BREAKING
Gaya Hidup

TKN Idhata Peusangan Gelar Pawai Budaya III

TKN Idhata Peusangan Gelar Pawai Budaya III
Salah seorang murid UPTD TKN Idhata Peusangan menggunakan kostum plastik saat pawai budaya, Sabtu (12/9/2026). Foto: HO for Komparatif.ID.

Komparatif.ID, Bireuen— Suasana berbeda terlihat di sepanjang Jalan Banda Aceh-Medan, Kecamatan Peusangan, Bireuen, Sabtu (12/9/2026). Ratusan peserta dari UPTD TKN Idhata Peusangan mengikuti Pawai Budaya ke-3 dengan mengusung tema “Negeriku”.

Pawai yang digelar UPTD TKN Idhata di Jalan Mon Eungkot, Keude Matang Geuleumpang Dua, tersebut diikuti sekitar 150 murid bersama orang tua.

Kepala UPTD TKN Idhata, Ruhyati, S.Pd., mengatakan tema “Negeriku” dipilih untuk mengenang jasa para pahlawan atas kemerdekaan yang dirasakan masyarakat saat ini.

Selain itu, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan anak-anak terhadap keberagaman budaya yang ada di Indonesia.

“Kami mengusung tema Negeriku untuk mengenang jasa para pahlawan atas nikmat kemerdekaan yang kita rasakan saat ini, serta mengenalkan kepada para murid tentang keberagaman budaya di 38 provinsi,” jelas Ruhyati.

Menurutnya, keberagaman suku, bahasa, adat, dan budaya merupakan bagian yang menyatukan masyarakat Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Rangkaian pawai dimulai dari depan Pos Kecamatan Peusangan. Peserta kemudian berjalan ke arah barat dan berhenti di depan minimarket Fatin dengan jarak tempuh sekitar 500 meter.

Baca juga: Ini Daftar Pemenang Pawai Budaya HUT ke-81 RI di Bireuen

Setelah itu, rombongan berputar kembali ke arah timur hingga berhenti di terminal dengan jarak tempuh sekitar 700 meter, sebelum akhirnya kembali dan berakhir di Pos Kecamatan Peusangan.

Grup drumband menjadi pembuka rombongan pawai. Penampilan mereka mengiringi perjalanan peserta sekaligus menarik perhatian masyarakat yang menunggu di kiri dan kanan badan jalan nasional Banda Aceh-Medan.

Setelah rombongan drumband, pawai dilanjutkan dengan barisan murid yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam kostum tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memperkenalkan keberagaman budaya kepada anak-anak melalui kegiatan yang dilakukan secara langsung.

Ruhyati mengapresiasi partisipasi para wali murid yang turut mendampingi anak-anak dalam kegiatan tersebut. Ia juga menilai penampilan para murid berlangsung dengan baik dan mendapat respons dari masyarakat yang menyaksikan pawai.

“Saya mengapresiasi partisipasi semua wali murid, penampilan anak-anak semua bagus, bahkan berulang kali disoraki oleh penonton karena gemas. Ada yang cewek dandanannya cantik, tapi ketiduran karena bangun lebih awal,” ungkapnya.

Selain pakaian adat, sejumlah murid juga mengenakan kostum yang dibuat dari kantong plastik atau plastik kresek yang didaur ulang. Menurut Ruhyati, penggunaan bahan tersebut menjadi pilihan agar kostum dapat dibuat dengan biaya yang tidak mahal, tetapi tetap terlihat menarik.

Ia menjelaskan, penggunaan plastik bekas dalam kostum juga memiliki pesan untuk mengenalkan kepada anak-anak bahwa sampah plastik masih dapat dimanfaatkan kembali dan tidak harus langsung dibuang.

“Pesan utamanya, sampah plastik bisa dimanfaatkan lagi, bukan langsung dibuang. Jadi ajakan untuk mengurangi sampah dan mendaur ulang,” jelasnya.

Kantong plastik yang memiliki warna mengilap dan dibentuk secara berlapis membuat kostum terlihat mencolok ketika dikenakan dalam pawai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *