Setiap 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan. Momentum ini biasanya membawa ingatan kita kembali kepada perjuangan para pejuang yang mempertaruhkan tenaga, pikiran, bahkan kehidupan demi mempertahankan kemerdekaan.
Namun, setelah kemerdekaan berhasil diraih, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: siapa yang meneruskan perjuangan itu hari ini?
Jawabannya tidak selalu berada di medan perang. Sebagian perjuangan itu berlangsung di ruang-ruang kelas, di sekolah-sekolah, di pelosok desa, bahkan di rumah-rumah sederhana tempat seorang guru mendampingi anak belajar.
Karena itu, memperingati Hari Pahlawan semestinya juga menjadi momentum untuk melihat guru sebagai salah satu wajah penting kepahlawanan masa kini.
Pahlawan tidak selalu mereka yang mengangkat senjata. Ada pula mereka yang mengangkat buku, membuka jendela pengetahuan, menumbuhkan keberanian untuk bermimpi, dan mendampingi generasi muda agar mampu menentukan masa depannya sendiri.
Dalam konteks inilah guru layak disebut sebagai pahlawan pendidikan.
Gagasan tersebut bukan sesuatu yang baru. Sejarah pendidikan Indonesia telah menunjukkan bahwa perjuangan mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan bagian penting dari perjuangan kemerdekaan. Salah satu tokoh yang memperlihatkan hubungan erat antara perjuangan kebangsaan dan pendidikan adalah Ki Hadjar Dewantara.
Ki Hadjar Dewantara tidak hanya dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Sebelum berkecimpung secara mendalam dalam pendidikan, ia merupakan tokoh pergerakan yang aktif memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Ia pernah mendirikan Indische Partij bersama Douwes Dekker dan dr. Cipto Mangunkusumo. Setelah itu, perjuangannya semakin kuat diarahkan melalui pendidikan. Ia mendirikan Taman Siswa dengan gagasan bahwa pendidikan harus dapat diakses masyarakat luas, bukan hanya kalangan bangsawan atau kelompok tertentu.
Di sinilah makna kepahlawanan pendidikan menjadi relevan. Seorang guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Ia memiliki tanggung jawab untuk membentuk manusia. Pendidikan bukan sekadar membuat anak mampu menjawab soal matematika, menghafal konsep sains, atau memahami tata bahasa.
Pendidikan seharusnya membantu anak menjadi manusia yang berkarakter, memiliki kepedulian, mampu berpikir kritis, dan bertanggung jawab terhadap dirinya serta lingkungan.
Ki Hadjar Dewantara telah memberikan dasar pemikiran yang kuat tentang peran pendidik melalui trilogi pendidikan: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani. Di depan, seorang pendidik harus memberikan teladan; di tengah membangun semangat dan prakarsa; sedangkan dari belakang memberikan dorongan. Prinsip tersebut tetap relevan dalam pendidikan Indonesia hingga sekarang.
Masalahnya, tantangan guru hari ini jauh berbeda dengan masa perjuangan kemerdekaan. Guru menghadapi perubahan teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, arus informasi yang begitu cepat, perubahan karakter peserta didik, serta tantangan sosial yang semakin kompleks.
Anak-anak sekarang hidup dalam lingkungan yang berbeda. Informasi dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon. Pengetahuan tidak lagi hanya berada di buku atau di tangan guru. Karena itu, guru tidak cukup hanya menjadi sumber informasi.
Guru perlu menjadi pendamping, fasilitator, teladan, sekaligus pembimbing yang membantu peserta didik memilah informasi dan menggunakannya secara bijak.
Di sinilah kepahlawanan guru diuji
Guru yang menjadi pahlawan pendidikan bukan berarti guru yang tidak pernah mengalami kesulitan. Justru kepahlawanan itu terlihat ketika seorang guru tetap berusaha menghadirkan pembelajaran bermakna meskipun sarana terbatas. Ia mencari cara agar anak yang tertinggal tidak merasa ditinggalkan.
Ia berusaha memahami murid yang memiliki karakter dan kemampuan berbeda. Ia memberi kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama. Ia tidak mudah memberikan label “bodoh” kepada peserta didik yang belum berhasil. Pahlawan pendidikan adalah guru yang memahami bahwa setiap anak memiliki potensi.
Dalam konteks pendidikan yang semakin menekankan pemerataan dan kualitas, gagasan tersebut menjadi semakin penting. Pedoman peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025 bahkan menegaskan pentingnya memperkuat komitmen seluruh insan pendidikan terhadap pendidikan yang strategis bagi peradaban dan daya saing bangsa. Tema “Partisipasi Semesta Wujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua” juga menunjukkan bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab guru, melainkan tanggung jawab bersama.
