Cita-cita mendirikan Universitas Almuslim timbul semakin kuat setelah sejumlah sekolah tinggi dan satu akademi telah berdiri di lingkungan Perguruan Tinggi Almuslim. Ketika cita-cita itu hendak diwujudkan, satu persatu para penggawa Almuslim meninggal dunia.
12 Oktober 1999 Kabupaten Bireuen lahir. Camat Peusangan Hamdani Raden ditunjuk sebagai Pj Bupati Bireuen. Birokrat senior tersebut sangat dekat dengan para akademisi Almuslim.
Dalam upaya penyusunan DPRD Bireuen, Hamdani Raden melibatkan unsur akademisi dari Perguruan Tinggi Almuslim Peusangan. Dia memilih Drs. Amiruddin Idris yang rekam jejaknya telah menempatkan dia sebagai akademisi muda nan cemerlang dari Peusangan. Saat itu usia Amiruddin Idris 42 tahun.
Dalam Panitia Penyusunan DPRD Tingkat II Kabupaten Bireuen, Hamdani Raden menempatkan Drs. Amiruddin Idris sebagai Sekretaris Panitia. Sebuah jabatan penting yang memiliki pengaruh besar.
Ketika dilaksanakan Sayembara Lambang Daerah, Amiruddin Idris ditunjuk sebagai Sekretaris Panitia. Ketua Sayembara Lambang Daerah ditunjuk Idris Bentara.
Di sela-sela menjalankan tugasnya membantu Pemerintah Bireuen, Drs. Amiruddin Idris menjalankan misi rahasia. Yaitu memantau bakat birokrat-birokrat yang masih dalam usia energik, yang nantinya dia bawa ke Almuslim sebagai tenaga penting dalam membangun Almuslim menjadi lebih besar.
Salah satu yang dibidik yaitu Muzakkar A. Gani, birokrat yang sejak lama telah mendengar nama Perguruan Tinggi Almuslim.
Saat itu pengelola Yayasan Almuslim Peusangan telah bersepakat supaya perguruan tinggi itu dijadikan universitas. Tapi mereka masih terkendala sumber daya, terutama sumber daya keuangan.
Di tengah berbagai upaya membesarkan Almuslim, pada 28 Juni 2021, M.A. Jangka meninggal dunia. Ia meninggal dunia dalam usia 57 tahun. Duka melingkupi keluarga besar Almuslim. Amiruddin Idris kehilangan guru, sahabat sekaligus atasan yang visioner.
Baca juga: Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 5)
Belum pulih dari duka tersebut, Dektor Iljas Daoed ,Lc., juga meninggal dunia. Kamus Berjalan, demikian para akademisi Almuslim memberikan lakap kepada Iljas Daoed yang mampu berbahasa Indonesia, Arab, Inggris, dll. Berturut-turut meninggal pula Djakfar Jusuf, dan Kasem Sulaiman.
L.ima serangkai itu—Amiruddin Idris yang paling muda—merupakan kesatuan manusia yang siang dan malam berpikir untuk kemajuan Almuslim. Mereka menjadi tulang punggung pembangunan, menjadi penghubung dengan dunia luar, dan tak pernah saling menyakiti satu sama lain.
Ketika empat senior telah meninggal dunia, Amiruddin Idris dihadapkan pada satu kenyataan. Kini dia telah “sendiri”. Orang-orang yang siang dan malam mendampinginya, membesarkannya, memberikan kepercayaan penuh kepadanya, semuanya telah berada di alam barzah.
Sepeninggal Iljas Daoed, Drs. Amiruddin Idris ditunjuk sebagai Dekan Koordinator.para pengelola Yayasan menilai Amiruddin Idris sudah mampu mengemban amanah tersebut, berdasarkan kiprah yang telah ia lakukan.
Menjadi orang nomor satu di Perguruan Tinggi Almuslim, membuat Amiruddin Idris harus bekerja ekstra. Ia berkomunikasi intens dengan Pemkab Bireuen.
Berkat dukungan dari internal Pemkab Bireuen, Dektor Almuslim berhasil mengajak Pj Bupati Hamdani Raden menyampaikan pidato pada wisuda perdana Almuslim sejak Bireuen menjadi kabupaten.
Hamdani Raden memenuhi janjinya memberikan pidato pada wisada sarjana di Almuslim. Dia juga menyampaikan dukungannya untuk pendirian Universitas Almuslim. Tepuk tangan membahana.
Beberapa hari setelah acara besar itu, Amiruddin Idris dan Azhari AZ membawa SK penetapan Kabag Kepegawaian Bireuen, Muzakkar A. Gani sebagai Rektor III Universitas—Persiapan—Almuslim. Hamdani yang menerima SK itu memberikan dukungan. Selama masih bisa, Pemkab Bireuen akan selalu memberikan dukungan untuk Almuslim, termasuk orang-orangnya. Selama bisa dan mampu, silakan Almuslim membawanya ke Peusangan.
Dalam rangka persiapan melahirkan Universitas Almuslim, pihak kampus menambah sejumlah fakultas seperti Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik, dan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Melengkapi eksistensi STIT, STP, STKIP, dan AMIK.
Di tengah upaya mewujudkan lahirnya Universitas Almuslim, tawaran masuk ke gelanggang politik praktis pun datang. Amiruddin diajak menjadi calon Wakil Bupati Bireuen Drs. Mustafa Glanggang. Ini kesempatan langka yang tidak bisa diabaikan. Bila menang, maka akan lebih mudah baginya mewujudkan cita-cita melahirkan Universitas Almuslim, universitas pertama di Bireuen.
Ada konsekuensi,dia harus berhadap-hadapan dengan Hamdani Raden. Akan tetapi dia percaya bahwa jalan politik –kekuasaan—merupakan pintu utama untuk mewujudkan cita-cita besar para penggawa Almuslim yang hingga detik itu belum wujud; melahirkan sebuah universitas di Bireuen.
Dalam pemilihan yang berlangsung di DPRD II Bireuen, Mustafa-Amiruddin sempat kalah pada putaran pertama. Mereka kalah satu suara.
Putaran kedua tidak dilanjutkan pada hari itu. dipending dan akan digelar pada hari lain. Konsolidasi politik kembali berlangsung tajam. Pada putaran kedua, Mustafa-Amiruddin membalikkan kondisi. Mereka unggul dua suara. Mereka menang.
Hamdani Raden menempuh jalur konstitusi. Dia mengajukan sengekat. Tapi hasilnya tetap saja Mustafa-Amiruddin menang. Hamdani Raden mengucapkan selamat. Dia memilih berjiwa besar dan percaya bila di tangan dua koleganya itu, Bireuen bisa dibangun lebih baik.
Bagi Amiruddin Idris, terpilih menjadi Wakil Bupati Bireuen, bermakna jalan menuju cita-cita melahirkan Universitas Almuslim, semakin dekat.
(Bersambung)




