
Komparaif.ID, Budapest– Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa terus menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat dan layanan publik. Setelah lebih dahulu memecahkan berbagai rekor suhu di kawasan Eropa Barat, fenomena kubah panas (heat dome) kini bergeser ke wilayah Eropa Tengah dan Timur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 1.300 kematian berlebih (excess deaths) sejak 21 Juni 2026 yang dikaitkan dengan suhu ekstrem tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun pada Rabu, 1 Juli 2026, WHO menyebut gelombang panas kali ini menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat yang paling serius di kawasan Eropa. Lonjakan suhu yang terjadi di berbagai negara meningkatkan risiko dehidrasi, serangan panas (heatstroke), hingga memperburuk kondisi penyakit yang telah diderita kelompok rentan, terutama lanjut usia.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengatakan bahwa stres akibat panas telah menjadi pembunuh senyap di Eropa. Menurutnya, rumah, tempat kerja, dan sekolah di kawasan tersebut tidak dirancang untuk menghadapi suhu setinggi yang terjadi saat ini.
Ia menegaskan bahwa sebagian besar bangunan di Eropa dibangun untuk mempertahankan kehangatan selama musim dingin. Akibatnya, hanya sekitar 5 hingga 19 persen rumah yang memiliki sistem pendingin ruangan (AC) yang memadai untuk menghadapi suhu ekstrem pada musim panas.
Baca juga: Kian Panas, Perang Thailand dan Kamboja Tewaskan 35 Orang
Laporan berkala dari Badan Meteorologi Dunia (WMO) bersama sejumlah lembaga cuaca nasional menunjukkan bahwa berbagai negara mencatat rekor suhu tertinggi dalam sejarahnya. Di Prancis, gelombang panas memicu lonjakan suhu lokal hingga 43,8 derajat Celsius di kota Pulluau. Kementerian Kesehatan Prancis melaporkan sekitar 1.000 kematian tambahan akibat kondisi tersebut, dengan sekitar 85 persen korban berasal dari kelompok lansia.
Di Jerman, Badan Cuaca Jerman (DWD) melaporkan suhu mencapai 41,7 derajat Celsius di stasiun pengamatan Coschen yang berada di dekat perbatasan Polandia. Sementara itu, Republik Ceko juga mencatat rekor suhu nasional baru setelah Lembaga Meteorologi Ceko (CHMI) mengonfirmasi suhu 41,1 derajat Celsius di wilayah Doksany, sebelah utara Praha.
Gelombang panas juga berdampak di Inggris. Badan cuaca Met Office mengonfirmasi rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni sebesar 37,7 derajat Celsius di Lingwood, Norfolk. Kondisi tersebut mendorong otoritas setempat mengeluarkan peringatan waspada berkode merah atau Red Warning.
Selain berdampak terhadap kesehatan masyarakat, suhu ekstrem juga mulai mengganggu infrastruktur di sejumlah negara. Di Jerman, otoritas transportasi di kota Leipzig dan Nuremberg menghentikan operasional kereta listrik atau trem setelah material penyegel di sekitar rel melunak dan meleleh akibat paparan panas yang tinggi.
Direktur Regional WHO untuk Eropa, Hans Kluge, menyampaikan bahwa sistem layanan kesehatan kini menghadapi tekanan yang semakin besar. Menurutnya, panggilan darurat ke layanan ambulans dan ruang gawat darurat di berbagai kota besar meningkat hingga 50 persen karena banyak warga mengalami dehidrasi akut maupun serangan panas.
Di Prancis, sejumlah objek wisata juga terdampak. Menara Eiffel dan Museum Louvre di Paris ditutup lebih awal sebagai langkah untuk mengurangi risiko paparan panas terhadap pengunjung maupun para petugas yang bekerja di lokasi tersebut.
Sementara itu, pemerintah Indonesia memastikan belum menerima laporan adanya warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban gelombang panas di Eropa. Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Heni Hamidah, mengatakan seluruh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di kawasan Eropa terus memantau perkembangan situasi secara intensif.
Selain melakukan pemantauan, perwakilan Indonesia di berbagai negara Eropa juga membuka layanan hotline darurat selama 24 jam. WNI yang sedang berada di kawasan terdampak diimbau membatasi aktivitas di luar ruangan, menghindari paparan panas secara langsung, serta menjaga kebutuhan cairan tubuh agar terhindar dari risiko dehidrasi.
Di sisi lain, ilmuwan dari jaringan riset iklim World Weather Attribution (WWA) menyatakan bahwa intensitas gelombang panas yang terjadi kali ini hampir mustahil terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim global. Menurut mereka, fenomena tersebut dipicu oleh akumulasi emisi bahan bakar fosil di atmosfer yang meningkatkan peluang terjadinya suhu ekstrem di berbagai wilayah dunia.
Sumber: diolah dari berbagai sumber resmi.