Artinya, penghormatan kepada pahlawan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan memberikan ucapan pada Hari Guru. Penghormatan yang lebih bermakna adalah menciptakan ekosistem pendidikan yang memungkinkan guru menjalankan tugasnya dengan baik.
Guru membutuhkan ruang untuk terus belajar. Mereka perlu didukung agar mampu mengembangkan kompetensi pedagogik, memanfaatkan teknologi, menerapkan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan murid, dan membangun budaya sekolah yang aman serta menyenangkan.
Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu mengembalikan penghargaan terhadap profesi guru. Kritik terhadap pendidikan tentu diperlukan, tetapi kritik hendaknya diarahkan untuk memperbaiki sistem, bukan untuk merendahkan orang-orang yang setiap hari berhadapan langsung dengan kompleksitas dunia pendidikan.
Lebih jauh lagi, orangtua dan masyarakat juga merupakan bagian dari perjuangan pendidikan. Ki Hadjar Dewantara memandang pendidikan sebagai proses yang tidak hanya berlangsung di sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat memiliki peran penting dalam membentuk karakter anak.
Kajian mengenai pemikiran Ki Hadjar Dewantara juga menempatkan pendidikan sebagai proses humanisasi dan menekankan pentingnya keterlibatan berbagai lingkungan pendidikan.
Karena itu, Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mengibarkan bendera, mengikuti upacara, mengenakan pakaian perjuangan, dan menyanyikan lagu-lagu nasional memang penting untuk menjaga ingatan sejarah. Namun, yang lebih penting adalah menerjemahkan semangat kepahlawanan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi seorang guru, perjuangan itu dapat berupa kesungguhan mempersiapkan pembelajaran. Bagi kepala sekolah, perjuangan itu dapat berupa membangun budaya sekolah yang berpihak kepada murid.
Baca juga: Perahu Hilang Akibat Banjir Harus Terdata BNBA, Nelayan Diminta Cek Usulan
Bagi orangtua, perjuangan itu dapat berupa mendampingi anak dan menjadi teladan di rumah. Bagi peserta didik, perjuangan itu dapat diwujudkan dengan belajar sungguh-sungguh, menghargai orang lain, menjaga persatuan, dan menggunakan pengetahuan untuk kebaikan.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu mengenang para pahlawannya, tetapi bangsa yang mampu meneruskan nilai perjuangannya. Para pejuang kemerdekaan telah berjuang agar bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka. Para pahlawan pendidikan kemudian meneruskan perjuangan itu dengan membangun manusia yang mampu mengisi kemerdekaan.
Hari ini, perjuangan tersebut belum selesai
Masih ada anak yang kesulitan mendapatkan akses pendidikan. Masih ada peserta didik yang merasa tidak percaya diri. Masih ada anak yang belajar dalam keterbatasan fasilitas. Masih ada persoalan karakter, perundungan, kesenjangan pendidikan, serta tantangan penggunaan teknologi yang membutuhkan perhatian bersama. Di tengah persoalan tersebut, guru tetap berdiri di depan kelas.
Mungkin ia tidak mengenakan seragam tentara. Ia tidak membawa senjata. Ia hanya membawa buku, kapur, spodol, papan tulis, perangkat digital, dan yang paling penting: harapan.
Namun, dari tangan seorang guru, sebuah generasi dapat berubah. Dari satu ruang kelas, lahir dokter, petani, insinyur, ulama, pemimpin, pengusaha, seniman, dan berbagai profesi yang kelak membangun negeri.
Karena itu, ketika kita memperingati Hari Pahlawan, sudah semestinya kita memperluas makna kepahlawanan. Pahlawan bukan hanya mereka yang tercatat dalam buku sejarah karena gugur di medan perjuangan. Pahlawan juga mereka yang setiap hari bekerja dalam sunyi untuk memastikan anak-anak Indonesia memiliki masa depan.
Guru adalah salah satunya
Maka, mengenang pahlawan pada 10 November bukan hanya tentang menoleh ke masa lalu. Ia adalah ajakan untuk bertanya kepada diri sendiri: perjuangan apa yang sedang kita lakukan untuk Indonesia hari ini?
Jika para pahlawan dahulu berjuang merebut kemerdekaan, maka tugas generasi sekarang adalah mengisi kemerdekaan melalui ilmu pengetahuan, karakter, kepedulian, dan pendidikan yang bermutu.
Sebab kemerdekaan yang sesungguhnya bukan hanya ketika bangsa terbebas dari penjajahan, tetapi ketika setiap anak memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, bermimpi, dan menjadi manusia yang berguna. Di situlah guru menemukan makna kepahlawanannya, dan di sanalah perjuangan pendidikan harus terus dinyalakan.




