Komparatif.ID, Jakarta— Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan Indonesia telah mulai melakukan impor minyak mentah dari Amerika Serikat secara bertahap.
Langkah ini diambil untuk menutupi pasokan impor dari kawasan Timur Tengah yang terganggu setelah jalur distribusi minyak dunia di Selat Hormuz ditutup menyusul konflik antara Iran dan Israel yang turut melibatkan Amerika Serikat.
Bahlil menjelaskan impor dari Amerika Serikat tidak dilakukan sekaligus dalam jumlah besar, melainkan secara bertahap. Hal itu disesuaikan dengan kapasitas penyimpanan minyak yang saat ini dimiliki Indonesia.
“Ya bertahap itu kan bertahap, tidak bisa sekaligus satu kali datang karena kita punya daya simpanan tidak cukup. Jadi masalah kita itu sekarang adalah di storage,” kata Bahlil di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
Menurut dia, keterbatasan fasilitas penyimpanan menjadi salah satu kendala dalam pengelolaan pasokan energi nasional. Karena itu pemerintah mulai mendorong pembangunan tangki penyimpanan bahan bakar minyak agar Indonesia memiliki cadangan yang lebih kuat untuk menghadapi situasi darurat.
Baca juga: Selat Hormuz Ditutup Iran, Bahlil: Stok BBM Nasional Aman Untuk 20 Hari
Bahlil: Pasoka Minyak Indonesia Aman
Penutupan Selat Hormuz terjadi setelah konflik antara Iran dan Israel yang kemudian turut melibatkan Amerika Serikat. Jalur laut tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu urat nadi perdagangan minyak dunia. Setiap hari sekitar 20,1 juta barel minyak melewati selat tersebut.
Kondisi tersebut memicu penyesuaian rantai pasok energi di berbagai negara, termasuk Indonesia yang selama ini masih bergantung pada impor minyak mentah dari berbagai kawasan.
Meski demikian, Bahlil menilai pasokan produk bahan bakar minyak dari negara tetangga seperti Singapura diperkirakan tidak akan mengalami gangguan signifikan. Ia yakin kilang-kilang di Singapura memiliki sumber pasokan minyak mentah dari berbagai negara sehingga tidak hanya bergantung pada Timur Tengah.
Menurutnya, dalam perdagangan minyak global, perusahaan pengolah minyak biasanya memiliki sejumlah alternatif sumber pasokan. Selain Timur Tengah, minyak mentah juga dapat berasal dari kawasan Afrika, termasuk Angola, serta negara produsen lain seperti Brasil, Malaysia, dan Amerika Serikat.
“Karena sumber crude itu tidak satu-satunya dari Middle East. Afrika, Angola, Brasil. Sebagian juga mereka ambil dari Malaysia. Sebagian bisa ambil dari Amerika,” ujar Bahlil.
Ia menambahkan perusahaan energi biasanya akan memilih sumber pasokan yang paling ekonomis serta memiliki jalur distribusi tercepat. Oleh karena itu, perubahan jalur pasokan akibat gangguan di Selat Hormuz masih dapat disiasati melalui sumber alternatif.
Bahlil juga mengingatkan volume minyak yang melewati Selat Hormuz sekitar 20,1 juta barel per hari, sementara konsumsi minyak global mencapai ratusan juta barel per hari. Karena itu, menurutnya, situasi tersebut lebih merupakan persoalan pengaturan distribusi dan penyesuaian sumber pasokan di pasar energi dunia.













