Komparatif.ID, Brussel— Mantan gelandang AS Roma, Radja Nainggolan, mengungkapkan penyesalannya karena tidak memilih membela tim nasional Indonesia di awal kariernya.
“Jika saya bisa mengulanginya lagi, saya sekarang akan ragu untuk memilih tim nasional Indonesia,” kata Radja Nainggolan dalam wawancara dengan Nieuwsblad, media berbahasa Belanda yang berbasis di Belgia, sebagaimana dikutip Komparatif.ID pada Senin (12/10/2026).
Radja Nainggolan melakoni debut bersama timnas Belgia pada 2009. Saat itu, Indonesia masih terasa asing baginya. Ia mengaku tumbuh besar di kawasan Linkeroever di tengah komunitas Afrika dan Maghreb, sehingga budaya Indonesia nyaris tidak ia kenal.
Ayahnya pergi ketika ia berusia sekitar lima tahun dan tidak pernah ia temui lagi. Karena itu, menurut Radja, tidak ada alasan baginya untuk mempertimbangkan Indonesia ketika itu.
Titik awal kedekatannya dengan Indonesia terjadi pada 2013. Radja Nainggolan mengunjungi sejumlah daerah di Indonesia, melatih anak-anak, dan melayani beberapa wawancara. Ia mengaku menikmati pengalaman itu dan mulai menyukai gaya hidup di sana.
Namun, ia sudah terlanjur bermain untuk Belgia. Di sisi lain, ia menilai kiprah di tim nasional Indonesia kala itu tidak istimewa, terlebih liga domestik sempat ditangguhkan FIFA akibat skandal suap.
Nama keluarganya turut menarik perhatian pencinta sepak bola Tanah Air. Kunjungan pertama itu, yang disusul tur bersama AS Roma, memicu rasa penasarannya terhadap akar keluarga. Ia menyebut ada lima ribu orang yang menunggunya di bandara saat berkunjung pada 2013.
Baca juga: Temui Prabowo, Gianni Infantino Sebut FIFA ASEAN Cup 2026 Sukses
Menjelang akhir kariernya, Radja Nainggolan membela klub Italia SPAL atas permintaan mantan rekan setimnya di AS Roma, Daniele De Rossi. Ia sempat berencana pensiun, sampai mantan presiden Inter Milan yang kini memimpin PSSI, Erick Thohir, mengundangnya menjadi duta Piala Dunia U17.
Ia menyebut dua minggu di Indonesia kala itu sangat berkesan. Setelah itu, ia mengaku bingung menentukan langkah berikutnya.
Tawaran bermain di Indonesia kemudian datang. Radja Nainggolan hanya ingin bermain di Jakarta atau Bali, dan akhirnya bergabung dengan Bhayangkara FC selama setengah tahun.
Ia mengaku mendapat penghasilan sekitar 400.000 euro, setara Rp6,87 miliar dengan kurs rata-rata 2024 sebesar Rp17.167, untuk enam bulan. Radja Nainggolan juga mengaku mudah beradaptasi dengan bahasa Indonesia karena dinilainya tidak rumit dan memiliki sejumlah kemiripan dengan bahasa Belanda.
Kontraknya di Bhayangkara FC berakhir pada Juni 2024 dengan catatan 10 pertandingan, satu gol, dan tiga assist, timnya terdegradasi. Ia lalu kembali ke Belgia dan bergabung dengan Lokeren, tetapi mengaku merindukan Indonesia.
Radja Nainggolan menilai atmosfer sepak bola Indonesia luar biasa. Ia mencontohkan sekitar 70 ribu penonton yang memadati stadion untuk laga melawan Vietnam atau Irak. Perputaran uang di sana juga besar, bahkan para pemain disponsori merek-merek mewah seperti Louis Vuitton, Hublot, dan Rolex.
“Saat itu saya tidak memikirkan hal tersebut, tetapi sekarang di usia 38 tahun, saya melihat banyak hal secara berbeda. Saya bisa saja memiliki karier selama lima belas tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” imbuhnya.
