
Komparatif.ID, Bireuen— Petani sawah di wilayah timur Kecamatan Peudada mendukung program ketahanan pangan yang digagas Menteri Pertanian (Mentan) Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman.
Program optimalisasi lahan sawah tersebut diharapkan mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP) dan produktivitas pertanian melalui perbaikan tata air irigasi serta saluran cacing yang selama ini menjadi salah satu kendala utama bagi petani.
Harapan tersebut disampaikan Mukim Alue Rheng, Munir, yang menilai program optimalisasi lahan perlu menjadi prioritas agar lahan pertanian yang selama ini kurang produktif dapat dimanfaatkan secara lebih maksimal. Menurutnya, perbaikan sistem pengairan akan membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan frekuensi tanam dan panen.
Munir menjelaskan, selama puluhan tahun petani di wilayah tersebut hanya mampu menanam padi sekali dalam setahun.
Dengan adanya pembenahan jaringan irigasi dan saluran pendukung, ia berharap kondisi itu dapat berubah sehingga petani memiliki kesempatan untuk melakukan panen dua hingga tiga kali dalam setahun.
“Saya sebagai petani sawah, ikut merasakan dampak setiap tahun, sehingga dengan adanya program ketahanan pangan, akan memberi semangat untuk para petani,” ujar Munir, Selasa (30/6/2026).
Ia mengungkapkan selama sekitar delapan dekade terakhir, masyarakat setempat menjalankan pola tanam satu kali dalam setahun secara turun-temurun. Namun, setiap musim tanam selalu dihadapkan pada kekhawatiran terhadap ketersediaan air yang menjadi faktor penentu keberhasilan produksi padi.
Baca juga: Usai Dilatih Kementan, 30 Brigade Pangan Mulai Bertugas di Peudada
Menurutnya, pasokan air dari Waduk Paya Laot umumnya hanya mampu memenuhi kebutuhan irigasi selama kurang dari dua bulan. Setelah itu, terutama ketika tanaman padi mulai memasuki fase berbuah, petani harus mengandalkan curah hujan untuk memenuhi kebutuhan air di lahan persawahan.
Kondisi tersebut kerap berdampak terhadap hasil panen. Kekurangan air menyebabkan tanaman tidak memperoleh nutrisi yang cukup sehingga bulir padi tidak terisi penuh. Bahkan, sebagian hasil panen mengalami kerusakan karena bulir padi mudah patah saat proses penggilingan.
Untuk mengurangi dampak kekurangan air, sebagian petani yang memiliki kemampuan ekonomi lebih baik selama ini menggunakan mesin pompa air. Meski demikian, penggunaan pompa belum mampu sepenuhnya mengatasi kebutuhan air di seluruh lahan pertanian.
Di sisi lain, penggunaan pompa juga menambah beban biaya produksi yang harus ditanggung petani. Saat hasil panen tidak mencapai target akibat keterbatasan air, pendapatan yang diperoleh sering kali tidak cukup untuk menutupi berbagai biaya usaha tani.
Munir mengatakan, petani harus menanggung berbagai pengeluaran mulai dari biaya membajak sawah, pembelian pupuk, hingga obat-obatan untuk tanaman padi. Ketika hasil panen tidak sesuai harapan, utang untuk biaya produksi tersebut kerap tidak dapat dilunasi.
Karena itu, ia berharap program ketahanan pangan melalui optimalisasi lahan sawah benar-benar dapat direalisasikan sehingga persoalan pengairan yang selama ini menjadi kendala utama dapat diatasi.
Menurutnya, ketersediaan air yang lebih baik akan memberikan peluang bagi petani untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki hasil panen.
Dengan meningkatnya indeks pertanaman melalui perbaikan tata air irigasi dan saluran cacing, petani di wilayah timur Kecamatan Peudada berharap aktivitas pertanian dapat berjalan lebih optimal. Mereka menilai program tersebut menjadi harapan untuk meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini hanya menghasilkan satu kali panen dalam setahun akibat keterbatasan pasokan air.












