Wednesday, 14 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Featured

Milisi Houthi Hujani Rudal ke Riyadh, Koalisi Saudi Balas Gempur Sanaa

milisi houthi serang Bandara Riyadh.
Bandara Riyadh diserang Houthi, Kamis (8/10/2026). (Social Media via REUTERS/Social Media)

Komparatif.id,Riyadh — Serangan milisi Houthi ke sejumlah objek vital Arab Saudi, menyebabkan jazirah Arab berada dalam status siaga tinggi. Milisi Houthi Yaman menyerang menggunakan rudal balistik dan drone. Salah satu yang diserang yaitu markas besar perusahaan minyak Saudi Aramco.

Serangan terhadap Saudi dimulai sejak 6 Oktober 2026. Milisi Houthi menjatuhkan bom ke Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Serangan yang terjadi pada Minggu, 10 Oktober 2026 tersebut menyebabkan 13 warga sipil tewas. 300 orang dilaporkan mengalami luka.

Berdasarkan laporan, serangan terhadap sejumlah bandara di Arab Saudi telah menyebabkan 20 orang dilaporkan meninggal dunia. Meskipun KBRI dan Kementerian Luar Negeri RI mengonfirmasi bahwa tidak ada warga negara Indonesia yang meninggal dunia, namun dua orang WNI mukimin (menetap) mengalami luka-luka dan sedang dirawat di Rumah Sakit Sulaiman Habib Riyadh. Pemerintah Indonesia kini tengah mematangkan rencana kontingensi kedaruratan bagi sekitar 581.000 WNI yang berada di Arab Saudi.

BACA: Konflik Arab Saudi dan Houthi Meningkat, 5 Warga Sipil Tewas

Serangan milisi Houthi menyebabkan ibukota Saudi; Riyadh, lumpuh. Layanan penerbangan ke Riyadh ditutup hingga situasi membaik. Kantor dan sekolah diintruksikan dijalankan secara online.

Milisi Houthi tidak puas hanya dengan menyerang sektor penerbangan. Mereka juga membombardir markas Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional Arab Saudi.

Juru Bicara Houthi, Yahya Saree, dalam siaran persnya menyampaikan pihaknya meminta warga sipil menjauh dari infrastruktur energi tersebut. Sementara itu Kementerian Energi melaporkan sebuah rudal balistik berhasil menembus lantai atas gedung kantor pusat Saudi Aramco di Dhahran, wilayah timur Saudi. Serangan tersebut kebakaran terbatas namun berhasil dipadamkan tanpa korban jiwa.

Sementara itu, pada Selasa, 14 Oktober 2026, sistem pertahanan udara Saudi berhasil menangkis proyektil di atas langit Riyadh. Akan tetapi debris (serpihan) rudal yang jatuh tetap melukai empat warga sipil. Korban luka tersebut terdiri dari dua perempuan, satu pria, dan satu anak-anak. 15 rumah warga dilaporkan rusak.

Koalisi Saudi Gempur Sanaa untuk Menekan Milisi Houthi

Arab Saudi tidak tinggal diam. Bersama koalisinya, mereka menggelar serangan balasan. Serangan udara yang agresif dilakukan ke Sanaa, ibukota Yaman yang berada dalam kekuasaan Houthi.

Berdasarkan laporan dari Al Masirah—media milik Houthi), Koalisi Saudi mengebom fasilitas bahan bakar al-Suhaba milik perusahaan minyak Yaman. Menurut Koalisi,

perang udara antara Saudi dan Yaman membuat dunia gelisah. Ketegangan yang terus meluas di Laut Merah dekat Selat Bab al-Manab, berpotensi memicu kekhawatiran global atas stabilitas pasokan energi dunia jelang musim dingin.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengecam keras tindakan Houthi. Trump menuding bahwa eskalasi sengaja ditingkatkan oleh milisi tersebut demi memicu lonjakan harga minyak global di tengah momentum politik internasional.

Tekanan kini berada di pihak Washington dan sekutu Barat mengenai opsi apakah militer AS akan turun tangan secara langsung guna membantu pertahanan udara Kerajaan Arab Saudi?

Sumber: Al-Jazeera, DW.com, The Guardian, Reuters, Vietnam.vn.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *