Wednesday, 21 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Featured

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 5)

Hasyimi amiruddin idris amik almuslim
Ketua PPP Aceh Dr. Amiruddin Idris. Ia merupakan perintis Akademi Manajemen Ilmu Komputer (AMIK) Almuslim di lingkungan Perguruan Tinggi Almuslim (PTA).Foto: HO for Komparatif.ID.

Tahun 1984, M.A. Jangka dipilih kembali sebagai Ketua  Yayasan Almuslim Peusangan untuk periode 1984-1993.

Pada periode kedua memimpin YAP, M.A. Jangka menunjuk Drs. Amiruddin Idris sebagai Sekretaris YAP. Mendapatkan kepercayaan besar tentu membuat ia sangat bangga. Rasa cintanya kepada Almuslim semakin bertambah.

Rasa cinta yang terlampau besar itu, melahirkan sejarah unik pada tahun 1986. Lulusan FKIP unsyiah tersebut lulus Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan di Kota Langsa, ibukota Aceh Timur.

Karena terlalu jauh dari Perguruan Tinggi Almuslim (PTA), Amiruddin menolak. Dia menghadap M.A. Jangka, menyampaikan menolak status PNS karena penempatan tugasnya terlalu jauh dari Peusangan.

“Saya baru bersedia menjadi PNS bila ditempatkan di Peusangan. Atau setidaknya di daerah yang masih dapat saya jangkau dengan mudah dari Almuslim,” katanya kepada Camat Peusangan legendaris itu. M.A. Jangka menatap lekat-lekat sarjana lulusan Unsyiah yang duduk di depannya.

Bukan hanya Amiruddin yang menolak. Teungku Razali,BA juga menolak diangkat jadi PNS karena ditempatkan di Aceh Selatan. Mereka hanya mau jadi PNS bila bisa setiap hari ke Almuslim.

M.A. Jangka terharu. Dia memberikan apresiasi dan kagum.

Tahun 1987, Amiruddin kembali mengambil formulir pendaftaran PNS. Tapi kali ini dia mendapatkan peringatan dari panitia seleksi. Bila kembali menolak penempatan sesuai keputusan negara, maka tidak ada kesempatan ketiga.

Drs.Amiruddin Idris tidak ambil pusing. Menurutnya, bila lulus dan tidak ditugaskan di Peusangan, maka ia akan tetap mengabaikannya.

Sikap keras kepalanya tidak dibiarkan lebih lanjut oleh M.A. Jangka. Ketua Badan Pelaksana YAP tersebut memberikan masukan bijak. Amiruddin Idris harus bersedia ditempatkan di mana saja. Nanti biar dia yang urus supaya dipindahkan ke Peusangan.

Begitu mendapatkan SK pengangkatan sebagai PNS, Amiruddin benar- benar diuji. Dia ditempatkan ke Aceh Tenggara, sebuah negeri nun jauh, di tengah lebatnya belantara Leuser. Negeri yang tidak pernah diidam-idamkan olehnya. Kali ini tidak ada pilihan. Dirinya sudah membuat janji dengan Ketua YAP. Janji itu harus ditunaikan.

Komitmen MA. Jangka dibuktikan. Tiga bulan berdinas di Aceh Tenggara, Drs. Amiruddin Idris kembali ke kampung halaman.

Bupati Aceh Utara Ramli Ridwan membawa pulang Amiruddin dan ditempatkan di SMEA Lhokseumawe. Kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kakandep) Aceh Utara Nurdin Ismail, BSc., menerbitkan nota dinas, yang berisi penempatan Amiruddin Idris ke  SMEA Swasta Peusangan yang ruang belajarnya dipinjamkan gedung Almuslim bekas bale rakyat.

SMEA Swasta Peusangan merupakan binaan SMEA Negeri Lhokseumawe. Dengan demikian, penempatan Amiruddin Idris ke SMEA Swasta Peusangan, masih ada hubungannya dengan SMEA Lhokseumawe.

Mendirikan AMIK Almuslim

Sebelum ditempatkan di  Almuslim, Amiruddin Idris sempat beberapa waktu mengajar di SMEA Lhokseumawe. Di sana dia mengampu Pelajaran Pengolahan Data Elektronik (PPDE). Ini merupakan mata pelajaran dasar-dasar komputer.

Mengajar dasar-dasar komputer, tapi perangkat komputer tidak tersedia di kelas, sungguh pengalaman unik. Teori ditulis di papan tulis. Siswa menyalinnya di buku. Satu-satunya personal komputer (PC) yang tersedia di SMEA Lhokseumawe hanya ada di ruang Kepala Sekolah.

