BREAKING
Ekonomi

Aceh Kuasai Perdagangan Lada di Sumatra di Masa Iskandar Muda

perdagangan lada
Kuasai Perdagangan Lada: Prof. Dr. Jasman Ma’ruf(ketiga dari kanan), Minggu malam, 13 September 2026, mengatakan Aceh tidak menanam lada dalam skala luas, tapi menguasai perdagangan lada di Sumatra. Selama 50 tahun, perdagangan lada Sumatra di bawah kendali Sultan Aceh. Hal itu disampaikan dalam dialog di Halaman Jeda, Batoh, Banda Aceh. Foto: HO For Komparatif.ID.

Kemajuan Aceh di masa Sultan Iskandar Muda karena mampu menguasai perdagangan lada di Sumatra. Dari Aceh hingga Muko-Muko, semua pelabuhan di bawha kontrol Kerajaan Aceh.

Komparatif.ID, Banda Aceh—Ada sebuah fakta menarik dalam pembahasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. Jasman J. Ma’ruf, SE., MBA, dalam sebuah gelar wicara (talkshow) yang digelar di Halaman Jeda, Batoh, Banda Aceh, pada Minggu malam, 13 September 2026.

Didapuk sebagai pembicara pertama dalam tempo 10 menit, pakar manajemen pemasaran yang juga Guru Besar Universitas Syiah Kuala (USK) tersebut membuka kalamnya dengan sebuah pertanyaan menarik. Mengapa Aceh miskin, padahal sekarang selalu saja bicara era globalisasi? Mengapa dulu Aceh merupakan sebuah negeri yang kaya raya?

Mengapa di masa Sultan Iskandar Muda menjadi Raja Kerajaan Aceh Darussalam, Aceh menjadi negeri kaya raya? Dulu, Iskandar Muda memiliki kemampuan membaca zaman. Dia tahu uang besar ada di luar. Salah satu sumber untuk mendapatkan uang besar sebanyak-banyaknya melalui perdagangan lada.

Mengapa lada? Karena saat itu komoditas ini paling banyak di Sumatra, serta memiliki nilai strategis yang sangat tinggi, baik dari segi geopolitik, dan ekonomi global. Eropa sangat ingin menguasai perdagangan lada. Sultan Iskandar Muda tidak membiarkannya.

BACA: Cut Nyak Dien Berdarah Minangkabau

“Aceh kaya kala itu bukan karena menanam lada. Tapi karena Aceh mengendalikan perdagangan lada Sumatra. Perkebunan-perkebunan lada di pantai timur dan barat Sumatra di bawah kendali Kesultanan Aceh. Aceh eksis menguasai perdagangan lada selama 50 tahun. Mulai tahun 1616 hingga 1666.

Di pantai timur Sumatra kekuasan Aceh sampai ke Palembang. Di pantai barat Aceh menguasai hingga ke Indrapura, perbatasan Bengkulu. Saat itu Bengkulu sudah dikuasai Inggris, tapi Aceh mampu merangsek hingga ke Muko-Muko.

Apa yang dilakukan Aceh kala itu? dengan kekuatan armada tempurnya di darat dan laut, Aceh menguasai jalur transportasi. Dengan demikian mampu memberikan jaminan keamanan dan keselamatan bagi pedagang-pedagang internasional dan lokal yang bertransaksi.

Dalam setiap ekspedisi demi menghalau upaya bangsa-bangsa Eropa menguasai pelabuhan-pelabuhan di Sumatra, Sultan Aceh Iskandar Muda melakukan ekpedisi. Bukan untuk menaklukkan, tapi menguasai dan kemudian membina.

Di setiap negeri yang berhasil dikuasai, Iskandar muda melantik bangsawan setempat sebagai penguasa lokal. Di sisi lain, di setiap bandar yang berada di bawah kontrol Aceh, ditempatkan 50 putra-putra Aceh, yang kelak kawin mawin dengan penduduk lokal. Ini upaya politik untuk memperbanyak jumlah orang Aceh di wilayah-wilayah ekonomi besar.

Pun demikian, Sultan tetap tegas kepada vasal-vasal yang tidak patuh. Raja Puti atau dikenal juga dengan nama Putri Rekna Alun, penguasa Indrapura, dihukum oleh Sultan Aceh karena melakukan pembangkangan.

Raja Puti menolak membayar upeti dan pajak. Dia juga membangun kesepakatan perdagangan bebas ilegal secara diam-diam dengan VOC (Bangsa Barat).

Karena pembangkangan itu, Aceh mengirim ekspedisi militer ke Indrapura pada tahun 1633. Raja Puti dihukum mati. Lada disita dan diangkut ke Bandar Aceh Darussalam. Pejabat istana disandera dan Aceh mengirim pemimpin baru dari Aceh bernama Raja Malfarsyah.

Akhir Eksistensi Aceh Dalam Perdagangan Lada Sumatra

Eksistensi Aceh mulai meredup dalam penguasaan perdagangan lada ketika Iskandar Muda mangkat dan kepemimpin mulai beralih kepada sosok lain. Diawali dengan pembelotan para pemimpin suku di Painan. Mereka membangun sekutu dengan Belanda, dengan cara menjalin perjanjian perdagangan lada dengan VOC. Perusahaan dagang asal Belanda itu membawa ekspedisi militer besar untuk menghalau Aceh dan kemudian merebut kontrol atas jalur pelayaran. Setelah itu, mulai 1666, hegemodi Aceh atas perdagangan lada pun berakhir.

Aceh hari ini tidak lagi memiliki nilai tawar. “Kita kalah dengan Sultan Iskandar Muda. sekarang ini kita tidak sebijipun melakukan ekspor atas nama kita sendiri,” katanya di ujung pernyataan.

Jangankan bicara perdagangan global seperti era Iskandar Muda, sekarang Aceh justru tak melakukan apa-apa. Kawasan Barsela menyumbang 66 persen produksi sawit Aceh. Tapi komoditas tersebut diekspor melalui Pelabuhan Belawan, Sumatra Utara. Semua komoditas Aceh diekspor melalui pelabuhan-pelabuhan di luar Aceh.

“Aceh dulu maju bukan karena menanam komoditas. Tapi dengan cara menguasai jalur perdagangan global. Iskandar muda menguasai seluruh pelabuhan-pelabuhan di Sumatra. Kita sekarang tak sebiji pun mengekspor atas nama kita,” tutup Prof. Dr. Jasman.

Tepuk tangan membahana di ruang terbuka Halaman Jeda. Prof. Jasman baru memantik wacana dalam tempo 10 menit. Antusias terlihat jelas. Sahibul bait (tuan rumah) Rafly Kande terlihat senang. Senyum merekah di wajahnya. Seniman dan budayawan Aceh, A. Sahud, duduk sembari menikmati wacana. Dia manggut-manggut. Ramput putihnya disapu angin malam, ia tak peduli.

Lada telah memantik memori tentang kejayaan. Jasman telah membuka halaman pertama pada malam itu.

Talkshow malam itu juga diisi oleh para pembicara lain yaitu Prof.Dr. Apridar,M.Si, mantan Rektor Universitas Malikussaleh. Prof. Dr. Rajuddin,Sp.OG.K.Fer. Prof. Dr.Eng.Ir. Teuku Abdullah Sanny.,M.Sc. Drs. Teuku Abdullah,S.H.,M.A. (TA Sakti), dan Tuengku H. Masrul Aidi,Lc.

Catatan redaksi:Karena berupa liputan khas, Artikel ini dilarang dikutip sebagian atau seluruhnya oleh homeless media,  atau akun-akun agregator lainnya, selama satu bulan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *