Home Entertainment Film Noeh Tak Sepi Penonton Walau Hujan Mengguyur

Film Noeh Tak Sepi Penonton Walau Hujan Mengguyur

Film Noeh Tak Sepi Penonton Walau Hujan Mengguyur
Pemutaran perdana film Noeh di halaman Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Jumat malam (13/2/2026). Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadhan.

Komparatif.ID, Banda Aceh— Guyuran hujan lebat tak mampu memadamkan antusiasme ratusan warga di halaman Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Aceh, Jumat malam (13/2/2026). Alih-alih membubarkan diri, penonton justru bertahan di bawah payung, mantel dan terpal, terpaku menyaksikan pemutaran perdana film Noeh meski tubuh basah kuyup.

Halaman RSJ disulap menjadi bioskop terbuka untuk meluncurkan karya kolaborasi Aceh Asia dan RSJ Aceh tersebut, yang mengangkat realitas sosial Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Pantauan Komparatif.ID di lokasi, animo masyarakat sudah terlihat sejak pukul 20.30 WIB. Sebanyak 500 kursi yang disediakan panitia ludes dalam sekejap.

Pukul 21.00 WIB, area penonton perempuan di sisi kanan layar sudah sesak. Tak pelak, kaum ibu terpaksa merangsek ke area kursi laki-laki yang tersisa. Namun, gelombang massa terus berdatangan. Mereka yang tak kebagian kursi memilih menggelar terpal, duduk lesehan di atas tanah yang mulai basah, menanti kisah Ishak diputar.

Saat seremoni dimulai dan Direktur RSJ Aceh, dr. Hanif, menyampaikan sambutan, hujan yang semula rintik berubah menjadi deras. Sejumlah penonton sempat berlarian ke selasar gedung untuk berteduh.

Namun, tidak ada yang meninggalkan lokasi. Panitia berupaya menjaga proyektor dan layar tetap berfungsi di tengah cuaca yang kurang bersahabat.

Baca juga: NOEH: Menggugat Stigma Pasung Lewat Sinema

“Kebetulan suasana dipeusijuek oleh Allah. Kita semua berharap walaupun ada hujan, silakan Bapak-Ibu mencari tempat yang bisa terhindar dari air hujan,” ujar dr. Hanif.

Tentang Film Noeh

Film Noeh mengisahkan Ishak (35), seorang ODGJ yang dianggap meresahkan hingga ditangkap warga untuk dipasung. Di sisi lain, ada Hasanah (15), adiknya yang berjuang mati-matian agar sang abang tidak diperlakukan secara tidak manusiawi.

Konflik memuncak ketika Zulfan, guru Hasanah, mencoba menolong namun justru memicu kekacauan baru; Ishak kabur, dan amarah warga meledak.

Asisten 1 Sekda Aceh, Syakir, yang hadir mewakili Gubernur Aceh, menyebut film Noeh bukan sekadar tontonan, melainkan kritik sosial. Dalam sambutannya di bawah rinai hujan, Syakir menegaskan film ini adalah jembatan untuk memahami sisi kemanusiaan yang sering luput.

“Film ini diharapkan menjadi pengingat, bahwa saudara-saudara kita yang mengalami gangguan jiwa bukanlah kelompok yang patut dijauhi. Mereka bagian dari masyarakat Aceh yang memiliki hak sama untuk hidup bermartabat,” tegas Syakir.
Ketika pemutaran dimulai, ratusan warga tetap bertahan meski hujan turun silih berganti. Sebagian mengenakan jas hujan, sebagian lain berteduh di bawah payung atau terpal seadanya. Mereka menyaksikan film hingga akhir, termasuk saat kredit penutup ditayangkan.

Hujan yang mengguyur sepanjang acara tidak membubarkan massa, dan pemutaran perdana film Noeh pun berlangsung hingga selesai di tengah suasana malam yang basah.

Previous articleBantuan Meugang Presiden Harus Berupa Daging, Tak Boleh Diuangkan
Next articleDebut Jaya Hartono Tak Berbuah Manis, Persiraja Ditahan Imbang PSPS 1-1

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here