
Sikap mangro tingal atau mendua atau standar ganda soal prinsip moral seperti yang ditunjukkan oleh sosok Minke itu adalah gambaran besar dari mayoritas masyarakat Indonesia, mereka lebih patuh dan memuja pada “moralitas palsu” daripada meluhurkan “moralitas substantif”.
***
Minke, tokoh rekaan Pramoedya dalam 4 deret novelnya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca) adalah sosok yang ikonik. Ia terpelajar, penentang kolonialisme, dan juga penantang feodalisme. Akan tetapi agak kecut saya ketika membaca satu babak kisahnya di Jejak Langkah.
Minke yang terpelajar itu, yang dalam kepalanya bersemayam ide-ide modernisme dan pencerahan Eropa itu, ternyata masih muncul ketakutan untuk makan daging babi ketika dijamu makan oleh sahabat penanya, Miriam de la Croix.
Akan tetapi anomalinya, Minke gagal menolak ketika dijamu dengan seks oleh Miriam de la Croix itu, padahal Minke sangat sadar jika Miriam adalah istri dari sahabatnya sendiri, juga Minke sendiri sudah memiliki istri.
Baca juga: Bupati Aceh Selatan Dinilai Tak Miliki Sense of Crisis
Barangkali, sikap mangro tingal atau mendua atau standar ganda soal prinsip moral seperti yang ditunjukkan oleh sosok Minke itu adalah gambaran besar dari mayoritas masyarakat Indonesia, mereka lebih patuh dan memuja pada “moralitas palsu” yang didasarkan pada mitos dan tahayul, daripada meluhurkan “moralitas substantif” yang berdasarkan pada humanisme dan hukum sebab akibat yang nyata.
Lihat saja orang-orang seperti Bupati Aceh Selatan yang ketika rakyatnya diterjang bencana malah hura-hura umroh itu, atau Zulkifli Hasan menteri sontoloyo itu, atau nama-nama seperti Yahya Cholil Staquf, Gus Ipul, Gus Yaqut, mereka dijamin orang-orang yang sangat ketakutan memakan daging babi, dalam moralitas tahayul mereka sangat menjunjung tinggi prinsip itu.
Akan tetapi dalam moralitas yang lebih substantif seperti menjaga amanah dan kepercayaan rakyat, apakah dijamin orang-orang seperti mereka kuat dalam memegang prinsip? Alam dan sejarah justru telah mencatat, mereka tidak lain hanyalah barisan orang-orang sontoloyo.
Dan karenanya, jika makan daging babi dalam pengalaman yang sifatnya personal, ada korelasinya dengan sikap subversif atau pemberontakan terhadap moralitas yang palsu dan sontoloyo, maka lakukanlah! Meski daging babi sendiri, menurutku selera lidahku, ya masih kalah dengan daging sapi atau ayam, enaknya tidak seperti yang digembar-gemborkan orang itu.
Barangkali sensasi subversif dan rebel itu yang bikin daging babi, bagi sebagian orang, citarasanya menjadi jauh lebih nikmat dan mantab.