Melihat pentingnya belajar komputer bagi siswa SMEA, Amiruddin Idris dan Kepsek berupaya mengadakan komputer untuk sekolah tersebut. Setelah perangkat elektronik itu tersedia, mereka pusing lagi. Tidak ada guru yang paham mengoperasikan alat elektronik  pengolah data itu secara baik.

Supaya tersedia tenaga terampil organick, Amiruddin Idris dikirim ke Parung, Jawa Barat pada tahun 1991. Dia menimba ilmu tentang komputer selama tiga bulan. Amiruddin belajar dari A sampai Z.

Pulang dari Parung, sebuah ide baru muncul di kepala Amiruddin. Meskipun zaman sudah menuju era digitalisasi, tapi komputer basih belum menjadi hal umum di Aceh. Bahkan perguruan tinggi pun belum melirik jurusan komputer.

BACA:

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 1)

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 2)

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 3)

Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 4)

Ide tersebut mengilhami dirinya bahwa di Almuslim harus ada sebuah akademi tempat melatih anak muda lulusan SMA/sederajat belajar bahasa pemrograman, managemen dan basis data, otomitasi kantor dan komputerisasi akutansi, perangkat keras dan jaringan lokal (LAN), dan lain-lain . Era digitalisasi tidak bisa dihambat. Almuslim harus menyiapkan sumber daya manusia untuk sektor tersebut.

Tahun 1993, Perguruan Tinggi Almuslim berhasil mendirikan Akademi Manajemen Ilmu Komputer (AMIK). Amiruddin Idris ditunjuk sebagai Direktur AMIK Almuslim. Kelahiran akademi manajemen ilmu komputer di Almuslim merupakan capaian yang harus dirayakan. Bersama AMIKI Banda Aceh, AMIK Almuslim menjadi akademi komputer pertama di Aceh.

Izin telah terbit, tapi AMIK belum memiliki komputer. Dekan Koordinator (Dektor) PTA Iljas Daoed bersama Direktur AMIK Amiruddin Idris memutar otak. Mereka bersepakat meminta bantuan kepada Nur Nekmat, pembina YAP yang juga pengusaha Aceh yang bermukim di Medan, Sumatera Utara.

Kepada sang saudagar mereka mengutarakan niatnya. Tapi, karena permintaannya sampai 15 unit komputer, H. Nur Nekmat menggeleng.“Kalau dengan jumlah sebanyak itu, saya tidak sanggup bantu,” kata Nur Nekmat kala itu.

Iljas Daoed dan Amiruddin pulang ke Bireuen. Tiba di Almuslim, mereka bermufakat lagi. Akhirnya disepakati M.A. Jangka, Iljas Doed dan Amiruddin Idris menggadaikan mobil mereka kepada bank. Saat itu, Iljas mengatakan sesuai dengan ilmunya, mengajukan kredit ke bank adalah perbuatan yang dilarang di dalam agama. Tapi karena darurat dan untuk kepentingan umat, larangan itu dapat ditepikan. Syaratnya, kredit harus diajukan kepada bank pemerintah. Mereka sepakat. Kredit diajukan kepada Bank Pembangunan Aceh (BPD).

Pihak BPD memberikan pinjaman Rp2 juta. Uang itu dibawa ke Medan. Nur Nekmat menulis memo kepada Mega Royal Komputer dengan panjar dua juta rupiah. Pemilik toko yang merupakan warga Indonesia etnis Tionghoa, memberikan 12 unit komputer dengan sistem bayar cicil.

Ketika komputer itu mereka bawa pulang ke Almuslim, pelajar SMA dan SMEA di Peusangan berdatangan ke AMIK Almuslim. Mereka terpukau melihat benda canggih itu telah ada di Almuslim. Terlihat jelas rasa takjub luar biasa di mata generasi penerus bangsa.

Komputer sudah ada, pun demikian persoalan belum selesai. Akademi tersebut kekurangan tenaga pengajar. Drs. Amiruddin Idris kembali pusing tujuh keliling. Sebagai direktur dia harus sukses membesarkan akademi baru tersebut. Dia tidak ingin kehilangan muka di depan Dektor Iljas Daoed, Lc, dan Ketua Yayasan Almuslim Peusangan, M.A. Jangka.

Amiruddin bergerilya ke mana saja mencari calon dosen komputer. Kendala terbesar saat itu adalah saluran komunikasi. Dengan rintangan demikian, tentu yang paling banyak terkuras adalah waktu. Bila dia mendengar di tempat A ada seorang sarjana komputer maka dia ke sana. Menjumpai dan mengajak mengajar di Almuslim.

Tahap pertama, dia berhasil membujuk dosen-dosen Fakultas Ekonomi Unsyiah mengajar di AMIK. Walau bersedia, pihak Unsyiah menertawakan Almuslim. “Mereka menertawakan kelucuan kondisi saat itu. Ada komputer tapi tak ada dosen,” kenang Amiruddin.

Amiruddin pun bergerilya ke sana kemari, mencari orang –orang yang bisa membantunya menjalankan roda organisasi AMIK Almuslim. Pertama ia berhasil mengajak Dana Siswara, SE, Ak, yang merupakan putera Kepala SMEA Negeri Lhoseumawe Ali Asri.Kemudian ikut bergabung Usman Yakob, SE,Ak, yang juga dosen Fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala. Tidak berselang lama datang Iskandar Zulkarnaen, S. Kom.

Beberapa waktu kemudian, Drs. Tarmizi yang kala itu Kepala SMA Negeri 2 Bireuen, menawarkan Drs. Marwan Hamid yang baru lulus S1 FKIP Unsyiah. Kemudian bergabung pula Ali Abdullah, guru SMEA Negeri 1 Lhokseumawe.

Marwan Hamid merupakan guru SMEA 2 Lhokseumawe –sekarang SMK 3 Lhokseumawe– yang baru setahun lulus menjadi PNS. Putera ulama Teungku Abdul Hamid Rasyid di Teupin Mane, itu bergabung pada tahun 1995.

Dari latar belakang pendidikan, Marwan Hamid bukan sarjana komputer. Dia lulusan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Dia spesialis Pendidikan Ekonomi Akuntansi.

Walau bergelar Sarjana Pendidikan, Marwan menguasai teori dan praktik ilmu komputer. Dia bahkan sudah menulis buku tentang dasar-dasar komputer. Buku tersebut dijual kepada siapa saja yang membutuhkan.

Ketika Marwan bergabung, AMIK Almuslim sudah diminati oleh masyarakat. Jumlah mahasiswa yang belajar di sana sudah sangat lumayan untuk kapasitas sebuah akademi yang berada di kota kecamatan berjarak ratusan kilometer dari ibukota Provinsi Daerah Istimewa (Dista) Aceh.

Setahun setelah Marwan bergabung, Amiruddin berhasil juga membawa Zulkifli S. Kom, sarjana ilmu komputer yang baru beberapa waktu menyelesaikan studinya di Medan, Sumatera Utara.

Pada tahun 1996, Zulkifli masuk ke AMIK Almuslim yang berusia belum lima tahun. Kampus AMIK kala itu masih di Kampus Timur, di bangunan permanen berbentuk panjang bantuan dari Mobil Oil.Kantor dan ruang kuliahnya berbagi dengan STKIP.

Karena memiliki peminat yang banyak, AMIK Almuslim menjadi salah satu pundi-pundi ekonomi baru bagi rumah besar Almuslim. Dengan demikian, AMIK menjadi sumber ekonomi baru bagi lembaga pendidikan tersebut. Karena menjadi salah satu sumber penghidupan bagi keseluruhan PTA, kas AMIK pernah kosong. Gaji staf pengajar dan manajemen terancam tidak bisa dibayar. Akan tetapi di awal bulan Amiruddin mampu membayar gaji staf. Rupanya dia berutang dana PKK Desa Blang Asan, Peusangan. Meminjam sementara dana PKK bukan persoalan begitu besar, karena saat itu Amiruddin Idris juga Kepala Desa Blang Asan.

Sebagai akademi elit, seharusnya AMIK Almuslim bisa memperoleh uang sangat besar. Jurusan komputer saat itu masih langka di Aceh. Seharusnya biaya kuliah bisa diambil setinggi mungkin dari mahasiswa. Tapi hal tersebut tidak mungkin dilakukan. Mahasiswa yang kuliah di AMIK dan PTA secara umum berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Demi memperoleh uang lebih besar, Amiruddin Idris membuka kelas jauh AMIK di Kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Berduyun-duyun karyawan yang nasih muda dari proyek vital seperti PT Arun, PT Aceh Asean Fertilizer (AAF), PT Kertas Kraft Aceh (KKA), Pupuk Iskandar Muda (PIM), karyawan perbankan, dan pegawai negeri sipil yang umumnya masih muda, mendaftarkan diri sebagai calon mahasiswa. Strategi tersebut ampuh untuk mendulang uang lebih besar, yang nantinya akan mensubsidi kampus induk di Peusangan.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *