Komparatif.ID, Bireuen– Dinas Kesehatan Kabupaten Bireuen menerima hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bireuen, Kuala, Lancok, Yayasan Babul Huda, yang sebelumnya dikaitkan dengan kejadian 19 siswa SMA Negeri 1 Kuala mengalami keluhan kesehatan usai menyantap MBG pada 17 September 2026.
Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh sampel makanan MBG dinyatakan memenuhi syarat (MS).
Sanitarian Ahli Muda Dinkes Bireuen, Khusna Rohana Rumarhorbo, mengatakan sampel makanan langsung dikirimkan ke Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) Banda Aceh pada hari kejadian untuk dilakukan pemeriksaan.
Sampel tersebut kemudian diuji untuk mengetahui kondisi keamanan makanan yang didistribusikan melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Menurut Khusna, hasil pemeriksaan diterima Dinkes Bireuen secara tertulis sekitar satu minggu setelah sampel dikirimkan. Berdasarkan hasil uji tersebut, seluruh makanan yang diperiksa memenuhi persyaratan dan tidak ditemukan patogen yang melebihi batas yang ditentukan.
“Hasil uji laboratorium itu kami terima secara tulisan, bukan lisan. Biasanya bagaimana pun hasilnya tetap disampaikan, baik memenuhi syarat atau tidak,” ujar Khusna, Rabu (21/10/2026).
Dinkes Bireuen juga sempat berkonsultasi dengan Kementerian Kesehatan RI terkait hasil pemeriksaan tersebut. Dari konsultasi itu, pihak Kemenkes menyampaikan hasil pemeriksaan yang menyatakan makanan memenuhi syarat tetap memungkinkan, mengingat sampel makanan yang dikonsumsi siswa tidak tersisa sehingga tidak dapat diambil sebagai sampel pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan tersebut, Dinkes Bireuen mengambil lima sampel dari dapur SPPG. Sampel itu terdiri atas nasi putih, ayam semur, tahu goreng, timun, dan salak. Selain itu, lima sampel lainnya diambil dari mobil pengangkut MBG yang membawa jatah untuk posyandu dengan menu yang sama.
Khusna menjelaskan, pada hari kejadian pihaknya juga langsung melakukan langkah pencegahan dengan melarang pendistribusian makanan ke posyandu-posyandu. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah kehati-hatian untuk mencegah kemungkinan terjadinya kembali keluhan kesehatan.
“Pada hari itu, kami melarang pendistribusian makanan ke posyandu-posyandu karena khawatir terjadi lagi keracunan, dan pihak SPPG mematuhi larangan tersebut,” katanya.
Baca juga: Setelah Santap MBG, Belasan Siswa SMAN 1 Kuala Keracunan
Namun, Dinkes Bireuen tidak memperoleh sampel makanan yang telah dikonsumsi siswa di sekolah. Seluruh makanan tersebut telah habis dikonsumsi, sementara sebagian makanan yang tersisa telah dibawa pulang oleh siswa sehingga tidak lagi dapat digunakan sebagai sampel pemeriksaan karena sudah bercampur dengan makanan lainnya.
Selain persoalan sampel makanan, muntahan para siswa juga tidak berhasil dikumpulkan untuk pemeriksaan di RSUD dr. Fauziah Bireuen. Khusna menjelaskan, para siswa mengalami muntah ketika masih berada di sekolah. Saat dibawa ke rumah sakit, mereka sudah tidak mengalami muntah dan hanya mengeluhkan sejumlah gejala seperti mual dan sakit kepala.
Karena kondisi tersebut, pemeriksaan kemudian dilakukan terhadap sampel makanan yang masih dapat diperoleh dari dapur SPPG dan mobil pengangkut makanan.
Dinkes Bireuen merekomendasikan kepada pihak sekolah agar segera mengamankan sampel makanan apabila di kemudian hari ditemukan kasus serupa, baik yang diduga berkaitan dengan konsumsi MBG maupun makanan jajanan sekolah.
Sampel tersebut dinilai penting untuk membantu proses pemeriksaan dan penelusuran penyebab apabila terjadi kejadian keracunan atau keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan.




