Monday, 12 October 2026

Komparatif.ID

Situs Berita Aceh Inspirasi Indonesia

Wisata

Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman

Menikmati Syahdunya Masjid Raya Baiturrahman
Masjid Raya Baiturrahman. Foto: Komparatif.ID/Rizki Aulia Ramadan.

Komparatif.ID, Banda Aceh– Masjid Raya Baiturrahman bukan sekadar bangunan megah dengan kubah dan payung elektrik raksasa di jantung Kota Banda Aceh. Di balik tampilannya yang kini menjadi salah satu ikon wisata religi Aceh, masjid ini menyimpan perjalanan panjang yang berkelindan dengan sejarah perang, pembangunan kembali, hingga bencana tsunami 2004.

Bagi masyarakat Aceh, masjid ini lebih sekadar dari tempat ibadah. Sejak masa awal, fungsinya berkaitan dengan pendidikan agama serta kehidupan sosial dan budaya. Karena itu, tidak mengherankan jika masjid ini terus ramai dikunjungi, baik oleh jemaah maupun wisatawan yang ingin melihat langsung bangunan yang menjadi pemandangan khas ibu kota Provinsi Aceh itu.

Sejarah Masjid Raya Baiturrahman

Sejarah awal masjid ini memiliki beberapa versi. Salah satu riwayat menyebut masjid pertama dibangun pada 1292 Masehi pada masa Sultan Alaidin Mahmudsyah dengan konstruksi kayu.

Riwayat lain mengaitkan pembangunan atau pendirian kembali masjid dengan masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), saat Kesultanan Aceh berada di puncak kejayaan. Bangunan awalnya bercorak arsitektur Aceh, berbentuk persegi dengan atap bertingkat menyerupai piramida atau meru, serta dikelilingi beberapa lapis benteng.

Perjalanan masjid tidak lepas dari Perang Aceh. Pada 10 April 1873, pasukan Belanda menyerang Banda Aceh. Kawasan masjid dimanfaatkan masyarakat sebagai salah satu titik pertahanan.

Dalam ekspedisi pertama Belanda, Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler tewas di sekitar halaman masjid. Pada ekspedisi berikutnya di bawah Jenderal Jan van Swieten, kawasan itu kembali menjadi medan pertempuran dan bangunan masjid akhirnya terbakar.

Setelah itu, pemerintah kolonial menyadari besarnya arti masjid bagi masyarakat Aceh. Pembangunan kembali dimulai pada 1879 dengan peletakan batu pertama yang disebut dilakukan Tengku Malikul Adil.

Belanda menghadirkan gaya Indo-Saracenic atau Mughal, dengan kubah dan elemen arsitektur yang terinspirasi dari kawasan India dan Persia. Pembangunan rampung pada 27 Desember 1881. Pada awalnya, sebagian masyarakat Aceh disebut menolak beribadah di sana, tetapi seiring waktu masjid kembali menjadi bagian penting kehidupan warga Banda Aceh.

Masjid kemudian beberapa kali diperluas. Semula hanya memiliki satu kubah, lalu bertambah menjadi tiga pada sekitar 1935-1936. Pada 1957, berdasarkan keputusan Menteri Agama tertanggal 31 Oktober 1957, masjid kembali diperluas hingga memiliki lima kubah. Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah kubah menjadi tujuh, dilengkapi beberapa menara.

Kisah yang paling lekat dalam ingatan banyak orang terjadi pada 26 Desember 2004. Gempa bumi dahsyat yang disusul tsunami menghantam pesisir Aceh dan menyebabkan kerusakan sangat parah di Banda Aceh.

Foto: HO for Komparatif.ID.

Di tengah kehancuran itu, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri. Bangunannya memang terdampak, tetapi secara umum tetap tegak dibandingkan banyak bangunan lain di sekitarnya.

Kawasan masjid juga menjadi tempat berlindung bagi warga yang selamat dari terjangan gelombang. Sejak itu, masjid ini dipandang sebagai salah satu simbol keteguhan masyarakat Aceh.

Setelah tsunami, masjid mengalami pembenahan. Revitalisasi besar dilakukan pada periode 2015-2017, ketika halaman ditata kembali dengan lantai marmer dan dipasang 12 payung elektrik berukuran besar.

Payung-payung itu membuat halaman tampak semakin megah dan desainnya mengingatkan pada payung elektrik di kawasan Masjid Nabawi, Madinah.

Kesan itu juga dirasakan Eva (34), warga Bireuen, yang berkunjung ke Banda Aceh pada Sabtu (26/9/2026) untuk menghadiri wisuda adiknya.

Menurut Eva, Masjid Raya Baiturrahman sudah ia masukkan dalam daftar tempat yang paling ingin dikunjungi sebelum berangkat. Di sela kesibukan mengikuti acara wisuda, ia menyempatkan diri melaksanakan salat zuhur di sana.

“Sebelum berangkat ke Banda Aceh, saya memang sudah niat mau mampir ke Masjid Raya. Ini salah satu tempat yang paling ingin saya kunjungi,” ujar Eva.

Soal suasana, ia menyebut masjid ini memberi ketenangan. “Rasanya menenangkan dan nyaman. Apalagi ada payung-payung besar yang melindungi jemaah dari panasnya Banda Aceh,” katanya sambil tertawa.

Eva juga mengaku takjub mengetahui masjid sebesar itu menjadi tempat berlindung ketika tsunami melanda. “Masjid sebesar ini dulu jadi salah satu tempat berlindung waktu Banda Aceh diterjang tsunami tahun 2004. Rasanya takjub sekali,” ujarnya.

Dari sisi fasilitas, ia menilai masjid ini cukup lengkap sehingga memudahkan pengunjung beribadah dan beristirahat. Ia pun berencana kembali. “Kalau ada kesempatan ke Banda Aceh lagi, saya pasti datang ke sini lagi,” katanya.

Dengan nilai sejarah, arsitektur, dan fasilitas yang tersedia, Masjid Raya Baiturrahman menjadi salah satu tujuan wisata religi yang layak dikunjungi saat berada di Banda Aceh.

Tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *