Sejumlah alumni Madrasah Almuslim yang telah menjadi orang-orang penting di Banda Aceh, akhirnya tiba pada sebuah kesadaran kolektif. Perserikatan Almuslim Peusangan (Jamiah Almuslim) harus dihidupkan kembali. Tidak boleh vakum dalam waktu yang lebih lama.
Mereka yang telah sukses menjadi pejabat, menyadari arti penting madrasah yang pernah eksis di dalam lingkungan Jamiatul Almuslim Peusangan.
Supaya eksistensi Almuslim bisa bergerak lebih luas, para alumni bersepakat mendirikan sebuah Yayasan untuk Almuslim, supaya bisa menyesuaikan diri dengan peraturan terbaru yang berlaku di dalam ruang lingkup negara Republik Indonesia.
Berkat kerja serius para alumni, maka terbitlah Akte Nomor 18 tanggal 15 Maret 1959. Terbitnya akte tersebut merupakan awal dari lahirnya Yayasan Almuslim Peusangan, sebuah yayasan pendidikan agama Islam di Kecamatan Peusangan.
Mereka yang menjadi inisiator yaitu: Tgk. H.M. Ali Balwi, Teungku Mahyiddin Yusuf, Said Umar Mahmud, Muhammadar, M.Nur Nekmat, Zainal Abidin Syah, Budiman Harun, dan beberapa orang lainnya.
Dalam akte tersebut ditetapkan, Ketua Yayasan Almuslim Peusangan yaitu M.Nur Nekmat. Sekretaris Said Umar Mahmud, dan Bendahara Muhammadar.Pengawas: Ketua Teungku H.M. Ali Balwi, dan Sekretaris Teungku Hasan.para pembantu pengawas yaitu Teungku Mahyiddin Yusuf, Teungku Zakaria Ahmad, dan Teungku Ismail Ibrahim.
Sejak saat itu, sebutan Jamiah Almuslim Peusangan, resmi berubah menjadi Yayasan Almuslim Peusangan.
BACA: Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 1)
Sejarah Berdirinya Universitas Almuslim (Part 2)
Cita-cita revitalisasi organisasi pendidikan dan pergerakan tersebut terus bergema. Dalam Musyawarah Besar yang digelar pada November 1979, aspirasi yang sama kembali didengungkan. Supaya cita-cita tersebut terwujud, para pemilik suara memilih stuktur baru untuk menjalankan mandate organisasi.
H.M.Nur Nekmat didapuk sebagai Ketua Majelis Pertimbangan YAP. Sekretaris MP YAP Teungku Nurdin Ismail. Adapun Badan Pelaksana YAP, Ketua M.A. Jangka. Sekretaris M.Thaib Saidy, dan Bendahara Chalil Ibrahim.
Sebagai Ketua YAP, M.A. Jangka terus menggelorakan cita-cita besar revitalisi hingga masa jabatannya selesai pada 1984. Setelah dipilih lagi untuk periode 1984-1993, cita-cita tersebut diwujudkan satu persatu.
Lahirnya STIT Almuslim dan Perlawanan Petinggi Malikussaleh
Lahirnya STIT di lingkungan YAP, mengusik sejumlah pejabat Aceh Utara. Mereka terusik karena sedang mengupayakan kemajuan untuk Perguruan Tinggi Malikussaleh. Pada tahun 1969,pejabat Aceh Utara telah berhasil mendirikan Sekolah Tinggi Ilmu Agama jurusan Syariah yang didirikan dengan Surat Keputusan Bupati/Kepala Daerah Tingkat II Aceh Utara Nomor: 01/TH/1969 tanggal 12 Juni 1969, pada masa Bupati Drs. Tgk. Abdul Wahab Dahlawy.
Kemudian mereka mendirikan Yayasan Perguruan Tinggi Islam (YPTI). YPTI lahir berdasarkan Akta Notaris Nomor: 15 tanggal 17 Juli 1971. Dibentuk sebagai badan yang bertanggung jawab terhadap pengembangan Akademi Ilmu Agama yang telah eksis.
Kemudian dengan Surat Keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Islam Nomor: 001/YPTI/1971 tanggal 1 Agustus 1971, Akademi Ilmu Agama diubah namanya menjadi Perguruan Tinggi Islam dengan sejumlah akademi di bawahnya; Akademi Syariah, Akademi Ilmu Politik, Akademi Tarbiyah, serta jurusan Dayah Tinggi/Pesantren Luhur.
Perguruan Tinggi Islam ini mengalami perubahan nama lagi menjadi Perguruan Tinggi Islam Malikussaleh (disingkat dengan sebutan PERTIM), melalui Surat Keputusan Yayasan Perguruan Tinggi Islam tanggal 24 Mei 1972. Tahun 1980 menjadi Yayasan Universitas Malikussaleh dengan singkatan UNIMA.
Di tengah upaya keras memajukan UNIMA oleh para pejabat dan tokoh, tiba-tiba sesuatu yang serupa lahir di Peusangan. Mereka mengajukan protes. Tapi M.A. Jangka menjalankan konsep sekali layar terkembang surut berpantang. Meunyoe katajak, hana igoe atret.
Pun demikian, tetap diperlukan siasat supaya misi tercapai.Dengan kemampuan lobi, M.A. Jangka berhasil meyakinkan pejabat Aceh Utara bahwa Almuslim hanya mendirikan STIT. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah belum ada di lingkungan UNIMA.
Lewat perdebatan alot, pihak Lhokseumawe dapat memakluminya. Apalagi melihat figur Timur Tengah pada Iljas Daoed dan H. Jakfar Jusuf. Tapi, lagi – lagi, setahun selanjutnya, Almuslim kembali melahirkan sekolah tinggi baru, yaitu Sekolah Tinggi Pertanian (STP). Pihak Malikussaleh berang luar biasa.
Pengelola Malikussaleh menilai bila pihak Peusangan tidak memiliki semangat yang sama dengan mereka. Masih dalam bingkai Aceh Utara, tapi sudah berselisih pandangan. Seharusnya pihak Peusangan ikut membesarkan Malikussaleh, bukan malah mengembosinya dengan cara mendirikan sekolah tinggi di Matangglupmpangdua.
Usul baru pun muncul, kedua belah pihak bernegosiasi. Lahir ide untuk memindahkan STP Almuslim ke Malikussaleh dan membawa Sekolah Tinggi Syariah ke Almuslim. Dari rapat ke rapat ide tersebut terus mengemuka. Tapi tak kunjung disepakati.
Pada sebuah musyawarah di YAP, tokoh Peusangan Sayed Umar yang saat itu Kabag Kepegawaian Aceh Utara, ketika jelang salat Asar, menentang keras ide tukar guling itu. “Bila kelak ayah dan ibu kalian meninggal, apakah nanti yang menyalatkan adalah orang Matang?!” katanya dengan suara melengking. Setelah mengucapkan itu, Sayed Umar keluar menunaikan salat Asar. Dia tidak masuk lagi. Setelah itu ide tersebut buyar.
Tidak cukup puas dengan kehadiran Almuslim di barat Aceh Utara, sekali lagi, pihak Malikussaleh melakukan gerakan. Ketika TD Yoesoef menjabat Rektor pertama Malikussaleh (1986-1994), mereka membuka kelas FKIP di SMA 2 Bireuen. Kepala SMA 2 Bireuen memberikan ruang sekolah yang ia pimpin sebagai kelas jauhnya FKIP Malikussaleh.
Pembukaan kelas jauh Malikusaleh di SMA 2 Bireuen, dianggap sebagai aksi sabotase oleh pengurus YAP. Dipimpin oleh Norman Yusuf, selaku Ketua Senat Mahasiswa Almuslim, ia bersama teman-temannya melakukan aksi cowboy.
Dengan menumpang Suzuki Carry pick up, Norman Yusuf dan kawan-kawan berangkat ke SMA 2 Bireuen. Tiba di SMA itu, sebagian pengurus Senat mengadang di jalan masuk ke sekolah. Mereka membagikan brosus STIT YAP. Kepala SMA 2 Bireuen kaget melihat peristiwa yang terjadi di halaman sekolah yang ia pimpin. Dia pun keluar ruangan dengan maksud mencegah aksi lebih lanjut.
Para pengurus Senat bertindak nekat. Mereka melempar brosur ke wajah sang kepala sekolah. Melihat situasi tidak kondusif, sang guru kepala mengambil langkah persuasif. Dia memilih mundur supaya tidak terjadi ketegangan lebih lanjut.
Aksi Norman Yusuf dan kawan-kawan menghentikan upaya “okupasi” pihak Malikussaleh ke Bireuen berbuah hasil. Sejak saat itu kelas jauh FKIP Malikussaleh tidak pernah wujud di Bireuen.
(Bersambung)




