
Komparatif.ID, Singapura– Gempa bumi berkekuatan magnitudo 9,2 yang mengguncang lepas pantai Aceh pada 2004 ternyata masih menyisakan dampak hingga dua dekade kemudian. Penelitian terbaru yang dipimpin Universitas Teknologi Nanyang (NTU) Singapura mengungkap bencana tersebut menyebabkan permukaan tanah di Singapura perlahan mengalami penurunan selama bertahun-tahun setelah gempa terjadi.
Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Communications Earth & Environment dan diumumkan NTU pada 10 Juli2026. Penelitian itu menunjukkan dampak gempa tidak hanya dirasakan di Sumatra, tetapi juga meluas ke negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Para peneliti menemukan meskipun penurunan permukaan tanah hanya terjadi dalam skala beberapa milimeter per tahun, perubahan tersebut memiliki arti penting dalam menghitung kenaikan permukaan laut dan menyusun strategi adaptasi terhadap perubahan iklim. Menurut tim peneliti, risiko banjir di kawasan pesisir dataran rendah dapat diperkirakan secara keliru apabila pergerakan vertikal permukaan tanah, baik berupa amblesan maupun pengangkatan, tidak dimasukkan ke dalam perhitungan.
Gempa bumi yang menjadi objek penelitian merupakan gempa besar yang berpusat di lepas pantai barat Sumatra. Episentrumnya berada sekitar 100 hingga 250 kilometer di sebelah selatan hingga barat daya Banda Aceh, sekitar 160 kilometer di utara Pulau Simeulue, dengan kedalaman sekitar 30 kilometer di bawah dasar laut.
Peneliti dari Earth Observatory of Singapore, Grace Ng, mengatakan gempa bumi besar tidak hanya menyebabkan guncangan yang berlangsung beberapa menit, tetapi juga memicu proses penyesuaian lambat di bagian dalam bumi yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun.
Menurut Ng, pergerakan tersebut berkaitan dengan keberadaan mantel bumi yang relatif lemah di bawah kerak bumi pada kawasan yang dikenal sebagai backarc atau busur belakang Sumatra. Wilayah ini mencakup area luas di belakang jajaran gunung berapi Sumatra, termasuk Singapura, Malaysia, dan Thailand.
Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti menganalisis data pergerakan tanah selama hampir dua dekade yang dikumpulkan dari stasiun Sistem Satelit Navigasi Global atau Global Navigation Satellite System (GNSS) di Singapura, Malaysia, dan Thailand. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan model komputer yang menggambarkan struktur lapisan bumi.
Hasil analisis menunjukkan pola pergerakan tanah yang diamati hanya dapat dijelaskan apabila mantel atas di bawah kawasan busur belakang Sumatra memiliki sifat yang cukup lemah sehingga mampu mengalir secara perlahan dalam jangka waktu panjang. Pergerakan material di bawah permukaan bumi tersebut menyebabkan kerak bumi di wilayah yang berada di atasnya mengalami penurunan secara bertahap.
Baca juga: Belajar dari Tsunami Aceh 2004, BRIN Riset Lempeng Tektonik
Ng menjelaskan penelitian seperti ini sulit dilakukan sebelum tahun 2004 karena jaringan stasiun pemantauan satelit berkelanjutan yang diperlukan untuk mengukur deformasi tanah dalam jangka panjang baru banyak dipasang setelah bencana gempa dan tsunami Aceh.
Temuan terbaru ini juga memperkuat hasil penelitian sebelumnya pada 2025 yang menyebutkan tiga gempa bumi terbesar di Sumatra menyebabkan Singapura mengalami penurunan permukaan tanah hingga sekitar 2,2 milimeter per tahun dalam periode Desember 2004 hingga April 2012. Di luar periode tersebut, pulau utama Singapura dinilai relatif stabil dengan tingkat amblesan yang mendekati nol.
Saat ini, para peneliti tengah mengembangkan model untuk menghitung seberapa besar pergerakan tanah yang masih berlangsung dipengaruhi oleh efek jangka panjang dari gempa-gempa besar di Sumatra. Pemodelan tersebut dilakukan setelah mereka memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai viskositas atau tingkat kekentalan mantel bumi di bawah kawasan tersebut.
Penulis senior penelitian sekaligus Profesor Ilmu Bumi dan Lingkungan AXA-Nanyang, Emma Hill, mengatakan sebagian besar proyeksi kenaikan permukaan laut selama ini lebih banyak berfokus pada faktor perubahan iklim, seperti mencairnya lapisan es dan pemanasan suhu laut.
Menurut Hill, penelitian terbaru menunjukkan penurunan permukaan tanah setelah gempa merupakan salah satu faktor penting yang memengaruhi perubahan relatif permukaan laut di kawasan regional. Ia menilai memasukkan faktor geologi tersebut ke dalam model proyeksi akan membantu meningkatkan perencanaan wilayah pesisir, khususnya bagi kota-kota yang berada di dataran rendah.
Ng menambahkan akumulasi penurunan permukaan tanah di Singapura saat ini masih berada pada skala sentimeter sehingga pembuat kebijakan masih memiliki waktu untuk mengantisipasi dampaknya. Ia menilai memasukkan hasil pemodelan tersebut sejak dini ke dalam rencana adaptasi akan lebih efektif dibandingkan melakukan penyesuaian infrastruktur setelah dampaknya semakin besar.












