
Komparatif.ID, Banda Aceh— Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) mencatat Aceh kehilangan tutupan hutan seluas 39.687 hektare sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat lebih dari 274 persen dibandingkan 2024 dan menjadi yang tertinggi dalam dekade terakhir.
Temuan ini dipaparkan Manager GIS HAkA, Lukmanul Hakim, dalam diskusi bertajuk “Kehilangan Tutupan Hutan dan Dinamika Risiko Bencana di Aceh” yang digelar di Banda Aceh, Rabu (25/2/2026).
Lukmanul menyampaikan peningkatan kehilangan tutupan hutan tidak dapat dibaca semata sebagai dampak bencana alam. Berdasarkan temuan lapangan, kerusakan tersebut berkaitan erat dengan pola kejahatan kehutanan yang terstruktur dan telah berlangsung lama, terutama di kawasan hutan negara.
“Kehilangan tutupan hutan Aceh sepanjang tahun 2025 mencapai 39.687 hektar, meningkat lebih dari 274 persen dibandingkan tahun 2024. Lonjakan ini menjadi salah satu yang tertinggi dalam satu dekade terakhir,” ujarnya.
Ia mengatakan lonjakan kehilangan tutupan hutan sepanjang 2025 menunjukkan adanya tekanan serius terhadap kawasan yang seharusnya dilindungi secara ketat.
Verifikasi lapangan berbasis komunitas yang dilakukan HAkA menunjukkan sekitar 80 persen kehilangan tutupan hutan terjadi di dalam kawasan hutan negara. Kawasan tersebut mencakup hutan lindung, hutan produksi, taman nasional, dan suaka margasatwa.
Area-area ini secara fungsi dirancang sebagai pelindung ekologis dan penyangga kehidupan masyarakat.
Dari total kehilangan tutupan hutan itu, sekitar 71 persen terjadi di dalam Kawasan Ekosistem Leuser, bentang alam strategis yang menopang sistem hidrologi, keanekaragaman hayati, serta kehidupan jutaan warga Aceh.
Menurut Lukmanul, temuan ini menegaskan tekanan terbesar terhadap hutan Aceh justru terjadi di kawasan yang seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan ekologis. Ia menyebut, kondisi tersebut memperlihatkan adanya persoalan tata kelola dan pengawasan yang perlu mendapat perhatian serius.
Baca juga: Mualem Beri Waktu 14 Hari Alat Berat Tambang Ilegal Keluar dari Hutan Aceh
Sebagian kehilangan tutupan hutan pada akhir 2025 memang berkaitan dengan rangkaian bencana hidrometeorologis berupa banjir besar, longsor, dan pelebaran alur sungai yang terjadi pada November hingga Desember 2025.
Namun, analisis data yang dipaparkan menunjukkan bahwa tren peningkatan kehilangan tutupan hutan telah berlangsung sebelum bencana besar tersebut terjadi.
“Sebagian kehilangan tutupan hutan pada akhir 2025 memang berkaitan dengan rangkaian bencana hidrometeorologis berupa banjir besar, longsor, dan pelebaran alur sungai yang terjadi pada November–Desember 2025. Namun, analisis data menunjukkan bahwa tren peningkatan kehilangan tutupan hutan telah berlangsung sebelum bencana besar tersebut terjadi,” lanjutnya.
Lebih rinci, Lukmanul menjelaskan pada periode Januari hingga September 2025, kehilangan tutupan hutan di Kawasan Ekosistem Leuser (KEL) telah mencapai 5.955 hektare. Angka itu melampaui total kehilangan tutupan hutan sepanjang 2024.
Fakta tersebut, menurut HAkA, menunjukkan bencana berperan sebagai akselerator dari lanskap yang telah mengalami pelemahan sebelumnya, bukan sebagai penyebab tunggal kerusakan.
Dalam paparannya, Lukmanul juga menyampaikan kerusakan hutan yang berlangsung selama beberapa dekade terakhir telah menurunkan daya lenting ekologis Aceh. Ketika tutupan hutan di kawasan hulu, daerah aliran sungai, dan gambut terus melemah, kejadian cuaca ekstrem lebih mudah berkembang menjadi bencana berskala besar.
Ia menilai kondisi ini memperlihatkan hubungan erat antara dinamika kehilangan tutupan hutan dengan peningkatan risiko bencana di wilayah Aceh.












