke sini?” tanya Raja Itam dengan suara menggelegar.

Belum sempat menjawab, tiba-tiba tubuh Toke dan perahunya tersedot ke atas.

Besok pagi, warga desa heboh. Toke ditemukan pingsan dalam kondisi basah kuyup di tikungan sungai, tepat di samping lubuk. Warga menggotong tubuh pria tinggi besar itu dengan susah payah. Dia baru sadarkan diri ketika tiba di rumah sakit.

Sejak saat itu hubungannya dengan Raja Itam berakhir. Beberapa kali upaya rekonsiliasi tak membuahkan hasil. Pria itu harus menerima kenyataan bahwa sang teman telah mencoret dirinya dari daftar pertemanan.

Sejak saat itu pria tersebut tak pernah lagi menjala ikan. Tak pernah lagi mengail ikan. Bila dia ingin makan ikan keureuling atau sidat, dia memesannya pada orang lain yang memiliki hobi yang sama dengannya.

Ada satu tanya yang tak pernah dia sampaikan. Seorang warga yang dulunya tidak pernah berhasil mendapatkan ikan ukuran besar, kini justru seringmembawa pulang keureuling dan sidat besar setiap kali pulang memancing atau menjala di sungai.

“Apakah Raja Itam telah memilihnya sebagai teman?” ia bertanya dalam hati. Tanya yang tidak pernah diutarakan, dan dia tidak mau lagi memikirkan perihal itu lagi.

Catatan redaksi: Kisah di atas hanya cerita pengantar tidur. Anggap saja bacaan selingan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *